Strategi Pembelajaran IPA Berbasis Laboratorium dalam Meningkatkan Keterampilan Kerja Ilmiah Siswa SMP
Abstract
Rendahnya penguasaan keterampilan kerja ilmiah siswa di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)
merupakan permasalahan yang memerlukan perhatian serius, mengingat masih terbatasnya pengalaman
belajar berbasis laboratorium yang diterapkan secara terencana dan berbasis inkuiri. Penelitian ini
bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi strategi pembelajaran IPA berbasis
laboratorium dalam mengembangkan keterampilan kerja ilmiah siswa SMP, sekaligus mengidentifikasi
faktor-faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi efektivitasnya. Penelitian dilaksanakan
dengan pendekatan kuantitatif deskriptif menggunakan instrumen kuesioner terstruktur berisi 15 butir
pernyataan yang terbagi dalam dua variabel: (1) strategi pembelajaran IPA berbasis laboratorium,
mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan, dan ketersediaan fasilitas; serta (2) keterampilan kerja
ilmiah, yang meliputi keterampilan dasar (observasi, klasifikasi, komunikasi), keterampilan proses
(prediksi, hipotesis, interpretasi data), dan keterampilan lanjutan (perancangan percobaan dan penerapan
konsep). Responden berjumlah 30 siswa SMP Negeri 11 Semarang kelas VII–IX yang dipilih melalui
teknik purposive sampling. Data diolah menggunakan perangkat lunak SPSS dengan analisis statistik
deskriptif. Uji reliabilitas instrumen menunjukkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,821 (reliabel), dan
uji normalitas Shapiro-Wilk menghasilkan nilai signifikansi p = 0,212 (p > 0,05, data berdistribusi
normal). Hasil analisis menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam praktikum sudah cukup baik
(83,3%), namun penggunaan panduan berbasis inkuiri terbimbing masih sangat rendah (40,0%). Profil
keterampilan kerja ilmiah siswa menurun secara konsisten seiring meningkatnya jenjang: dari
keterampilan dasar (60,0%–73,3%) hingga keterampilan lanjutan (36,7%–50,0%). Hambatan utama
berupa keterbatasan fasilitas laboratorium (70,0%) dan minimnya panduan berbasis inkuiri. Temuan ini
menegaskan bahwa kualitas desain pedagogis berbasis inkuiri lebih berdampak signifikan terhadap
pengembangan keterampilan kerja ilmiah dibandingkan kelengkapan infrastruktur semata.