Hegemoni Sosial, Budaya, Dan Kekuasaan Wacana Sastra Buku Teks Bahasa Indonesia SMA

  • Mafrukhi Mafrukhi Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Indonesia
  • Rustono Rustono Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Indonesia
  • Subiyantoro Subiyantoro Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Indonesia
  • Muh. Doyin Pascasarjana Universitas Negeri Semarang, Indonesia
Keywords: wacana sastra, pembebasan, hegemoni

Abstract

Dalam praktiknya, penulis buku teks pelajaran melakukan hegemoni melalui wacana dalam buku teks pelajaran bahasa Indonesia. Menurut Gramsci hegemoni adalah kondisi sosial dalam semua aspek kenyataan sosial yang didominasi atau disokong oleh kelas tertentu. Dalam pandangan Gramsci, hegemoni kekuasaan yang dijalankan oleh alat-alat negara dengan jitu dan jeli bisa membuat rakyat yang ada di dalam kuasanya menjadi tenteram, dan aman dalam penindasannya. Menurut Kristanto, hegemoni tidak tampil dalam wajah seram, tetapi halus memikat siapa saja yang ada di sekitarnya, bahkan akhirnya mereka takluk mutlak dalam tangan kekuasaan.Rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut (1) bagaimanakah hegemoni sosial dalam wacana sastra buku teks pelajaran bahasa Indonesia SMA, (2) bagaimanakah hegemoni budaya dalam wacana sastra buku teks pelajaran bahasa Indonesia SMA, dan (3) bagaimanakah hegemoni kekuasaan dalam wacana sastra buku teks pelajaran bahasa Indonesia SMA? Sebagaimana pandangan Fairclough, wacana sastra dalam buku Bahasa Indonesia Kelas X, XI, dan XII dilihat sebagai praktik sosial. Ada hubungan dialektis antara praktik diskursif dengan identitas dan relasi sosial. Wacana sastra dalam penelitian ini dianalisis dalam tiga dimensi: teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural. Fairclough juga berpendapat bahwa wacana dibentuk oleh hubungan-hubungan kemampuan dan ditanamkan dengan ideologi, sehingga pembentukan wacana berada di ujung tanduk dalam perjuangan kekuasaan. Dengan menggunakan pandangan Fairclough, wacana sastra dalam buku Bahasa Indonesia X, XI, dan XII dapat diklasifikasikan ke dalam hegemoni sosial, budaya, dan kekuasaan. Pembahasan wacana sastra dalam hegemoni sosial menganalisis (a) wacana sebagai realisasi interaksi sosial, (b) wacana mengendalikan atau mengontrol perilaku dan kehidupan material, (c) wacana menciptakan dan menjaga batas-batas kuasa, status, dan peran kehidupan sosial. Pembahasan wacana sastra dalam hegemoni budaya menganalisis (a) makna diproduksi secara simbolik, (b) pengetahuan terikat pada nilai-nilai tertentu, (c) wacana budaya bersifat interdisipliner. Pembahasan wacana sastra dalam hegemoni kekuasaan menganalisis (a) kekuasaan mempengaruhi kehidupan manusia sehari-hari, dan (b) kekuasaan dipandang sebagai kekuatan koersif. Wacana sastra itu diproduksi dan ditafsirkan pembaca sebagai pembebasan hegemoni sosial, budaya, dan kekuasaan.

Published
2020-01-12