PENYULUHAN GIZI DAN PEMBERIAN KETRAMPILAN KREASI NUGGET BERGIZI KEPADA IBU BALITA UNTUK MENCEGAH KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH GUNUNGPATI

  • Sus Widayani
  • Bambang Triatma
  • Bambang Sugeng
Keywords: kreasi nugget lele, gemar makan ikan, stunting

Abstract

Bahaya stunting mengancam anak-anak Indonesia. Jika situasi tersebut dibiarkan, anak anak akan menjadi generasi yang hilang. Stunting adalah ketika balita lebih pendek dari umurnya, disebabkan karena kekurangan gizi yang lama di 1000PHK dari janin sampai usia 2 tahun. Perkembangan fisik dan otak anak stunting menjadi terhambat dan rentan terhadap penyakit, berakibat sulit berprestasi. Ketika dewasa mudah mengalami kegemukan sehingga beresiko mengalami penyakit jantung, diabetes, hipertensi, dan penyakit tidak menular lainnya. Pada usia produktif anak sunting berpenghasilan 20% lebih rendah dibandingkan dengan anak yang optimal pertumbuhannya. Anak stunting menurunkan produk domestik bruto negara sebesar 3%. Bagi Indonesia kerugian akibat anak sunting mencapai Rp 300 T pertahun. Namun masih ada jalan keluar dan bisa dicegah dengan meningkatkan status gizi pada anak-anak. Sangat perlu sekali untuk mencegah stunting yang salah satunya dengan melakukan pengabdian untuk membantu ibu balita memberikan suplay makanan bergizi kepada anak balitanya supaya sehat dan berstatus gizi baik sehingga mampu mencegah kejadian stunting di wilayahnya.

Stunting diakibatkan anak kekurangan asupan gizi dari janin sampai 2 tahun. Pada masa itu diharap ibu balita mampu memenuhi kebutuhan pangan yang sehat. Kesehatan anak dapat terwujud apabila anak berstatus gizi baik, yang salah satunya dicerminkan dari konsumsi protein hewani (Kementrian Kesehatan RI. 2014). Ikan banyak mengandung protein dan mineral. Namun pangan tersebut tidak digemari anak-anak balita, karena berbau hanyir (amis), cara pengolahannya membosankan dan tidak bervariatif (digoreng saja). Studi pendahuluan Widayani dan Triatma (2012), anak balita di wilayah lingkar kampus UNNES (60,6%) tidak suka makan ikan, konsumsi ikan sangat rendah (19,9 g/hari) setara dengan 39,8% dari anjuran WHO. Penguatan dengan kurangnya perhatian terhadap konsumsi anak, dan seringkali anak makan hanya mengikuti kesenangan semata. Didukung pula dengan rendahnya tingkat konsumsi ikan masyarakat kota Semarang (11,3 kg/tahun/kapita yang seharusnya 31,4 kg/tahun/kapita). Apabila kondisi tersebut dibiarkan berlarut, maka anak balita akan tumbuh menjadi anak yang tidak suka makan ikan sehingga pemenuhan kebutuhan protein hewani dalam tubuh kurang. 

Hasil penelitian Widayani, Triatma, dan Martiana (2015), konsumsi sosis dan nugget lele 50 g perhari mampu meningkatkan status gizi anak balita. Ikan air tawar sangat baik untuk kontribusi perkembangan otak anak balita dan aman dikonsumsi. Widayani dan Triatma (2012) memaparkan, ikan lele paling banyak dikonsumsi karena mudah didapat dan murah. Fenomena di lapangan menggelitik hati pengabdi untuk memberikan penyuluhan gizi dan meningkatkan ketrampilan para ibu balita membuat kreasi nugget lele bergizi. Penyuluhan gizi yang diberikan menambah semangat dan antusias para ibu balita untuk lebih banyak membuka wawasan tentang konsumsi ikan dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan anak dan perkembangan otak di masa Golden age. Praktikum pembuatan nugget menambah semangat ibu-ibu balita. Ibu-ibu balita berharap untuk diberikan ketrampilan mengolah ikan supaya anak-anak suka mengkonsumsi ikan.  Ikan sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perkembangan otak anak dan mencegah kejadian sunting. Ada perubahan mindset ibu ibu setelah penyuluhan gizi dan pemberian ketrampilan nugget kreasi pada ibu-ibu balita. Para ibu berharap untuk diberikan kembali penyuluhan dan praktikum pengolahan ikan dan makanan bergizi secara berkala. Harapan di masa mendatang agar anak-anak gemar makan ikan sehingga terwujud masyarakat sadar gizi.

Published
2018-12-06