Persepsi Guru di Sekolah Pinggiran Tentang Kurikulum 2013

  • Akhmad Junaedi Pendidilkan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang
Keywords: Persepsi; Kurikulum 2013; Guru.

Abstract

Sistem pendidikan di Indonesia di kenal sering mengganti kurikulum dengan berbagai alasan. Mulai dari
rendahnya kualitas peserta didik, sampai pada alasan karakter siswa yang tidak begitu bagus pada era modern ini. Kurikulum yang sering berganti memiliki karakteristik masing-masing. Misalnya saja KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang dikembangkan berdasarkan keunggulan lokal masing-masing daerah, artinya bahwa daerah memiliki kesempatan untuk bersaing dengan daerah lain. KTSP lahir pada tahun 2006. Namun, kurikulum itu tidak bertahan lama. Pada tahun 2012 mulai digantikan dengan gagasan kurikulum baru.Kurikulum baru tersebut adalah kurtilas atau kurikulum 2013. Guru dan kepala sekolah dituntut untuk memahami aturan baru dalam kurikulum. Upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan pelatihan pada guru dan kepala sekolah. Dalam pelaksanaannya ternyata banyak kendala yang dihadapi, misalnya saja kurang alokasi waktu dalam pelatihan, kurangnya sarana dan prasarana. Kendala tersebut sangat dirasakan oleg guru yang mengajar di SD Pinggiran, khususnya Kabupaten Tegal. Berdasarkan hasil penelitian guru di SD Pinggiran Kabupaten Tegal memiliki persepsi tentang kurikulum 2013 sangat baik sebanyak 2,96%, baik 37,77%, cukup 32,59 dan kurang 26,66%. Data tersebut menunjukan bahwa guru masih belum menganggap kurikulum ini baik sepenuhnya. Persepsi yang diberikan masih tinggi diangka kurang dan cukup. Mereka tentu saja memiliki alasan yang logis dalam menyampaikan persepsi.

Published
2020-01-09