https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/issue/feedProceeding Seminar Nasional IPA2026-09-27T15:20:34+07:00Open Journal Systems<p>ISSN 2962-2905</p>https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5425PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT BERBASIS GAMIFIKASI DIGITAL TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATERI GELOMBANG CAHAYA2026-09-15T16:50:27+07:00Rahil Nurul Fadilah[email protected]I Made Astra[email protected]Andreas Handjoko Permana[email protected]<p>Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) mendorong siswa untuk<br>belajar melalui kerja sama kelompok, diskusi, dan kompetisi yang sehat guna meningkatkan<br>keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Seiring perkembangan teknologi,<br>penerapan gamifikasi digital memungkinkan terciptanya pengalaman belajar yang lebih<br>interaktif dan menarik, sehingga siswa lebih termotivasi untuk terlibat aktif dalam pembelajaran<br>dan lebih mudah memahami konsep melalui interaksi serta pertukaran pengetahuan antarsiswa.<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dan pengaruh penerapan model<br>pembelajaran kooperatif tipe TGT berbasis gamifikasi digital terhadap pemahaman konsep<br>siswa pada materi gelombang cahaya. Metode quasi eksperimen dengan desain non-equivalent<br>control group design digunakan dalam penelitian ini. Sampel penelitian terdiri atas dua kelas,<br>yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda yang<br>telah valid dan reliabel. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan pemahaman konsep<br>antara kedua kelas. Pengujian hipotesis menggunakan uji Mann-Whitney memperoleh nilai<br>signifikansi sebesar 0,000 (< 0,05), yang menunjukkan bahwa perbedaan tersebut signifikan.<br>Selain itu, nilai effect size sebesar 0,63 menunjukkan pengaruh yang tergolong besar. Dengan<br>demikian, penerapan model pembelajaran TGT berbasis gamifikasi digital terbukti memberikan<br>pengaruh yang signifikan terhadap pemahaman konsep siswa pada materi gelombang cahaya.</p>2026-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5426Pengaruh Model Pembelajaran Collaborative Problem Solving terhadap Hasil Belajar Kognitif Fisika Peserta Didik2026-09-15T16:53:07+07:00Mutiara Nur Islami[email protected]I Made Astra[email protected]Hadi Nasbey[email protected]<p><span class="fontstyle0">Rendahnya hasil belajar kognitif peserta didik pada pembelajaran Fisika masih menjadi<br>permasalahan penting, terutama pada materi kalor yang menuntut pemahaman konsep,<br>penerapan prinsip, dan kemampuan menganalisis fenomena. Penelitian ini bertujuan untuk<br>menganalisis pengaruh model pembelajaran </span><span class="fontstyle2">Collaborative Problem Solving </span><span class="fontstyle0">terhadap hasil<br>belajar kognitif Fisika peserta didik pada materi kalor. Penelitian ini menggunakan metode<br></span><span class="fontstyle2">quasi experiment </span><span class="fontstyle0">dengan desain </span><span class="fontstyle2">Nonrandomized Pretest-Posttest Control Group Design</span><span class="fontstyle0">.<br>Sampel penelitian terdiri atas kelas eksperimen yang memperoleh pembelajaran menggunakan<br>model </span><span class="fontstyle2">Collaborative Problem Solving </span><span class="fontstyle0">dan kelas kontrol yang memperoleh pembelajaran<br>menggunakan model </span><span class="fontstyle2">Problem Based Learning</span><span class="fontstyle0">. Instrumen penelitian berupa tes hasil belajar<br>kognitif yang dibatasi pada level C₂ memahami, C₃ menerapkan, dan C₄ menganalisis. Data<br>dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial parametrik melalui uji<br>normalitas, uji homogenitas, uji hipotesis terhadap nilai N-Gain, serta uji </span><span class="fontstyle2">effect size</span><span class="fontstyle0">. Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa rata-rata N-Gain kelas eksperimen sebesar 80,94% dengan<br>kategori tinggi, sedangkan kelas kontrol sebesar 64,80% dengan kategori sedang. Hasil uji<br>hipotesis memperoleh nilai Sig. < 0,001, sehingga terdapat perbedaan peningkatan hasil belajar<br>kognitif yang signifikan antara kedua kelas. Nilai </span><span class="fontstyle2">effect size </span><span class="fontstyle0">sebesar 1,17 menunjukkan<br>pengaruh dalam kategori tinggi. Dengan demikian, model </span><span class="fontstyle2">Collaborative Problem Solving<br></span><span class="fontstyle0">terbukti berpengaruh signifikan dan kuat terhadap peningkatan hasil belajar kognitif Fisika<br>peserta didik pada materi kalor</span></p>2026-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5427KELAPA HUTAN DI TANAH PAPUA2026-09-15T16:57:45+07:00Krisma Lekitoo[email protected]Novita Panambe[email protected]<p><span class="fontstyle0">Papua memiliki keanekaragaman hayati flora yang sangat tinggi. Masyarakat adat (lokal)<br>Papua telah lama memanfaatkan sumberdaya hutan khususnya flora untuk memenuhi<br>kebutuhan mereka, salah satu jenis flora yang sering dimanfaatkan adalah kelapa hutan.<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis kelapa hutan yang sering<br>dimanfaatkan oleh masyarakat adat di Papua yaitu ; kepastian status taksonomi, ekologi<br>habitatnya, potensi buah, kandungan gizi etnobotaninya dan konservasi tradisional.<br>Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik<br>survey, observasi dan analisis laboratorium. Pengumpulan data akan dilakukan secara<br>sampling dan penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposif (</span><span class="fontstyle2">sengaja</span><span class="fontstyle0">). Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 jenis kelapa hutan di Papua yaitu </span><span class="fontstyle2">Borassus<br>heineanus </span><span class="fontstyle0">Becc</span><span class="fontstyle2">., Pandanus brosimos </span><span class="fontstyle0">Merr. & Perry dan </span><span class="fontstyle2">Pandanus jiulianettii </span><span class="fontstyle0">Mart.<br>Ketiga jenis kelapa hutan tersebut merupakan tumbuhan endemik Papua yang<br>penyebarannya sangat terbatas pada daerah Papua yaitu Pesisir Pantai Utara dan<br>Pegunungan.</span> </p>2026-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5428PENGEMBANGAN MODEL ELBASILKUSTEM: STUDI R&D YANG MENGINTEGRASIKAN VALIDASI AHLI DAN UJI COBA SKALA KECIL2026-09-15T17:00:25+07:00Lilis Ismaya[email protected]Woro Sumarni[email protected]Saiful Ridlo[email protected]Murbangun Nuswowati[email protected]<p><span class="fontstyle0">Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan memvalidasi model ELBASILKUSTEM<br>(Experiential Learning Based on Local Wisdom in Kuningan dengan pendekatan STEM)<br>melalui desain Research and Development (R&D) yang mengintegrasikan validasi ahli dan uji<br>coba skala kecil. Proses pengembangan mengacu pada kerangka ADDIE yang meliputi tahap<br>Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Model ini mengintegrasikan<br>siklus experiential learning Kolb, prinsip interdisipliner STEM, dan pengetahuan ekologi lokal.<br>Validasi oleh lima ahli menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan telah<br>memenuhi kriteria valid, dengan skor berkisar antara 3,50 sampai 3,70, yaitu berada pada<br>kategori valid hingga sangat valid. Setelah revisi, model diimplementasikan dalam uji coba<br>skala kecil yang melibatkan sepuluh calon guru biologi. Hasil penelitian menunjukkan adanya<br>peningkatan pemahaman konsep (N-gain = 0,61; kategori sedang) dan capaian keterampilan<br>berpikir tingkat tinggi (Higher-Order Thinking Skills/HOTS) yang tinggi dengan rerata 81%.<br>Respons mahasiswa juga sangat positif (85%), yang mengindikasikan kepraktisan dan<br>keberterimaan model. Temuan ini menunjukkan bahwa model ELBASILKUSTEM merupakan<br>model pembelajaran yang valid, praktis, dan berpotensi efektif untuk mengintegrasikan<br>experiential learning, STEM, dan kearifan lokal dalam pendidikan biologi. Penelitian ini<br>memberikan kontribusi pada pengembangan model pembelajaran yang tervalidasi secara<br>empiris dalam kerangka R&D yang terstruktur.</span> </p>2026-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5429Pengembangan E-Book Suplemen Kimia Terintegrasi Kearifan Lokal Kabupaten Boyolali untuk Membekali Literasi Kimia Peserta Didik2026-09-15T17:03:56+07:00Sinta Febriyanti[email protected]Woro Sumarni[email protected]Dimas Gilang Ramadhani[email protected]<p>Rendahnya literasi kimia peserta didik di Indonesia yang tercermin dari peringkat PISA 2022<br>menuntut inovasi bahan ajar yang kontekstual dan bermakna. Penelitian ini bertujuan<br>mengembangkan e-book suplemen kimia terintegrasi kearifan lokal Kabupaten Boyolali untuk<br>membekali literasi kimia peserta didik, serta mengetahui karakteristik, kelayakan, dan respon<br>guru terhadap produk yang dikembangkan. Penelitian ini menggunakan metode Research and<br>Development (R&D) dengan model Plomp yang mencakup tiga fase: investigasi awal<br>(preliminary research), pengembangan prototipe (prototyping phase), dan penilaian<br>(assessment phase). Kearifan lokal yang diintegrasikan adalah Kerajinan Pande Besi<br>Tradisional Kecamatan Karanggede yang dikaitkan dengan materi Sistem Periodik Unsur dan<br>Tradisi Sebaran Apem Kukus Keong Mas yang dikaitkan dengan materi Reaksi Redoks. E-book<br>suplemen dikembangkan dalam format flipbook menggunakan perangkat lunak Canva dan<br>Heyzine Flipbook. Hasil validasi isi oleh tiga validator ahli menunjukkan rata-rata sebesar<br>97,2% (sangat valid), sedangkan validasi karakteristik memperoleh rata-rata sebesar 98,9%. Uji<br>rumpang terhadap peserta didik kelas XI MIPA MAN 4 Boyolali menghasilkan rata-rata<br>keterbacaan 80,63% yang termasuk kategori mudah. Lima guru IPA memberikan respon positif<br>dan menyatakan e-book layak digunakan sebagai bahan ajar alternatif yang kontekstual, serta<br>berhasil memenuhi keempat indikator literasi kimia berdasarkan kerangka PISA 2015. E-book<br>suplemen yang dikembangkan dinyatakan sangat valid, memiliki keterbacaan tinggi, dan<br>berpotensi membekali literasi kimia peserta didik melalui pendekatan etnosains berbasis<br>kearifan lokal.</p>2026-09-15T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5430POTENSI BLENDED LABORATORY-BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA: SEBUAH SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-09-16T14:11:51+07:00Wahyu Nur Hidayat[email protected]<p><span class="fontstyle0">Rendahnya keterampilan proses sains dan pemahaman konsep siswa Indonesia, sebagaimana<br>tercermin dari hasil PISA 2022, mendorong perlunya inovasi pembelajaran. </span><span class="fontstyle2">Blended<br>Laboratory-Based Learning </span><span class="fontstyle0">(BLBL) hadir sebagai solusi dengan mengintegrasikan<br>keunggulan laboratorium riil dan virtual dalam kerangka pembelajaran terpadu. Penelitian<br>Systematic Literature Review (SLR) ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas BLBL<br>dalam meningkatkan keterampilan proses sains dan pemahaman konsep siswa berdasarkan<br>bukti empiris terkini. Metode review dilakukan dengan protokol PRISMA, menganalisis 5<br>artikel empiris dari jurnal terindeks. Hasil analisis tematik menunjukkan bahwa BLBL<br>konsisten efektif dalam meningkatkan kedua aspek tersebut. Model B-PjBL signifikan<br>meningkatkan keterampilan proses sains (p < 0,05), sementara STB-LAB meningkatkan<br>pemahaman konsep dengan effect size Cohen's D 1,226 (kategori sangat kuat). Integrasi<br>laboratorium riil-virtual dan inkuiri berbasis simulasi juga menunjukkan peningkatan N-gain<br>kategori sedang. Keberhasilan BLBL ditentukan oleh faktor desain pembelajaran,<br>infrastruktur teknologi, kapasitas pedagogik guru, dan konteks pendukung. Disimpulkan<br>bahwa BLBL merupakan model pembelajaran yang efektif dan relevan untuk pembelajaran<br>sains era digital.</span> </p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5431TREN DAN PEMANFAATAN PHET DALAM PEMBELAJARAN FISIKA TERHADAP HASIL BELAJAR: TINJAUAN LITERATUR REVIEW2026-09-16T14:14:28+07:00Achmad Nur Rochim[email protected]Putri Bunga Aisyah Pohan[email protected]Adinda Rosi Felicia[email protected]<p>Pembelajaran fisika sering kali menjadi tantangan karena karakteristik materinya yang abstrak dan<br>kompleks, sehingga mengakibatkan rendahnya motivasi dan hasil belajar peserta didik. Salah satu solusi<br>inovatif yang kini semakin banyak digunakan adalah simulasi PhET (Physics Education Technology).<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tren dan dampak simulasi PhET dalam pembelajaran<br>fisika, model atau pendekatan yang diterapkan, materi yang diajarkan, serta keterampilan yang diperoleh<br>peserta didik. Metode penelitian ini adalah Tinjauan Literatur Sistematis dengan mengikuti tahapan<br>PRISMA, yaitu (1) identification, (2) screening, (3) eligibility, dan (4) included. Pengumpulan data<br>dilakukan dengan mengkaji artikel ilmiah terkait penggunaan media pembelajaran PhET yang terbit<br>pada tahun 2021–2025 dari basis data Scopus, Google Scholar, dan Lens. Hasil menunjukkan bahwa<br>PhET dapat diintegrasikan dengan model pembelajaran yang berfokus pada peserta didik, seperti inkuiri<br>terbimbing, PBL dan PjBL. Selain itu, pemanfaatan PhET dapat memfasilitasi meningkatnya hasil<br>belajar peserta didik, meliputi pemecahan masalah, literasi sains, dan pemahaman konsep. Materi yang<br>paling banyak dikaji mencakup usaha dan energi, elastisitas, listrik dinamis, serta materi lain yang<br>memiliki tingkat keabstrakan tinggi dan tidak memadai untuk dipraktikkan di laboratorium nyata<br>sekolah. Keberadaan media pembelajaran interaktif, seperti PhET simulasi, dapat menawarkan<br>pengalaman inovatif bagi siswa, memfasilitasi proses pembelajaran, serta meningkatkan hasil belajar<br>siswa. Temuan ini memberikan dampak signifikan bagi peningkatan kualitas pembelajaran fisika,<br>khususnya dalam mendorong penerapan media simulasi interaktif sebagai alternatif laboratorium virtual<br>yang efektif, sekaligus memperkuat pengembangan keterampilan abad ke-21.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5432ANALISIS KEBUTUHAN E-MODUL BIOLOGI SEL TERINTEGRASI AR 3D UNTUK MENINGKATKAN REPRESENTASI MIKROSKOPIS, VISUOSPASIAL, DAN LITERASI KEBENCANAAN MAHASISWA2026-09-16T14:17:18+07:00Asrizal Wahdan Wilsa[email protected]Hartono[email protected]Bambang Subali[email protected]Enni Suwarsi Rahayu[email protected]<p>Karakteristik materi biologi sel yang bersifat mikroskopis dan kompleks menuntut kemampuan<br>representasi mikroskopis dan visuospasial yang baik, namun pembelajaran masih didominasi<br>bahan ajar konvensional yang kurang mendukung visualisasi konsep secara optimal. Selain itu,<br>penggunaan bahan ajar berbasis kertas memiliki implikasi terhadap lingkungan karena<br>berkontribusi pada eksploitasi sumber daya hutan yang dapat meningkatkan risiko bencana<br>ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan mahasiswa terhadap<br>pengembangan e-modul biologi sel terintegrasi augmented reality (AR) 3D untuk<br>meningkatkan representasi mikroskopis, visuospasial, dan literasi kebencanaan. Penelitian<br>menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan instrumen kuesioner skala Likert yang<br>diberikan kepada 75 mahasiswa calon guru yang telah menempuh mata kuliah Konsep Dasar<br>IPA. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa persentase. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami kesulitan dalam memvisualisasikan struktur<br>mikroskopis, memahami hubungan struktur–fungsi organel, serta membangun pemahaman<br>spasial sel. Mahasiswa juga menunjukkan kebutuhan tinggi terhadap media pembelajaran<br>berbasis visualisasi tiga dimensi dan memiliki persepsi positif terhadap penggunaan AR.<br>Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan e-modul berbasis AR 3D<br>diperlukan sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan representasi mikroskopis, visuospasial,<br>serta literasi kebencanaan, sekaligus mendukung pendidikan berkelanjutan melalui<br>pengurangan penggunaan bahan ajar berbasis kertas.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5433PEMANFAATAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT PAPUA2026-09-16T14:21:13+07:00Krisma Lekitoo[email protected]Alfredo Ottow Wanma[email protected]<p><span class="fontstyle0">Pengetahuan tentang pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat di Papua pada umumnya<br>diperoleh dari pengalaman dan kebiasaan seseorang (orang tua) yang kemudian diturunkan<br>pada generasi berikutnya, sehingga pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan<br>kebiasaan tersebut hanya menjadi pengetahuan masyarakat setempat. Di Papua, masyarakat<br>yang tinggal disekitar kawasan hutan telah lama memanfaatkan tumbuh-tumbuhan sebagai<br>obat dan hal ini sudah berlangsung cukup lama. Bahkan sampai sekarang, baik masyarakat<br>tradisional maupun modern, masih banyak menggunakan obat tradisional sebagai obat yang<br>potensial. Pemanfaatan tumbuhan obat di Papua antar suku / daerah sangat berbeda-beda<br>satu dengan yang lainnya, baik spesies yang digunakan maupun cara meramu tumbuhan<br>tersebut. Hal ini diakibatkan oleh perbedaan latar belakang sosiokultur dan perbedaan<br>ekosistem lingkungan masing-masing daerah. Terdapat 10 jenis tumbuhan yang paling<br>sering digunakan oleh masyarakat umum di Tanah Papua yang diadopsi dari pengetahuan<br>lokal beberapa suku di Tanah Papua. 10 jenis tumbuhan tersebut adalah ; </span><span class="fontstyle2">Alstonia<br>scholaris, Archingelesia flava, Biophytum umbraculum , Calamus aruensis, Calophyllum<br>inophyllum, Drimys piperita, Endospermum moluccanum, Inocarpus fagifer, Laportea<br>decumana </span><span class="fontstyle0">dan </span><span class="fontstyle2">Pandanus conoideus.</span></p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5434Potensi dan Tantangan Pemanfaatan Gulma Perairan Tawar Eceng Gondok (Pontederia crassipes) sebagai Sumber Nutrisi dan Senyawa Bioaktif untuk Pangan2026-09-16T14:23:42+07:00Syarif Prasetyo[email protected]Rossi Prabowo[email protected]Indra Setiadi Hermana[email protected]<p>Eceng gondok (Pontederia crassipes) merupakan tumbuhan air yang tergolong sebagai gulma<br>invasif karena keberadaanya dapat mengancam keseimbangan ekositem. Selain menjadi gulma<br>pengganggu perairan, biomassa eceng gondok yang melimpah berpeluang dimanfaatan menjadi<br>lebih bernilai termasuk dalam bidang pangan. Kajian ini bertujuan untuk menggali potensi eceng<br>gondok sebagai sumber nutrisi dan senyawa bioaktif yang bisa dimanfaatkan dalam pangan, serta<br>mengidentifikasi tantangan utama sebagai pembatas pemanfaatannya yang mencakup aspek<br>keamanan pangan, kandungan antinutrisi dan variasi kualitas bahan baku. Penelitian ini<br>menggunakan metode Scoping Review, yaitu pendektan telaah pustaka yang digunakan untuk<br>memetakan, mengelompokkan dan mendiskripsikan temuan penelitian yang relevan dengan topik<br>kajian. Hasil kajian menunjukan bahwa profil nutrisi terbaik eceng gondok ditemukan pada daun<br>dengan kadar karbohidrat 57,26%, protein 15,08%, lemak 5,22% dan asam amino 1,67%. Adapun<br>pada batang kadar karbohidrat 56,33%, protein 5,53%, lemak 2,35% dan asam amino 1,53%. Profil<br>nutrisi terendah pada akar dengan kadar karbohidrat 38,16%, protein 8,48%, lemak 2,79% dan<br>asam amino 1,14%. Eceng gondok mengandung senyawa bioaktif fenolik, flavonoid, alkaloid,<br>tannin, saponin dan terpenoid yang potensial memberikan aktivitas antioksidan serta antimikroba.<br>Eceng gondok telah diolah menjadi asap cair yang dimanfaatkan sebagai pengawet alami ikan<br>karena memiliki kandungan senyawa asam, fenol dan karbonil. Namun, pemanfaatan eceng<br>gondok dibidang pangan masih dibatasi oleh resiko cemaran, variasi komposisi dan diperlukan<br>standarisasi proses. Sehingga eceng gondok berpeluang besar dikembangkan sebagai kandidat<br>sumber bahan pengawet alami pangan, tetapi dibutuhkan pengendalian mutu dan verifikasi<br>keamanan pangan secara ketat.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5435IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN RECIPROCAL TEACHING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MAHASISWA PADA MATA KULIAH PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP2026-09-16T14:32:53+07:00Nur Efendi[email protected]<p>Untuk meningkatkan hasil belajar mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup, model<br>Pembelajaran Reciprocal Teaching (RT) diimplementasikan dalam penelitian ini dengan<br>metode penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar mahasiswa<br>pada mata kuliah Pendidikan Lingkungan untuk indeks proporsi individu (P) untuk 13<br>mahasiswa = 0,83 ≥ 0,80, dan indeks proporsi kelas (P) = 1,00 ≥ 0,80, artinya ketuntasan<br>individu dan kelas telah tuntas dan mencapai kategori baik. Adapun hasil hasil penilaian afektif<br>mahasiswa terkait sikap kesadaran pada lingkungan hidup di sekitarnya menunjukkan 86%<br>sangat baik dan 6% baik. sikap kedasaran yang positif dengan konversi bobot penilaian ratarata Sangat Baik = 86% dan Baik = 6 % lebih tinggi perbadingan persentasenya bila<br>dibandingkan dengan mahsiswa yang memiliki respon sikap sedang dengan rata-rata Cukup =<br>4%, dan sikap respon negatif dengan rata-rata Kurang = 2% dan Sangat Kurang = 2%. Dari<br>hasil penelitian dapat terlihat bahwa model pembelajaran Reciprocal Teaching (RT) dapat<br>membuat mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup mudah dipahami baik secara konseptual<br>maupun dalam penerapannya dalam kehidupan. Model pembelajaran ini perlu untuk terus<br>ditindaklanjuti dalam berbagai kegiatan sehingga meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di<br>negara kita.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5436Studi Etnobotani: Integrasi Tradisi Bubur Asyura dalam Pembelajaran Biologi Fase E di SMA2026-09-16T14:34:54+07:00Ayu Febriasari[email protected]<p>Tradisi Bubur Asyura, sebuah praktik komunal yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram<br>di berbagai wilayah Indonesia, merupakan gudang pengetahuan ekologi lokal dengan kekayaan<br>etnobotani yang luar biasa. Penelitian ini bertujuan: (1) mendokumentasikan secara sistematis<br>spesies tumbuhan yang terkandung dalam tradisi Bubur Asyura melalui kajian literatur<br>sistematis dan studi etnobotani lapangan, dengan fokus pada masyarakat Banjar di Desa Pasar<br>Senin, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi; dan (2) mengembangkan model konseptual<br>Project-Based Learning berbasis Etnobotani (EtnoPjBL) untuk pembelajaran Biologi Fase E di<br>SMA, yang diselaraskan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila (P5) dan prinsip Education<br>for Sustainable Development (ESD). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dua tahap:<br>kajian sistematis terhadap sepuluh jurnal nasional dan internasional relevan tentang tradisi<br>Bubur Asyura, dilanjutkan dengan observasi partisipan dan wawancara semi-terstruktur<br>bersampel purposif terhadap informan masyarakat Banjar. Sebanyak 40 spesies tumbuhan<br>teridentifikasi dalam empat kategori fungsional, yaitu tanaman pangan dan umbi-umbian,<br>sayuran daun, kacang-kacangan, dan rempah aromatik, yang mencakup kelas botani<br>Magnoliopsida, Liliopsida, Polypodiopsida, dan Gnetopsida. Berdasarkan temuan tersebut,<br>dikembangkan model EtnoPjBL enam fase yang meliputi orientasi tradisi, investigasi<br>etnobotani, perancangan proyek, implementasi, berbagi dengan komunitas, dan refleksi, yang<br>masing-masing fase diselaraskan dengan capaian pembelajaran Biologi Fase E, dimensi P5, dan<br>kompetensi ESD. Model ini memposisikan tradisi Bubur Asyura sebagai perancah pedagogis<br>sekaligus konteks pembelajaran yang nature-positive, sehingga peserta didik dapat<br>mengembangkan literasi sains, apresiasi budaya, dan kepedulian lingkungan secara bersamaan.<br>Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran proyek berbasis etnobotani menawarkan<br>strategi yang responsif terhadap budaya dan berorientasi keberlanjutan bagi pendidikan Biologi,<br>relevan dengan agenda lokal maupun global menuju masa depan yang nature-positive.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5437OPTIMALISASI PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE (AI) DALAM PEMBELAJARAN KIMIA UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA2026-09-16T14:36:52+07:00Sri Yani Widyaningsih[email protected]<p>Kegiatan praktikum kimia pada materi faktor-faktor laju reaksi menuntut keterlibatan aktif<br>siswa dalam melakukan eksperimen, mengolah data, serta menyusun kesimpulan dan laporan.<br>Namun, pada praktiknya, sebagian besar siswa masih mengalami kesulitan pada tahap analisis data<br>dan penyusunan laporan praktikum sehingga memerlukan bimbingan intensif dari guru. Melalui<br>pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu dalam mendukung aktivitas belajar dan<br>kemampuan berpikir kritis siswa mampu memberikan pengalaman mengajar yang diangkat<br>sebagai Best practice. Subyek yang digunakan adalah 31 siswa kelas XI IPA tahun ajaran<br>2023/2024. Hasil menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa meningkat secara signifikan dari<br>41,58 menjadi 79,60 dengan nilai N-Gain sebesar 0,65 (kategori sedang–tinggi), sedangkan<br>kemampuan berpikir kritis meningkat dari 63,48 menjadi 67,96 dengan nilai N-Gain sebesar 0,12<br>(kategori rendah). Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek partisipasi dan pemanfaatan AI, yang<br>menunjukkan bahwa siswa lebih terlibat aktif dan terbantu dalam proses analisis data serta<br>penyusunan laporan praktikum. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan AI efektif dalam<br>meningkatkan keterlibatan belajar dan kemandirian siswa, sekaligus mendukung prinsip transfer<br>belajar menurut Gagné, yaitu kemampuan menerapkan konsep pada situasi baru melalui<br>penguasaan fakta dan keterampilan dasar. Oleh karena itu, praktik ini layak dibagikan sebagai<br>alternatif solusi dalam pembelajaran kimia, meskipun penguatan strategi yang menekankan<br>analisis mendalam masih diperlukan untuk mengoptimalkan kemampuan berpikir kritis siswa.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5438PENDIDIKAN SAINS TRANSFORMATIF: TINJAUAN SISTEMATIS PEMBELAJARAN BERBASIS AKSI DALAM EDUCATION FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT (ESD) DI SEKOLAH2026-09-16T14:38:44+07:00Real Fandi[email protected]Imroatun Nadifah[email protected]Yuni Nisa Widiyanti[email protected]Asri` Widowati[email protected]<p>Integrasi Education for Sustainable Development (ESD) ke dalam pendidikan sains formal<br>merupakan tantangan yang masih kurang dikaji secara empiris, khususnya terkait mekanisme<br>di mana pendekatan pedagogis berbasis aksi dapat menghasilkan peningkatan kompetensi yang<br>terukur dan perubahan perilaku berkelanjutan pada peserta didik. Systematic review ini<br>bertujuan mensintesis bukti empiris internasional mengenai peran guru dalam memfasilitasi<br>ESD berbasis aksi pada pendidikan sains tingkat sekolah, dengan perhatian khusus pada<br>integrasi kurikulum, struktur dukungan institusional, dan dampak keberlanjutan jangka<br>panjang. Menggunakan panduan PRISMA 2020, pencarian terstruktur dilakukan pada Scopus,<br>Web of Science, dan Education Resources Information Center (ERIC), menghasilkan 311<br>rekaman awal. Setelah penyaringan multi-tahap terhadap kriteria inklusi-eksklusi yang telah<br>ditetapkan, 14 artikel dipertahankan untuk sintesis tematik dengan penilaian kualitas<br>menggunakan Mixed Methods Appraisal Tool (MMAT). Analisis tematik mengidentifikasi<br>empat domain konvergen: (1) integrasi kurikulum dan relevansi kontekstual; (2) ESD berbasis<br>aksi sebagai mekanisme pengembangan keterampilan abad ke-21; (3) peran guru dan dukungan<br>institusional; serta (4) transformasi perilaku berkelanjutan jangka panjang. Temuan<br>menunjukkan bahwa ESD berbasis aksi terbukti efektif mengembangkan berpikir kritis,<br>kreativitas, komunikasi, dan empati siswa sekaligus memfasilitasi internalisasi perilaku<br>berkelanjutan jangka panjang apabila didukung kebijakan institusional yang memadai.<br>Disparitas signifikan ditemukan antara implementasi ESD di sekolah swasta dan negeri, serta<br>self-efficacy guru sangat rentan terhadap regresi tanpa pengembangan profesional yang<br>tertanam dalam praktik.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5439ANALISIS BIBLIOMETRIK TERHADAP TREN PENELITIAN KOMPETENSI DIGITAL DALAM PENDIDIKAN GURU SAINS BERDASARKAN BASIS DATA SCOPUS (2020–2025)2026-09-16T14:42:41+07:00Nuri Nuri[email protected]<p>Transformasi digital pendidikan pascapandemi menuntut calon guru sains memiliki kompetensi<br>digital yang kuat. Namun, penelitian terkait masih terfragmentasi dan belum mengintegrasikan<br>secara optimal pengembangan model pembelajaran digital dengan pembentukan kompetensi<br>digital. Penelitian ini bertujuan memetakan lanskap riset global, mengkaji struktur intelektual,<br>serta mengidentifikasi kesenjangan penelitian dalam bidang tersebut. Pendekatan bibliometrik<br>kuantitatif digunakan dengan data publikasi Scopus periode 2020–2025. Sebanyak 30 dokumen<br>terpilih melalui prosedur PRISMA dianalisis menggunakan Bibliometrix (R) untuk mengkaji<br>tren publikasi, sitasi, produktivitas penulis, serta pola kolaborasi dan tema penelitian. Hasil<br>menunjukkan tren publikasi yang meningkat dengan lonjakan sitasi pada 2021 seiring<br>pergeseran global ke pembelajaran digital. Publikasi didominasi oleh negara Asia dan Eropa,<br>sementara kontribusi negara berkembang masih terbatas. Tema utama meliputi TPACK,<br>inovasi pedagogi, pendidikan calon guru, dan kompetensi abad ke-21. Namun, integrasi antara<br>desain pembelajaran digital dan pengembangan kompetensi digital masih lemah. Penelitian ini<br>menegaskan pentingnya pengembangan kerangka pembelajaran digital yang integratif,<br>kontekstual, dan berkelanjutan guna mendukung transformasi pendidikan guru sains secara<br>lebih inklusif.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5440Efektivitas Metode Pengambilan Sampel Non-Invasif untuk Amplifikasi Gen COI pada Rattus norvegicus2026-09-16T14:44:26+07:00Salsabila Puteri Syahrina[email protected]Badruzsaufari[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas metode pengambilan sampel non-invasif<br>dalam amplifikasi gen Cytochrome Oxidase Subunit I (COI) pada tikus Rattus norvegicus.<br>Sampel yang digunakan berupa feses. Metode non-invasif dipilih karena mampu<br>meminimalkan stres dan cedera pada hewan serta mendukung prinsip animal welfare dan 3R.<br>Ekstraksi DNA sampel feses dilakukan menggunakan metode CTAB termodifikasi dengan<br>penambahan polyvinylpyrrolidone (PVP), proteinase K, dan pemurnian menggunakan<br>chloroform:isoamyl alcohol serta presipitasi isopropanol-ammonium asetat. DNA hasil<br>ekstraksi diamplifikasi menggunakan PCR dengan target gen COI mitokondria. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa metode non-invasif mampu menghasilkan DNA yang dapat diamplifikasi<br>pada gen COI, meskipun kualitas DNA sampel feses cenderung lebih rendah akibat adanya<br>inhibitor PCR. Penambahan BSA dan PVP membantu meningkatkan keberhasilan amplifikasi<br>DNA. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode non-invasif berpotensi digunakan sebagai<br>alternatif identifikasi molekuler tikus secara lebih aman dan etis.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5441Eksplorasi Eksistensi Komponen “Art” dalam Pembelajaran STEAM: Analisis Bibliometrik (2010–2024)2026-09-16T14:46:45+07:00Putri Bunga Aisyah Pohan[email protected]Adinda Rosi Felicia[email protected]Achmad Nur Rochim[email protected]Real Fandi[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi eksistensi komponen “Art” dalam pendekatan<br>Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics (STEAM) melalui analisis<br>bibliometrik terhadap literatur pendidikan global pada periode 2010–2024. Permasalahan<br>utama dalam penelitian ini adalah ketidakseimbangan integrasi art atau seni yang cenderung<br>masih diposisikan sebagai elemen pendukung dibandingkan sebagai komponen inti dalam<br>STEAM. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis bibliometrik<br>terhadap 689 artikel yang diperoleh dari basis data Scopus, dengan mengacu pada pedoman<br>PRISMA. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak Biblioshiny, VOSviewer, dan<br>Publish or Perish untuk mengidentifikasi tren publikasi, artikel dengan sitasi tertinggi,<br>kontribusi negara, hubungan antar kata kunci, serta perkembangan tema penelitian. Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa tren publikasi STEAM mengalami peningkatan signifikan,<br>terutama setelah tahun 2015, dengan pergeseran dari tahap pengenalan Art menuju integrasi<br>dalam praktik pembelajaran dan adaptasi dalam konteks teknologi serta pendekatan<br>interdisipliner. Kontributor utama penelitian didominasi oleh negara maju, khususnya Amerika<br>Serikat, Korea Selatan, dan China. Meskipun demikian, hasil analisis menunjukkan bahwa<br>komponen “Art” masih berada pada posisi integrated but not yet equal, yaitu telah terintegrasi<br>tetapi belum sepenuhnya setara dengan disiplin STEM. Penelitian ini menegaskan pentingnya<br>penguatan peran Art dalam STEAM untuk mewujudkan pembelajaran yang lebih seimbang,<br>kreatif, dan relevan dengan tuntutan abad ke-21.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5442PENGARUH PENGGUNAAN LKPD STEAM-PjBL TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA MATERI INDUKSI ELEKTROMAGNETIK2026-09-16T14:51:47+07:00Dewi Nur Lathifa Abdul Rozak[email protected]I Made Astra[email protected]Wulandari Fitriani[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan keterampilan proses sains siswa antara<br>yang menggunakan LKPD STEAM-PjBL dan yang menggunakan LKPD ekspositori, serta<br>mengkaji pengaruh penggunaan LKPD STEAM–PjBL terhadap keterampilan proses sains<br>siswa pada materi induksi elektromagnetik. Penelitian ini menggunakan metode kuasi<br>eksperimen dengan desain Pretest Posttest Non-Equivalent Control Group Design. Subjek<br>penelitian terdiri dari 72 siswa yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol tanpa<br>randomisasi. Kelompok eksperimen menggunakan LKPD STEAM-PjBL, sedangkan kelompok<br>kontrol menggunakan LKPD ekspositori. Instrumen penelitian berupa tes keterampilan proses<br>sains yang diberikan dalam bentuk pretest dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa<br>rata-rata pretest kelas eksperimen sebesar 58,47 dan kelas kontrol sebesar 62,78, sedangkan<br>rata-rata posttest kelas eksperimen sebesar 90,14 dan kelas kontrol sebesar 87,64. Nilai N-Gain<br>kelas eksperimen sebesar 0,679 dan kelas kontrol sebesar 0,657 yang keduanya berada pada<br>kategori sedang. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,172 (><br>0,05), sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok. Nilai effect<br>size sebesar 0,161 termasuk dalam kategori kecil. Dengan demikian, penggunaan LKPD<br>STEAM-PjBL belum memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keterampilan proses<br>sains siswa, meskipun secara deskriptif menunjukkan pengaruh yang lebih tinggi dibandingkan<br>kelas kontrol.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5444EFEKTIVITAS PENDEKATAN STEAM DALAM PENDIDIKAN RISIKO BENCANA TERHADAP LITERASI DAN KESIAPSIAGAAN PESERTA DIDIK: META-ANALISIS BERBASIS STUDI EMPIRIS (2022–2026)2026-09-16T14:56:26+07:00Neldarisasmita[email protected]<p>Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana geologi dan<br>hidrometeorologi sehingga penguatan literasi kebencanaan melalui pendidikan menjadi<br>kebutuhan penting. Pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics<br>(STEAM) dinilai mampu mendukung pendidikan kebencanaan melalui pembelajaran<br>kontekstual, pemecahan masalah, dan pengembangan keterampilan abad ke-21. Penelitian ini<br>bertujuan menganalisis efektivitas pendekatan STEAM/STEM dalam meningkatkan literasi<br>kebencanaan, kesiapsiagaan, dan kesadaran risiko peserta didik. Penelitian menggunakan<br>metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan meta-analisis berdasarkan<br>pedoman PRISMA. Penelusuran artikel dilakukan menggunakan aplikasi Publish or Perish<br>melalui database Google Scholar pada rentang tahun 2022–2026 dengan kata kunci terkait<br>STEAM, STEM, mitigasi bencana, dan literasi kebencanaan. Sebanyak 16 artikel empiris yang<br>memenuhi kriteria inklusi dianalisis menggunakan perhitungan effect size Hedges’ g. Hasil<br>analisis menunjukkan rata-rata effect size sebesar gˉ=0.78 yang termasuk kategori tinggi.<br>Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan STEAM/STEM efektif meningkatkan<br>literasi kebencanaan, kesiapsiagaan bencana, pemahaman mitigasi, kesadaran lingkungan, dan<br>literasi iklim peserta didik. Efektivitas tersebut dipengaruhi oleh penggunaan simulasi digital,<br>proyek berbasis lingkungan, media interaktif, dan pembelajaran berbasis rekayasa yang<br>mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam memahami risiko bencana secara kontekstual.<br>Dengan demikian, pendekatan STEAM berpotensi menjadi strategi inovatif dalam penguatan<br>pendidikan kebencanaan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5446PEMANFAATAN SAMPAH SISA MAKANAN PROGRAM MBG MELALUI TEKNOLOGI BIOPORI DAN PRODUKSI BIOGAS SEBAGAI SOLUSI PENGELOLAAN SAMPAH DI LINGKUNGAN SMPN 19 BOGOR2026-09-16T15:03:37+07:00Nisa Nisriana Nurfa[email protected]Upik Nurbaiti[email protected]Sunarno[email protected]<p>Penerapan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah berdampak pada meningkatnya<br>volume sampah sisa makanan yang berpotensi menimbulkan masalah lingkungan apabila tidak<br>dikelola dengan baik. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi sampah sisa makanan dari<br>program MBG di SMPN 19 Bogor dan mengembangkan model pengelolaan sampah organik<br>ramah lingkungan berbasis integrasi teknologi biopori dan produksi biogas. Penelitian<br>menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif melalui observasi langsung,<br>pengukuran volume sampah, dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMPN<br>19 Bogor menghasilkan rata-rata 11,25 kg sampah organik per hari dari program MBG. Dari<br>jumlah tersebut, sekitar 70% (7,87 kg/hari) berpotensi diolah melalui teknologi biopori untuk<br>menghasilkan kompos, sedangkan 30% sisanya (3,38 kg/hari) dapat difermentasi secara<br>anaerobik untuk menghasilkan biogas sebesar 0,17 m³/hari. Biogas yang dihasilkan berpotensi<br>dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif di lingkungan sekolah. Penerapan model<br>integrasi biopori dan biogas secara bersamaan mampu mengurangi volume sampah organik<br>hingga 80%, sekaligus menghasilkan kompos bagi penghijauan sekolah dan biogas sebagai<br>energi terbarukan. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model pengelolaan sampah<br>organik berbasis teknologi lingkungan yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5447INTEGRASI ETNOSAINS DALAM PEMBELAJARAN STEM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN SISWA SMA2026-09-16T18:07:32+07:00Lilis Sulistyo Rini[email protected]Sudarmin[email protected]Dyah Rini Indriyanti[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menggali integrasi etnosains dalam pembelajaran STEM sebagai<br>upaya meningkatkan kemampuan penalaran siswa SMA. Metode yang digunakan dalam<br>penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Unit analisis dalam<br>penelitian ini adalah siswa SMA yang terlibat dalam pembelajaran STEM yang terintegrasi<br>dengan etnosains. Sumber data terdiri dari siswa, guru, dan dokumen pembelajaran, yang<br>diperoleh melalui wawancara, observasi, dan analisis dokumen. Teknik pengumpulan data<br>dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi kelas, dan studi literatur. Data dianalisis<br>menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola penerapan etnosains dan<br>dampaknya terhadap kemampuan penalaran siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa<br>integrasi etnosains dalam pembelajaran STEM dapat meningkatkan kemampuan penalaran<br>kritis dan kreatif siswa, dengan memperkaya pemahaman mereka tentang konsep ilmiah<br>melalui pendekatan yang relevan dengan budaya lokal. Kontribusi dari penelitian ini adalah<br>untuk memberikan wawasan baru tentang bagaimana menggabungkan etnosains dengan<br>pembelajaran STEM untuk mendukung pengembangan penalaran siswa di tingkat SMA.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5448PROBLEMATIKA DAN STRATEGI OPTIMASI MEDIA EVALUASI PEMBELAJARAN SAINS DI ERA DIGITALISASI: SINTESIS LITERATUR2026-09-16T18:10:07+07:00Amrina Yusra[email protected]<p>Evaluasi pembelajaran sains pada jenjang SMP di abad ke-21 menuntut integrasi instrumen<br>digital yang mampu mengukur kompetensi kompleks secara akurat. Namun, transisi dari<br>evaluasi konvensional ke digital masih menyisakan berbagai kendala struktural dan teknis.<br>Penelitian ini bertujuan untuk memetakan problematika pemanfaatan media evaluasi sains dan<br>merumuskan strategi optimasi sebagai solusi aplikatif. Melalui metode Systematic Literature<br>Review (SLR) dengan protokol PRISMA, dilakukan analisis komprehensif terhadap 11 artikel<br>ilmiah pilihan (rentang tahun 2020-2025). Hasil sintesis menunjukkan bahwa meskipun<br>gamifikasi (Kahoot, Quizizz) dan sistem CBT cukup dominan, terdapat kelemahan krusial<br>berupa distorsi fokus siswa pada elemen kompetisi, kerentanan terhadap kecurangan akademik,<br>serta kendala aksebilitas perangkat. Sebagai bentuk optimasi, penelitian ini merumuskan bahwa<br>pengembangan aplikasi berbasis Mobile yang terdedikasi (Custom designed) menjadi strategi<br>best practice. Strategi ini menawarkan fitur keamanan yang lebih ketat melalui pembatasan<br>akses aplikasi eksternal, fleksibilitas navigasi, dan penyediaan umpan balik seketika (Real<br>Time). Temuan ini memberikan implikasi strategis bagi praktisi pendidikan dalam merancang<br>sistem evaluasi sains yang lebih tangguh dan autentik di masa depan.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5449RASIONALISASI POTENSI PENGELOLAAN EKOWISATA DI KABUPATEN MAYBRAT, PAPUA BARAT DAYA2026-09-16T18:12:03+07:00Okto Dommi Taruk Allo[email protected]Sepus Marten Fatem[email protected]Agustinus Murdjoko[email protected]<p>Kabupaten Maybrat yang terletak di wilayah kepala burung Pulau Papua memiliki kekayaan<br>geodiversitas karst dan endemisme akuatik yang luar biasa, namun potensinya sebagai destinasi<br>wisata berkelanjutan belum terkelola secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk<br>mengevaluasi kapasitas daerah Kabupaten Maybrat dalam menunjang kegiatan kepariwisataan<br>melalui identifikasi aset alam serta penilaian perspektif masyarakat lokal. Menggunakan<br>pendekatan kualitatif-deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi lapangan pada 24 distrik<br>dan wawancara mendalam dengan teknik purposive dan snowball sampling. Responden terdiri<br>dari tokoh masyarakat, aparat pemerintah, dan kepala keluarga yang mewakili subsuku<br>Ayamaru, Aitinyo, Aifat, dan Mare. Hasil penelitian mengidentifikasi 27 titik potensi ekowisata<br>yang terbagi dalam empat zona utama: Aifat Raya, Ayamaru Raya, Mare Raya, dan Aitinyo<br>Raya, yang mencakup bentang alam karst, air terjun, dan danau yang bernilai sains tinggi.<br>Analisis SWOT menunjukkan bahwa kekuatan utama Maybrat terletak pada kekayaan<br>biodiversitas dan modal budaya filosofi "Anu Beta Tubat" (semangat gotong royong). Namun,<br>tantangan sistemik berupa keterbatasan infrastruktur, konektivitas, dan kapasitas sumber daya<br>manusia masih menjadi penghambat utama. Menariknya, ditemukan konsensus mutlak (100%<br>setuju) dari responden terhadap rencana pengembangan ekowisata, yang mencerminkan<br>kepercayaan tinggi terhadap inisiatif pemerintah. Penelitian menyimpulkan bahwa transisi<br>ekonomi dari sektor agraris menuju sektor jasa ekowisata sangat layak secara ilmiah dan sosial.<br>Keberhasilan implementasi sangat bergantung pada tata kelola kolaboratif dan zonasi daya<br>dukung lingkungan yang ketat guna melindungi ekosistem karst yang rentan sekaligus<br>menjamin manfaat ekonomi inklusif bagi Orang Asli Papua.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5450Tinjauan Sistematis Terhadap Implementasi dan Dampak STEM dalam Pembelajaran IPA Inklusif2026-09-16T18:14:49+07:00Nadia Eka Ardhani[email protected]Ani Rusilowati[email protected]Arif Widiyatmoko[email protected]Tiara Dwi Wulandari[email protected]<p>Pembelajaran IPA inklusif memerlukan pendekatan yang mampu mengakomodasi<br>keberagaman kebutuhan dan karakteristik siswa. Pendekatan STEM relevan karena<br>menekankan pembelajaran aktif, kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pemecahan masalah.<br>Kajian ini bertujuan menganalisis implementasi dan dampak STEM dalam pembelajaran IPA<br>inklusif. Penelitian menggunakan metode systematic literature review (SLR) dengan alur<br>PRISMA, meliputi identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan penetapan artikel<br>inklusi. Data diperoleh dari Google Scholar, ERIC, dan Scopus, dengan rentang publikasi 2021-<br>2026. Berdasarkan seleksi, diperoleh 15 artikel yang dianalisis secara deskriptif kualitatif<br>melalui sintesis tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa STEM dalam pendidikan IPA<br>inklusif diterapkan melalui pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis masalah,<br>inkuiri, desain rekayasa, teknologi, media konkret, dan Universal Design for Learning (UDL).<br>Implementasi STEM berdampak positif terhadap pemahaman konsep IPA, literasi sains,<br>berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, motivasi, partisipasi, dan<br>keterlibatan sosial siswa. Hambatan utama meliputi kesiapan guru, aksesibilitas, akomodasi,<br>asesmen fleksibel, dan dukungan sumber daya. Kajian ini menyimpulkan bahwa STEM<br>berpotensi menjadi pendekatan strategis untuk pembelajaran IPA yang inovatif, adaptif, dan<br>inklusif. Implikasinya, penelitian selanjutnya perlu mengembangkan model STEM adaptif dan<br>asesmen yang lebih fleksibel bagi siswa inklusif yang beragam.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5451KARAKTERISTIK HABITAT BEBERAPA LEMPENG TEKTONIK DI KEPALA BURUNG (VOGELKOP) PAPUA2026-09-16T18:19:31+07:00Krisma Lekitoo[email protected]Erny Poedjirahajoe[email protected]Ni Putu Diana Mahayani[email protected]Puja Mardi Utomo[email protected]<p>Wilayah Kepala Burung (Vogelkop) di Papua, Indonesia, merupakan kawasan dengan<br>kompleksitas tektonik dan biodiversitas tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis<br>hubungan antara proses tektonik, karakteristik habitat, serta distribusi flora dan fauna.<br>Selama periode studi 10 tahun (20014–2025), melalui observasi lapangan (abiotik dan<br>biotik) dan studi sekunder kami mengkarakterisasi habitat abiotik (komposisi geologi,<br>jenis tanah, topografi) dan komunitas biotik (flora, fauna, jenis ekosistem) di seluruh<br>lempeng tektonik yang stabil, aktif, dan ekotonik. Hasil menunjukkan bahwa interaksi<br>Lempeng Indo-Australian dan Lempeng Pasifik membentuk lima tipe lempeng utama:<br>stabil, aktif, semi aktif, semi stabil dan ekoton. Variasi tektonik menghasilkan perbedaan<br>habitat yang mempengaruhi struktur biodiversitas. Lempeng stabil memiliki<br>keanekaragaman flora tertinggi dan tipe ekosistem terbanyak (10 tipe ekosistem),<br>lempeng aktif memiliki keanekaragaman flora rendah dan tipe ekosistem terendah (3 tipe<br>ekosistem), lempeng semi aktif memiliki keanekaragaman flora sedang dan tipe<br>ekosistem sedang (6 tipe ekosistem), lempeng semi stabil memiliki keanekaragaman flora<br>sedang dan tipe ekosistem sedang (6 tipe ekosistem), sedangkan lempeng ekoton<br>menunjukkan campuran spesies Sunda–Sahul dengan keanekaragaman flora rendahtinggi dan (6 tipe ekosistem). Studi ini menegaskan bahwa tektonik berperan sebagai<br>pengendali utama biodiversitas melalui isolasi geografis, diferensiasi habitat, dan<br>dinamika ekosistem.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5452POTRET KEBUTUHAN PEMBELAJARAN INOVATIF MODEL PROJECT TERHADAP ENTREPRENEURSHIP DI PERGURUAN TINGGI2026-09-16T18:23:08+07:00Anita[email protected]Ani Rusilowati[email protected]Ellianawati[email protected]<p>Memasuki era Industri 4.0 menuju 5.0, sistem pendidikan dituntut untuk beradaptasi dengan<br>kebutuhan kompetensi masa depan melalui integrasi teknologi dan literasi digital. Penelitian ini<br>bertujuan untuk menganalisis kebutuhan mahasiswa dan alumni Program Studi Pendidikan<br>Fisika Universitas PGRI Pontianak dalam pengembangan jiwa kewirausahaan melalui model<br>pembelajaran inovatif. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan<br>menyebarkan angket kepada mahasiswa dan alumni. Instrumen penelitian mencakup indikator<br>analisis kebutuhan kurikulum, fasilitas, pendampingan strategis, akses modal, dan jejaring,<br>serta pemetaan profil entrepreneurship. Hasil penelitian menunjukkan urgensi tinggi pada<br>integrasi nilai kewirausahaan dalam kurikulum (83,21%) dan kebutuhan pendampingan<br>strategis terkait HAKI (79,42%). Pada profil entrepreneurship, responden menunjukkan<br>kecakapan teknis yang kuat pada literasi teknologi (85,53%) dan inovasi produk (85,48%),<br>namun masih memiliki skor yang relatif rendah pada aspek mindset (76,29%) dan<br>entrepreneurial skill (76,07%). Temuan ini mengindikasikan perlunya rekonstruksi kurikulum<br>berbasis Project-Based Learning (PjBL) yang diintegrasikan dengan kerangka Science,<br>Technology, and Entrepreneurship (STE). Rekomendasi utama penelitian ini meliputi<br>optimalisasi laboratorium sebagai pusat inkubasi bisnis dan penguatan ekosistem<br>kewirausahaan untuk mentransformasi lulusan dari pencari kerja menjadi pencipta nilai<br>ekonomi yang tangguh dan inovatif.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5453ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA IX SMP PADA MATERI GELOMBANG MEKANIK BERBASIS LABIRIN INTEGRITAS2026-09-16T18:28:48+07:00Skolastika Subekti[email protected]Nerru Pranutu Murnaka[email protected]Nancy Susianna[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa kelas IX<br>SMP pada materi gelombang mekanik berbasis labirin integritas. Penelitian deskriptif<br>kuantitatif dilakukan pada 62 siswa dengan instrumen tes uraian 4 soal yang mengukur 4<br>indikator berpikir kritis berdasarkan facione (2013) yaitu interpretation, analisis, evaluasi dan<br>inference. Data dianalisis dengan persentase dan kriteria (Sangat Tinggi 89%-100%, Tinggi<br>78%-88%, Sedang 65%-77%, Rendah 56%-64%, sangat rendah 0%-55%).<br>Hasil menunjukan rata-rata kemampuan 58,71% kriteria sedang. Berdasarkan per<br>indikator di peroleh nilai interpretation 41,94% kriteria rendah, analisis 43,55% kriteria rendah,<br>evaluation 58,06% kriteria sangat rendah dan Inference 75,81 sangat rendah. Distribusi total<br>dengan persentase 20,97% sangat tinggi dengan jumlah 13 siswa, 22,58% Tinggi dengan<br>jumlah 14 siswa, 41,94% rendah dengan jumlah 26 siswa, 14,52% sangat tinggi dengan jumlah<br>9 siswa. 0% tidak ada siswa yang masuk dalam kriteria sedang. Indikator Interpretation dan<br>analisis paling lemah menjadi pembatas kemampuan keseluruhan. Distribusi kemampuan<br>berpikir kritis menunjukkan labirin efektif bagi 43,55% siswa berprestasi tinggi, namun 56,46%<br>siswa lemah memerlukan peningkatan dalam pembelajaran.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5454Peran Pembelajaran Kontekstual Berbasis Kearifan Lokal dalam Memperkuat Literasi Ekologi dan Kesadaran Multikultural2026-09-16T18:32:26+07:00Sudirman[email protected]Woro Sumarni[email protected]Margareta Rahayuningsih[email protected]<p>Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods sekuensial eksplanatori untuk mengkaji<br>bagaimana pembelajaran kontekstual berbasis kearifan lokal mendukung literasi ekologi dan<br>kesadaran multikultural siswa, serta bagaimana guru mengimplementasikan dan<br>mempertahankan desain pembelajaran tersebut. Survei dilakukan terhadap siswa (n = 217) dan<br>guru (n = 52 yang valid), diikuti dengan wawancara semi-terstruktur untuk menjelaskan pola<br>yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap integrasi kearifan<br>lokal, minat terhadap praktik budaya keberlanjutan, dan relevansi pembelajaran yang<br>dipersepsikan berada dalam kategori Baik (M = 2,83; M = 2,92; M = 2,91). Namun, kemampuan<br>siswa dalam menjelaskan hubungan mekanistik antara praktik budaya dan konsep ekologi<br>berada dalam kategori Cukup (M = 2,61), dan tantangan yang dihadapi siswa terkait terminologi<br>ilmiah dan akses terbatas ke sumber belajar yang terintegrasi (M = 2,47). Implementasi<br>pembelajaran kontekstual oleh guru berada dalam kategori Sangat Baik (M = 3,66), sedangkan<br>integrasi kearifan lokal dan tantangan yang dihadapi guru berada dalam kategori Baik (M =<br>3,34; M = 2,61), dengan fokus pada ketersediaan bahan ajar, pengembangan profesional, dan<br>keterbatasan waktu. Temuan wawancara mengonfirmasi bahwa konteks lokal meningkatkan<br>motivasi dan relevansi, namun siswa membutuhkan scaffolding bahasa-konsep untuk<br>menjelaskan mekanisme secara lebih jelas, sementara guru membutuhkan materi yang terkurasi<br>dan waktu untuk perencanaan bersama.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5455Persepsi Mahasiswa S1 Terhadap Ilmuwan: Tantangan Mendobrak Stereotip Ilmuwan dalam Pendidikan Sains Sekolah Dasar2026-09-16T18:34:55+07:00Vinta A. Tiarani[email protected]Woro Sri Hastuti[email protected]Ikhlasul Ardi Nugroho[email protected]Evy Nur Rochmah[email protected]Pratiwi Pujiastuti[email protected]<p>Persepsi guru terhadap ilmuwan dan pemahaman tentang nature of science sangat mempengaruhi<br>penguasaan strategi pembelajaran IPA. Persepsi tersebut mempengaruhi kualitas guru dalam<br>mengajar dan menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembelajaran IPA. Tetapi, persepsi guru<br>yang tidak akurat terhadap ilmuwan dapat mengakibatkan pembelajaran IPA menjadi kurang<br>optimal. Penelitian sebelumnya mempelajari representasi ilmuwan dan pemahaman tentang<br>hakikat sains serta meneliti hubungan antara representasi ilmuwan dan hakikat sains. Penelitian<br>tersebut mengidentifikasi dan mengukur persepsi calon guru IPA terhadap ilmuwan, tetapi<br>tampaknya belum ada yang meneliti calon guru SD. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk<br>membandingkan persepsi mahasiswa terhadap ilmuwan melalui proses menggambar ilmuwan.<br>Studi ini mengambil data dari dua kelompok mahasiswa PGSD, yaitu mahasiswa semester 4 dan<br>6, di dua mata kuliah di semester genap. Mahasiswa semester 4 mengikuti mata kuliah Pendidikan<br>IPA yang berfokus pada bagaimana mengajar sains secara efektif di sekolah dasar, sedangkan<br>mahasiswa semester 6 sudah mengikuti mata kuliah ini tahun sebelumnya. Teknik pengumpulan<br>data menggunakan survei dengan instrumen lembar menggambar ilmuwan. Teknik analisis data<br>dilakukan dengan menganalisis ilustrasi/gambar dari mahasiswa menggunakan Rubrik Draw-AScientist-Test (DAST). Uji-t sampel independen digunakan untuk membandingkan ilustrasi dari<br>masing-masing kelompok. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa rata-rata skor mahasiswa<br>semester 4 adalah 5.2308, yang lebih tinggi daripada rata-rata skor mahasiswa semester 6 yaitu<br>4.7959. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa nilai p adalah 0.05, yang sama besar dengan<br>nilai α. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi mahasiswa semester 4 terhadap ilmuwan<br>lebih baik daripada persepsi mahasiswa semester 6.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5456Integrating Ethno-SSI into Project-Based Inquiry Learning: A CrossCultural Approach between Indonesia and Malaysia to Foster Sustainable Environmental Literacy2026-09-16T18:39:00+07:00Sudarmin[email protected]Dwi Yulianti[email protected]Skunda Diliarosta[email protected]Dwi Septiana Sari[email protected]Yasmin Azzahra[email protected]Fonny Dameatry Hutagalung[email protected]Novi Ratna Dewi[email protected]<p>Tantangan lingkungan global membutuhkan pendekatan pembelajaran sains yang<br>mengintegrasikan pengetahuan ilmiah, kearifan lokal, dan isu-isu keberlanjutan.<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi model pembelajaran<br>project inquiry terintegrasi Ethno-SSI berbasis budaya rempah Indonesia dan Malaysia—<br>termasuk wedhang uwuh, kayu manis, bumbu rendang, dan bumbu kari Malaysia—untuk<br>meningkatkan Sustainability Environmental Literacy (Literasi Lingkungan<br>Keberlanjutan) mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan design-based<br>research (DBR) yang melibatkan tahapan analisis, perancangan, pengembangan,<br>implementasi, dan evaluasi. Data dikumpulkan melalui observasi, kuesioner, wawancara,<br>serta penilaian pembelajaran, lalu dianalisis menggunakan metode deskriptif dan<br>kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model yang dikembangkan valid secara<br>konseptual, relevan secara kontekstual, dan efektif dalam mendorong keterlibatan inkuiri<br>serta Sustainability Environmental Literacy. Integrasi etnosains, isu-isu sosiosaintifik,<br>dan proyek inkuiri memungkinkan mahasiswa menghubungkan konsep-konsep ilmiah<br>dengan pengetahuan rempah lokal, praktik budaya, perspektif kesehatan, dan tantangan<br>keberlanjutan melalui pengalaman belajar yang otentik. Mahasiswa juga menunjukkan<br>persepsi positif dan keterlibatan aktif sepanjang proses pembelajaran. Penelitian ini<br>menyumbangkan kerangka kerja inovatif untuk mengintegrasikan etnosains, isu socioscientific, dan pembelajaran inkuiri dalam konteks lintas budaya. Temuan ini menegaskan<br>potensi pembelajaran sains berkonteks budaya dalam memperkuat pendidikan<br>berorientasi keberlanjutan di perguruan tinggi.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5457PENGARUH EKSTRAK KULIT PISANG SEBAGAI INHIBITOR KOROSI TERHADAP LAJU KOROSI BESI PADA MATERI REDOKS2026-09-16T19:00:15+07:00Rahma Khaira Oktavia[email protected]Sri Mulyanti[email protected]Mar’attus Solihah[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak kulit pisang sebagai inhibitor korosi<br>terhadap laju korosi besi dalam konteks pembelajaran reaksi reduksi dan oksidasi (redoks).<br>Penelitian ini menggunakan metode eksperimen sederhana dengan rancangan perbandingan<br>antara sampel besi yang direndam dalam air, tanpa perlakuan, dan dalam larutan ekstrak kulit<br>pisang. Parameter yang diamati adalah perubahan fisik berupa tingkat pembentukan karat pada<br>permukaan besi selama waktu tertentu. Ekstrak kulit pisang dipilih karena mengandung<br>senyawa polifenol dan antioksidan yang berpotensi menghambat reaksi oksidasi logam. Hasil<br>kajian menunjukkan bahwa ekstrak kulit pisang memiliki potensi sebagai inhibitor alami yang<br>dapat memperlambat proses korosi dibandingkan perlakuan kontrol. Hal ini disebabkan adanya<br>mekanisme adsorpsi senyawa organik pada permukaan logam yang membentuk lapisan<br>pelindung sehingga menghambat kontak antara besi, oksigen, dan air. Dengan demikian,<br>ekstrak kulit pisang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif inhibitor korosi ramah lingkungan<br>sekaligus sebagai media pembelajaran kontekstual pada materi redoks.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5458Needs Analysis of Science Teachers for Canva Based Interactive Multimedia to Strengthen Scientific Literacy2026-09-16T19:10:08+07:00Isni Rama Apriyanti[email protected]<p>This study aims to analyze the needs of junior high school science teachers in Batang Hari Regency<br>for the development of interactive multimedia to strengthen students' scientific literacy. The<br>research is a preliminary stage (define) of the ADDIE development model using a quantitative<br>descriptive method. Data were collected using a questionnaire distributed to 12 science teachers.<br>The analysis results showed that 100% of teachers have activated their Belajar.id accounts, but<br>83.3% still rely on static presentation media. Furthermore, 100% of the respondents stated that<br>students' scientific literacy is still low, primarily due to low reading interest and limited laboratory<br>facilities. Consequently, 100% of the teachers strongly agreed and needed the development of<br>interactive multimedia based on Canva for Education integrated with Socio-Scientific Issues (SSI)<br>and mini-research projects. The local environmental issues highly recommended by teachers<br>include the pollution of the Batang Hari River and the impact of coal mining. This study<br>contributes as a foundational baseline for developing contextual, low-code interactive media that<br>can bridge the gap between abstract science concepts and real-world environmental phenomena.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5459STUDI KEBERLANJUTAN COMMUNITY BASED WASTE MANAGEMENT DI MENOREH KOTA SEMARANG2026-09-16T19:12:19+07:00Alika Nayara Zahra[email protected]Arinta Fitriandani[email protected]Silma Ahidna Laily Nazla Noor[email protected]Agape Ruth Refael[email protected]Kevin Wisma Ananta[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Permasalahan sampah perkotaan terus meningkat akibat pertumbuhan penduduk, urbanisasi,<br>dan perubahan pola konsumsi masyarakat sehingga diperlukan sistem pengelolaan yang lebih<br>partisipatif dan berbasis masyarakat, seperti Community Based Waste Management (CBWM).<br>Penelitian ini bertujuan menganalisis keberlanjutan program CBWM melalui kegiatan bank<br>sampah di kawasan Menoreh, Kota Semarang, dengan metode deskriptif kualitatif dan<br>pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi,<br>kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program bank<br>sampah memberikan dampak positif terhadap aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.<br>Partisipasi masyarakat mencapai sekitar 50% dan mampu meningkatkan kebersihan lingkungan<br>serta mengurangi kebiasaan membuang dan membakar sampah sembarangan. Namun, program<br>masih menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan fasilitas, pemilahan sampah yang<br>belum optimal, minimnya inovasi pengolahan, serta kelembagaan yang belum formal.<br>Keberlanjutan program didukung oleh partisipasi masyarakat dan dukungan pemerintah, tetapi<br>masih memerlukan penguatan kelembagaan, inovasi pengelolaan, dan regenerasi pengelola<br>untuk pengembangan jangka panjang.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5460Analisis Pemanfaatan Jasa Ekosistem Rawa Pening oleh Masyarakat Desa Bejalen dalam Mendukung Keberlanjutan Lingkungan2026-09-16T19:27:01+07:00Septian Aga Himawan[email protected]Naysilla Rahmawati[email protected]Hexa Puspitarini[email protected]Refa Yunita Anggraini[email protected]Rafael Julian Erdana[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]<p>Rawa Pening merupakan ekosistem rawa yang memiliki berbagai fungsi ekologis,<br>ekonomi, sosial, dan budaya bagi masyarakat sekitar, khususnya di Desa Bejalen, Kecamatan<br>Ambarawa, Kabupaten Semarang. Pemanfaatan ekosistem rawa yang berlangsung secara terusmenerus berpotensi menimbulkan perubahan kondisi lingkungan apabila tidak diimbangi<br>dengan pengelolaan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk<br>pemanfaatan jasa ekosistem Rawa Pening oleh masyarakat Desa Bejalen serta implikasinya<br>terhadap keberlanjutan lingkungan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif<br>dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan<br>penelitian terdiri atas nelayan, petani musiman, pelaku budidaya ikan, dan masyarakat yang<br>memanfaatkan sumber daya rawa. Data dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data,<br>dan penarikan kesimpulan dengan menggunakan teknik triangulasi untuk menguji keabsahan<br>data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan jasa ekosistem Rawa Pening meliputi<br>jasa penyediaan, jasa pengaturan, jasa budaya, dan jasa pendukung. Jasa penyediaan<br>dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber ikan konsumsi, mata pencaharian, lahan pertanian<br>musiman, pupuk alami, dan bahan kerajinan berbahan eceng gondok. Jasa pengaturan terlihat<br>melalui fungsi rawa dalam pengendalian banjir dan pengaturan tata air, meskipun pengendalian<br>pencemaran air dan pertumbuhan eceng gondok masih belum optimal. Jasa budaya ditunjukkan<br>melalui tradisi Merti Desa, aktivitas wisata lokal, dan nilai sosial masyarakat yang masih<br>bergantung pada keberadaan rawa. Sementara itu, jasa pendukung meliputi penyediaan habitat<br>ikan, tempat budidaya ikan, dan kesuburan ekosistem rawa, meskipun keanekaragaman hayati<br>mulai mengalami penurunan akibat perubahan kondisi lingkungan. Penelitian ini menunjukkan<br>bahwa Rawa Pening memiliki peran penting dalam mendukung kehidupan masyarakat Desa<br>Bejalen, namun keberlanjutan fungsi ekosistemnya memerlukan pengelolaan lingkungan yang<br>lebih optimal dan berkelanjutan.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5461STUDI DINAMIKA MANGROVE DI KAWASAN DELTA PEMALI, KABUPATEN BREBES2026-09-16T19:34:54+07:00Isma Nur Abadha[email protected]Wikandaru Akbar Sholeh[email protected]Rayna Anasta Fadhila[email protected]Nur Abidah Imayanti[email protected]Rahmania Atalla Muhta[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Ekosistem mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kestabilan wilayah pesisir,<br>mengurangi abrasi, serta mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan dan aktivitas<br>ekonomi masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan<br>luas mangrove di kawasan Delta Pemali, Kabupaten Brebes, serta hubungannya terhadap<br>produktivitas perikanan dan perkembangan ekowisata mangrove pada periode 2021–2025.<br>Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis spasial melalui interpretasi<br>citra Satelit WorldView-2 tahun 2021 dan 2025 yang diolah menggunakan perangkat lunak<br>ArcGIS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas mangrove mengalami peningkatan dari<br>393,47 ha pada tahun 2021 menjadi 631,53 ha pada tahun 2025, sedangkan luas tambak<br>mengalami penurunan dari 2.578,02 ha menjadi 2.464,11 ha. Peningkatan luas mangrove<br>menunjukkan keberhasilan rehabilitasi kawasan pesisir yang berdampak pada perbaikan<br>kualitas lingkungan, pengurangan abrasi, dan peningkatan fungsi ekologis sebagai habitat biota<br>perairan. Meskipun luas tambak menurun, produktivitas perikanan tambak Kabupaten Brebes<br>relatif stabil, yaitu dari 71.987.789 kg pada tahun 2021 menjadi 71.543.192 kg pada tahun 2025.<br>Selain itu, perkembangan ekowisata mangrove Dewi Mangrove Sari memberikan dampak<br>positif terhadap diversifikasi ekonomi masyarakat pesisir melalui sektor wisata berbasis<br>konservasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan pesisir secara seimbang<br>antara konservasi mangrove dan pemanfaatan ekonomi masyarakat mampu mendukung<br>keberlanjutan lingkungan pesisir Delta Pemali.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5462Indikasi Paradoks Perilaku Hijau Mahasiswa: Antara Teori dan Realita2026-09-16T19:49:34+07:00Fauzi Helmi Romadhon[email protected]Dewi Kinasih[email protected]Rizki Rahmawati[email protected]Ibrahim Anggoro Situmorang[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis green behavior mahasiswa Fakultas<br>Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES)<br>serta mengkaji kesenjangan antara pemahaman lingkungan dengan penerapan perilaku ramah<br>lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menggunakan metode survei kuantitatif<br>cross-sectional dengan instrumen berupa kuesioner online berbasis skala Likert 1–4 yang<br>disebarkan kepada mahasiswa aktif FMIPA UNNES. Instrumen penelitian terdiri atas enam<br>parameter, yaitu environmental awareness, attitude, subjective norm, perceived behavioral<br>control, green behavioral intention, dan actual green behavior. Data dianalisis menggunakan<br>statistik deskriptif dan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antara gender dengan green<br>behavior. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum green behavior mahasiswa dalam<br>penelitian ini berada pada kategori tinggi. Diagram kategori menunjukkan bahwa sebagian<br>besar mahasiswa berada pada kategori tinggi, sementara kategori sedang masih ditemukan pada<br>beberapa parameter seperti norma sosial dan niat berperilaku hijau, sedangkan kategori rendah<br>memiliki jumlah responden paling sedikit. Mahasiswa perempuan memiliki jumlah kategori<br>tinggi lebih besar dibandingkan laki-laki. Namun, hasil uji Chi-Square menunjukkan tidak<br>terdapat hubungan yang signifikan antara gender dengan green behavior mahasiswa FMIPA<br>UNNES dengan nilai p-value sebesar 0,4218 (p > 0,01). Selain itu, hasil observasi langsung di<br>lingkungan kampus menunjukkan masih ditemukannya mahasiswa yang membuang sampah<br>sembarangan dan belum menerapkan perilaku ramah lingkungan secara konsisten. Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa secara umum mahasiswa dalam penelitian ini memiliki tingkat<br>environmental awareness, sikap lingkungan, dan green behavior yang tergolong tinggi. Namun<br>demikian, hasil observasi lapangan masih menunjukkan adanya perilaku yang tidak konsisten<br>dengan nilai-nilai ramah lingkungan, seperti membuang sampah sembarangan dan rendahnya<br>penerapan perilaku hijau dalam aktivitas sehari-hari. Temuan ini mengindikasikan adanya<br>paradoks antara pemahaman lingkungan yang tinggi dengan realitas perilaku mahasiswa di<br>lingkungan kampus.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5463ANALISIS DAMPAK ALIH FUNGSI LAHAN TERHADAP KONDISI FISIK SOSIAL EKONOMI DI KECAMATAN SAYUNG2026-09-16T19:53:17+07:00Hasna Nabila[email protected]Ahmad Abelardo[email protected]Sintia Nurlaeli[email protected]Annisa Indah Fitria Hakim[email protected]Ramadhani Syahrul Alam[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]<p>Alih fungsi lahan di Kecamatan Sayung menyebabkan peningkatan banjir rob dan genangan<br>yang berdampak pada kondisi fisik, sosial, dan ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan<br>menganalisis dampak alih fungsi lahan terhadap masyarakat di Kecamatan Sayung. Penelitian<br>menggunakan metode mixed methods melalui observasi, wawancara, data Badan Pusat<br>Statistik, serta analisis spasial menggunakan ArcGIS berbasis Esri Land Cover tahun 2017–<br>2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banjir rob semakin sering terjadi pada musim hujan<br>dengan ketinggian genangan mencapai 1 meter. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh buruknya<br>drainase dan berkurangnya daerah resapan akibat perubahan penggunaan lahan. Dampak fisik<br>yang terjadi meliputi tergenangnya jalan, rumah warga, fasilitas pendidikan, dan puskesmas<br>sehingga aktivitas masyarakat terganggu. Dari aspek sosial, banjir menyebabkan terganggunya<br>mobilitas, pendidikan, dan pekerjaan masyarakat, serta mendorong warga melakukan adaptasi<br>mandiri seperti meninggikan rumah dan jalan. Dari aspek ekonomi, pendapatan masyarakat<br>relatif tidak berubah karena mayoritas bekerja sebagai buruh pabrik, pedagang, petambak, dan<br>pengusaha. Namun, banjir meningkatkan beban ekonomi akibat biaya peninggian rumah dan<br>jalan, kerusakan bangunan, serta meningkatnya biaya transportasi saat banjir terjadi. Oleh<br>karena itu, diperlukan penataan ruang serta upaya mitigasi dan adaptasi banjir yang<br>berkelanjutan.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5464ANALISIS STRATEGI PENGELOLAAN SAMPAH PADA KELURAHAN SEKARAN, KOTA SEMARANG2026-09-16T20:03:33+07:00Muhammad Umar Al-Faruq[email protected]Dyah Wulandari[email protected]Fellycia Helin Wijaya[email protected]Nailaturrohmah[email protected]Salma Noni Ramadhani[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]<p>Pertumbuhan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat modern berkontribusi<br>terhadap meningkatnya volume timbulan sampah, termasuk di Kelurahan Sekaran, Kecamatan<br>Gunungpati, Kota Semarang. Kelurahan ini menghasilkan timbulan sampah sebesar 6.349<br>kg/rumah/hari dengan sistem pengelolaan yang masih mengandalkan paradigma konvensional<br>berupa pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan langsung ke TPA, tanpa pemilahan dan<br>tanpa keberadaan bank sampah. Penelitian ini bertujuan menganalisis permasalahan<br>pengelolaan sampah di Kelurahan Sekaran secara mendalam, meliputi aspek teknis operasional,<br>kelembagaan, partisipasi masyarakat, serta sarana dan prasarana pendukung. Pendekatan yang<br>digunakan adalah mixed methods dengan teknik purposive sampling, melibatkan masyarakat,<br>pengurus RT/RW, dan Kepala Kelurahan sebagai informan. Pengumpulan data dilakukan<br>melalui kuesioner, wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis<br>secara deskriptif kuantitatif, kualitatif, serta menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa tingkat kepedulian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan tergolong<br>cukup tinggi, namun belum diimbangi oleh sistem pengelolaan yang memadai. Keterbatasan<br>fasilitas TPS, rendahnya praktik pemilahan sampah, serta belum optimalnya sosialisasi menjadi<br>kendala utama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan pengelolaan sampah di<br>Kelurahan Sekaran memerlukan sinergi antara penyediaan fasilitas, edukasi berkelanjutan, serta<br>kolaborasi aktif antara masyarakat, mahasiswa, dan pemerintah.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5465DINAMIKA PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KAWASAN PENDIDIKAN UNNES KECAMATAN GUNUNGPATI2026-09-16T20:07:42+07:00Halfidz Defrians Krisnanda[email protected]Hani Febriyanti[email protected]Salwa Amelia Firdaus[email protected]Cindy Nabila Widyasari[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Perubahan penggunaan lahan di kawasan perguruan tinggi merupakan fenomena yang semakin<br>intensif seiring ekspansi infrastruktur pendidikan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi<br>luas, laju, dan arah perubahan penggunaan lahan di kawasan Sekaran, Patemon, dan Kalisegoro<br>yang merupakan wilayah inti kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES), Kecamatan<br>Gunungpati, Kota Semarang, selama periode 2021–2026. Metode yang digunakan adalah<br>klasifikasi penggunaan lahan secara visual (visual interpretation) berbasis penginderaan jauh<br>dengan memanfaatkan data citra satelit World Imagery Wayback pada dua titik waktu berbeda<br>(multitemporal analysis), yang diolah menggunakan perangkat lunak ArcMap 10.8. Klasifikasi<br>menghasilkan empat kelas tutupan lahan, yaitu kebun campuran, lahan pertanian, lahan<br>terbangun, dan sungai, pada total kawasan kajian seluas ±1.625 ha. Hasil analisis menunjukkan<br>bahwa lahan terbangun bertambah seluas 115,15 ha (25,63%) dari 449,30 ha (27,64%) pada<br>tahun 2021 menjadi 564,45 ha (34,72%) pada tahun 2026, dengan laju rata-rata 23,03 ha per<br>tahun. Pertambahan ini terutama bersumber dari konversi kebun campuran yang berkurang<br>113,49 ha (11,89%), sedangkan lahan pertanian relatif stabil dengan penurunan hanya 1,66 ha<br>(0,78%). Laju konversi yang tinggi ini diprediksi akan berdampak pada penurunan kapasitas<br>resapan air tanah, peningkatan risiko limpasan permukaan, munculnya fenomena urban heat<br>island, serta tekanan terhadap keanekaragaman hayati lokal. Temuan ini mengindikasikan<br>perlunya evaluasi Rencana Induk Pengembangan Kampus UNNES yang mengintegrasikan<br>prinsip green campus guna menjaga keseimbangan antara ekspansi fisik dan kelestarian<br>lingkungan.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5466Analisis Dinamika Luas Rawa Pening dan Tutupan Eceng Gondok Menggunakan Citra Satelit Multitemporal2026-09-16T20:12:45+07:00Mada Hatma Wijaya[email protected]Diva Oktavia Mardiani[email protected]Risma Nurhanifah Khasanah[email protected]Ismi Azizah Difatli[email protected]Malva Emiria Wanda Zahira[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Rawa Pening merupakan danau alami di Jawa Tengah yang memiliki fungsi ekologis, sosial,<br>dan ekonomi, tetapi mengalami tekanan lingkungan akibat sedimentasi, eutrofikasi, dan<br>pertumbuhan eceng gondok. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan luas badan<br>air Rawa Pening dan tutupan eceng gondok secara spasial-temporal pada tahun 2018 dan 2025.<br>Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif berbasis analisis spasial melalui<br>interpretasi visual dan digitasi citra satelit resolusi tinggi. Data yang dianalisis meliputi luas<br>badan air dan luas tutupan eceng gondok pada dua tahun pengamatan, kemudian dibandingkan<br>untuk mengetahui perubahan luas antarwaktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas Rawa<br>Pening meningkat dari 1.678,70 ha pada tahun 2018 menjadi 1.822,86 ha pada tahun 2025, atau<br>bertambah sebesar 144,16 ha. Sebaliknya, luas tutupan eceng gondok menurun dari 806,09 ha<br>pada tahun 2018 menjadi 490,79 ha pada tahun 2025, atau berkurang sebesar 315,29 ha.<br>Persentase tutupan eceng gondok terhadap luas Rawa Pening juga menurun dari 48,02%<br>menjadi 26,92%. Penurunan tutupan eceng gondok diduga berkontribusi terhadap<br>meningkatnya area badan air terbuka yang teridentifikasi pada citra satelit. Meskipun demikian,<br>tutupan eceng gondok pada tahun 2025 masih menunjukkan adanya tekanan ekologis terhadap<br>Rawa Pening. Oleh karena itu, pemantauan spasial-temporal secara berkala diperlukan sebagai<br>dasar pengelolaan danau yang lebih berkelanjutan.</p>2026-09-16T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5467Dinamika Tutupan Lahan di Kawasan Wisata Guci Kabupaten Tegal2026-09-17T16:47:24+07:00Lin Aliyyu[email protected]Devi Noravida[email protected]Alif Zidan Nabhan[email protected]Ikhwan Ma’rufi Gusni Ramadhan[email protected]Keisya Gadiza Faisal[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Pesatnya perkembangan sektor pariwisata di Kawasan Wisata Guci memicu perubahan<br>penggunaan lahan yang signifikan, yang berpotensi mengancam stabilitas ekosistem di wilayah<br>hulu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan tutupan lahan di Kawasan<br>Wisata Guci dalam kurun waktu lima tahun terakhir (2020 - 2025). Metode penelitian yang<br>digunakan yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Metode kuantitatif dilakukan melalui analisis<br>sosio temporal menggunakan perangkat lunak ArcMap 10.8 dengan teknik intepretasi visual pada<br>citra satelit WorldView2 tahun 2025 dan pembandingan data tutupan tahun 2020. Sedangkan,<br>metode kuantitatif dilakukan dengan wawancara mendalam dengan ketua RT dan mahasiswa<br>eksternal di kawasan setempat. Hasil penelitian menunjukkan adanya tren ekspansi lahan<br>terbangun yang masif sebesar 204 Hektar, dengan konsentrasi pembangunan infrastruktur<br>pariwisata di bagian tengah dan utara wilayah. Sebaliknya, lahan vegetatif mengalami penurunan<br>tajam, terutama pada sektor sawah sebesar 92,8 Hektar dan kebun campuran sebesar 81,1 Hektar.<br>Temuan ini menunjukkan bahwa konversi lahan hijau menjadi area kedap air ini menyebabkan<br>hilangnya struktur perakaran alami yang berfungsi sebagai pengikat tanah, sehingga memicu<br>pemadatan tanah dan menurunkan kapasitas infiltrasi. Kesimpulannya, tekanan pembangunan<br>pariwisata yang tidak terkendali di Kawasan Guci telah menurunkan daya dukung lingkungan dan<br>meningkatkan risiko aliran permukaan, sehingga diperlukan kebijakan manajemen lahan yang<br>lebih ketat untuk menjaga keberlanjutan fungsi lindung di wilayah hulu.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5468ANALISIS POLA KONSUMSI FAST FASHION DAN KESADARAN LINGKUNGAN MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG2026-09-17T16:53:00+07:00Arham Ade Ahmad[email protected]Aqeela Gulrukh Nurrudin[email protected]Naura Tsany Nirmala[email protected]Shalwa Faniya[email protected]Kemal Maulana[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]<p>Pesatnya perkembangan industri fast fashion mendorong pola konsumsi pakaian berlebihan<br>yang menghasilkan timbulan limbah tekstil dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan<br>menganalisis pola konsumsi fast fashion mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES),<br>tingkat kesadaran lingkungan terhadap limbah tekstil, serta hubungan keduanya. Penelitian<br>dilaksanakan di UNNES (2026) menggunakan pendekatan mixed methods dengan<br>pengumpulan data kuesioner daring dan wawancara mendalam. Pengambilan sampel dilakukan<br>dengan proportionate stratified random sampling (115 responden dari sembilan fakultas), serta<br>wawancara secara purposive sampling. Analisis kuantitatif menggunakan statistik deskriptif<br>dan korelasi Spearman, sedangkan data kualitatif dianalisis melalui reduksi, penyajian, dan<br>penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan pola konsumsi fast fashion mahasiswa<br>UNNES tergolong moderat dan rasional, ditandai mayoritas (77,4%) membeli 1–2 potong<br>pakaian per belanja, berbelanja setiap 3–6 bulan sekali (55,7%), serta didorong kebutuhan<br>(65,2%). Tingkat kesadaran lingkungan mahasiswa tergolong tinggi dengan 91,3% mengenal<br>konsep fast fashion dan 40,9% tidak setuju terhadapnya. Namun, terdapat kesenjangan sikap<br>dan perilaku nyata (attitude-behavior gap) yang tercermin dari rendahnya daur ulang pakaian<br>(31,3%) akibat minimnya infrastruktur pengelolaan limbah kampus. Hasil uji Spearman<br>menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara pola konsumsi fast fashion dengan<br>kesadaran lingkungan mahasiswa (rs = -0,094; p = 0,315). Gender dan usia tidak memengaruhi<br>pandangan terhadap fast fashion. Diperlukan intervensi berupa edukasi dan penyediaan fasilitas<br>pengelolaan limbah tekstil di kampus untuk menjembatani kesenjangan tersebut.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5469KETAHANAN AIR DI DESA LERENG GUNUNG: STUDI KASUS KRISIS AIR BERSIH DESA CANDI REJO, KABUPATEN SEMARANG2026-09-17T16:57:28+07:00Muhammad Fadhil Rafif[email protected]Rifa Damai Evlinsi[email protected]Bayu Putra Akbar[email protected]Gayatri Metaly Putri Sugito[email protected]Ghefira Rizky Maulida[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Krisis air bersih menjadi permasalahan yang semakin sering terjadi di kawasan lereng<br>pegunungan akibat perubahan kondisi lingkungan, keterbatasan infrastruktur air, dan<br>meningkatnya tekanan terhadap sumber daya air. Desa Candirejo, Kabupaten Semarang,<br>merupakan salah satu wilayah di lereng Gunung Ungaran yang mengalami kerentanan krisis air<br>terutama pada musim kemarau. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi lingkungan<br>fisik, sistem pengelolaan air bersih, serta strategi adaptasi masyarakat dalam mempertahankan<br>ketahanan air. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif dan<br>desain studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan<br>dokumentasi terhadap masyarakat, pengelola BP SPAM, serta pemerintah desa. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa penurunan debit Sungai Tuntang, keterbatasan distribusi air perpipaan,<br>tingginya kandungan kapur pada sumur bor, serta minimnya sarana penyimpanan air menjadi<br>faktor utama penyebab krisis air di Desa Candirejo. Masyarakat melakukan berbagai strategi<br>adaptasi, seperti penghematan penggunaan air, pemanfaatan sumber air alternatif seperti<br>Sendang, penggunaan sistem distribusi bergilir antarwilayah, serta kerja sama dengan pihak<br>luar melalui program CSR untuk penyediaan air bersih. Selain itu, pembangunan bendungan<br>dan pengelolaan air berbasis masyarakat melalui BP SPAM menjadi bagian penting dalam<br>menjaga keberlanjutan pasokan air. Penelitian ini menunjukkan bahwa ketahanan air<br>masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik, tetapi juga oleh kemampuan<br>adaptasi sosial, pengelolaan sumber daya air, dan dukungan infrastruktur yang memadai.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5470ANALISIS KEBERLANJUTAN BANK SAMPAH PADA SEBUAH PERMUKIMAN SEKITAR KAWASAN INDUSTRI DI KOTA SEMARANG2026-09-17T17:03:22+07:00Maymi Naila Venoche[email protected]Ardisa Kamila Basiri[email protected]Endang Safitri Wulansari[email protected]Nugraha Tri Admaja[email protected]Nadia Nisrina AM Nisrina AM[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas masyarakat di Kota Semarang menyebabkan<br>timbulan sampah rumah tangga terus meningkat dan berpotensi menimbulkan pencemaran<br>lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Salah satu upaya pengelolaan sampah berbasis<br>masyarakat yang diterapkan adalah program bank sampah melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse,<br>Recycle). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keberlanjutan pengelolaan Bank Sampah<br>Wijaya Makmur di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Tugu, Kota Semarang berdasarkan<br>aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan. Penelitian menggunakan pendekatan<br>deskriptif kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan<br>informan yang terdiri atas pengelola bank sampah, anggota PKK, ketua RT, dan masyarakat<br>sekitar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bank Sampah Wijaya Makmur yang berdiri sejak<br>tahun 2018 mampu meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pemilahan sampah rumah<br>tangga, mendorong kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan, serta memberikan manfaat<br>ekonomi melalui sistem tabungan sampah dan pengolahan sampah organik menjadi produk<br>biowash yang memiliki nilai jual. Selain itu, program ini turut membantu mengurangi<br>penumpukan sampah dan jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).<br>Keberlangsungan program juga didukung oleh peran aktif PKK, pengurus RT/RW, dan<br>pemerintah daerah. Namun, program ini masih menghadapi kendala berupa keterbatasan<br>fasilitas rumah pilah, ketergantungan terhadap pengepul, dan belum konsistennya kesadaran<br>masyarakat dalam memilah sampah. Oleh karena itu, diperlukan penguatan pengelolaan dan<br>partisipasi masyarakat untuk mendukung keberlanjutan program bank sampah.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5471ANALISIS PERILAKU DAN KESADARAN TERHADAP PENGGUNAAN PLASTIK SEKALI PAKAI DI LINGKUNGAN FMIPA UNNES2026-09-17T17:11:44+07:00Widodo Nur Rofiq[email protected]Kurnia Intan Septyani[email protected]Dhea Putri Ananda[email protected]Radidtya Aqila Az-Zahra[email protected]Laurelia Salwa Mustika[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Sampah plastik sekali pakai menjadi permasalahan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan<br>di lingkungan perguruan tinggi, termasuk di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam<br>(FMIPA) Universitas Negeri Semarang (UNNES). Penelitian ini bertujuan menganalisis<br>perilaku penggunaan plastik sekali pakai, tingkat kesadaran lingkungan, faktor-faktor yang<br>mempengaruhinya, serta merumuskan strategi pengurangan berbasis analisis SWOT di<br>lingkungan FMIPA UNNES. Pendekatan kualitatif deskriptif diterapkan dengan teknik<br>purposive sampling terhadap 15 responden yang terdiri atas 10 mahasiswa, 3 penjual kantin,<br>dan 2 petugas kebersihan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi<br>lapangan pada April hingga Mei 2026, kemudian dianalisis menggunakan model analisis<br>interaktif Miles, Huberman, dan Saldana (2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa<br>penggunaan plastik sekali pakai di lingkungan FMIPA masih tergolong tinggi, terutama berupa<br>kantong plastik, gelas cup, sedotan, dan kemasan styrofoam. Penggunaan tersebut dipengaruhi<br>oleh faktor kepraktisan, kebiasaan konsumsi, sistem pelayanan kantin yang belum ramah<br>lingkungan, dan keterbatasan fasilitas pendukung. Meskipun sebagian besar mahasiswa telah<br>memiliki kesadaran yang cukup baik terhadap dampak plastik, kesadaran itu belum mendorong<br>perubahan perilaku secara konsisten. Kondisi ini mencerminkan value-action gap antara<br>kesadaran lingkungan dan perilaku lingkungan nyata. Analisis SWOT menunjukkan bahwa<br>FMIPA UNNES berada pada posisi Kuadran I dengan memanfaatkan kebijakan kampus<br>konservasi dan meningkatnya kesadaran mahasiswa sebagai kekuatan utama. Strategi yang<br>dirumuskan mencakup penguatan edukasi, perluasan fasilitas ramah lingkungan, pengawasan<br>penerapan kebijakan, dan pembiasaan perilaku berkelanjutan secara kolektif.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5472Analisis Perubahan Daya Dukung Lahan Pertanian Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2020 dan 20252026-09-17T17:29:44+07:00Ferdy Choirus Sani[email protected]Friyani Aulia Putri[email protected]Fina Nikmatussania[email protected]Reina Rahmadhina Anggraini[email protected]Ni’ma Qorina[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]<p>Provinsi Jawa Tengah menghadapi tantangan serius berupa alih fungsi lahan dan tekanan<br>penduduk yang mengancam stabilitas ketahanan pangan daerah. Penelitian ini bertujuan untuk<br>menganalisis perubahan daya dukung lahan (DDL) pertanian di kabupaten/kota Provinsi Jawa<br>Tengah pada periode 2020 dan 2025. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif<br>kuantitatif dengan menghitung rasio luas panen per kapita terhadap kebutuhan lahan untuk<br>swasembada pangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketimpangan spasial yang<br>signifikan pada tahun 2025 wilayah dengan daya dukung tertinggi didominasi oleh kabupaten<br>yang berada di Kelas 2, dengan Kabupaten Sragen mencatatkan nilai tertinggi sebesar 2,13.<br>Sebaliknya, wilayah perkotaan seperti Kota Surakarta mencatatkan nilai terendah yaitu (0,00)<br>akibat konversi lahan sawah secara menyeluruh menjadi kawasan non-pertanian sesuai dengan<br>rencana tata ruang wilayah terbaru. Secara keseluruhan, meskipun sebagian besar wilayah<br>masih mampu berswasembada, kecenderungan penurunan nilai DDL di berbagai titik<br>menunjukkan perlunya kebijakan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B)<br>yang lebih ketat untuk menjamin ketahanan pangan di masa depan.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5473ANALISIS JEJAK KARBON HARIAN MAHASISWA KOS DI KAWASAN SEKARAN, UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG (UNNES) BERDASARKAN KONSUMSI ENERGI DAN MOBILITAS2026-09-17T17:34:21+07:00Muhammad Hanif Firdaus[email protected]Syahida Kirani[email protected]Annisa Nuria Mutiara Salis[email protected]Aulia Zalfa Naila[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]<p>Peningkatan jumlah mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) setiap tahun<br>mendorong bertambahnya hunian kos di kawasan Sekaran yang berdampak pada peningkatan<br>konsumsi energi listrik dan mobilitas harian mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis<br>jejak karbon harian mahasiswa kos serta mengidentifikasi faktor yang mempengaruhinya.<br>Penelitian menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan pengambilan sampel secara<br>purposive sampling terhadap 100 mahasiswa aktif UNNES yang tinggal di kos kawasan<br>Sekaran. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring, kemudian dikonversi menjadi emisi<br>CO₂e menggunakan pedoman IPCC 2006 Tier 1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa<br>rata-rata total jejak karbon harian mahasiswa mencapai 3,27 kg CO₂, dengan sektor listrik<br>menyumbang 2,32 kg CO₂ (70,94%) dan sektor transportasi 0,94 kg CO₂ (29,06%). Sebanyak<br>52% mahasiswa berada pada kategori jejak karbon tinggi, 47% sedang, dan hanya 1% rendah.<br>Perangkat rice cooker, kulkas, dan AC menjadi penyumbang emisi listrik tertinggi, sementara<br>dominasi penggunaan sepeda motor (82%) menjadi penyebab utama emisi transportasi.<br>Penelitian ini diharapkan menjadi dasar penyusunan strategi pengurangan emisi dan kebijakan<br>konservasi lingkungan di kawasan kampus.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5474Analisis Dampak Sosial Ekonomi dan Lingkungan Operasional Bengkel Sepeda Motor di Kawasan Pemukiman Gunung Pati, Semarang2026-09-17T17:38:34+07:00Aniq Muflihah[email protected]Nova Fahmi Destian[email protected]Butsainah Adilah Azharyya[email protected]Nazwa Ariyani Sigit[email protected]Muhammad Arfinda Raja Fahmi[email protected]Andhina Putri Heriyanti[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]<p>Peningkatan jumlah kendaraan bermotor di kawasan permukiman mahasiswa Kecamatan<br>Gunungpati, Kota Semarang, memicu menjamurnya usaha bengkel sepeda motor skala mikro<br>yang berpotensi menimbulkan eksternalitas lingkungan dan sosial. Penelitian ini bertujuan<br>untuk menganalisis dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi dari aktivitas operasional<br>Bengkel Wardana Motor, serta mengidentifikasi titik kritis atau hotspot yang dihasilkan.<br>Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran (mixed methods). Analisis<br>lingkungan dilakukan melalui pemodelan Life Cycle Assessment (LCA) dengan batasan<br>gate-to-gate (ISO 14040) dan metode IPCC 2021 (ISO 14067) menggunakan perangkat lunak<br>openLCA v2.0 untuk mengukur parameter Global Warming Potential (GWP100). Data<br>dampak sosial-ekonomi dihimpun melalui kuesioner kepada masyarakat sekitar dan dianalisis<br>secara deskriptif persentase, kemudian divalidasi menggunakan teknik triangulasi data. Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa operasional bengkel (melayani 260 unit kendaraan/bulan)<br>menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 1.862 kg CO₂ eq/bulan (7,16 kg CO₂<br>eq/unit kendaraan) yang sepenuhnya disumbangkan oleh kategori fossil fuels akibat tingginya<br>konsumsi energi listrik dan bahan bakar fosil teknis. Operasional bengkel menghasilkan<br>eksternalitas berupa 100.000 liter/bulan limbah cair dan akumulasi limbah B3 (oli bekas, aki,<br>kain majun berminyak). Aspek ekonomi bengkel berkontribusi positif pada penyerapan<br>tenaga kerja lokal. Aspek sosial keberadaan bengkel menurunkan kenyamanan lingkungan<br>(48%) dan memicu potensi konflik horizontal (45%) akibat polusi suara dan visual limbah.<br>Penelitian ini menyimpulkan bahwa operasional bengkel di kawasan permukiman berisiko<br>tinggi mencemari lingkungan sehingga memerlukan langkah intervensi segera berupa audit<br>efisiensi energi, pembuatan bak pemisah minyak (oil separator), dan pembatasan jam<br>operasional.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5475Analisis Tekno-Ekonomi dan Lingkungan Pengembangan K-SIGN Menggunakan Metode Produksi Garam Portugis dan Maduris dengan Pendekatan SWOT–USG2026-09-17T17:44:35+07:00Triyono[email protected]Bambang Hari Wibisono[email protected]Deva Fosterharoldas Swasto[email protected]<p>Pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Pulau Rote merupakan<br>bagian dari Proyek Strategis Nasional untuk mendukung swasembada garam. Penelitian ini<br>menganalisis kelayakan pengembangan K-SIGN melalui pendekatan SWOT–USG dengan<br>fokus pada CAPEX–OPEX serta dampak lingkungan melalui perbandingan metode Portugis<br>dan Maduris. Metode penelitian bersifat deskriptif-kualitatif dengan dukungan estimasi teknik,<br>observasi lapangan, dan studi pustaka. Hasil analisis menunjukkan bahwa K-SIGN memiliki<br>kekuatan berupa dukungan pemerintah, iklim yang sangat mendukung, dan potensi produksi<br>besar, namun menghadapi kelemahan seperti geomorfologi berbukit, kebutuhan investasi<br>tinggi, dan keterbatasan logistik kepulauan. Ancaman utama meliputi perubahan iklim, abrasi,<br>sedimentasi, dan gangguan operasional akibat cuaca ekstrem. Secara ekonomi, metode<br>Portugis menawarkan CAPEX–OPEX lebih rendah, sedangkan metode Maduris memberikan<br>produktivitas dan kualitas garam lebih tinggi namun berbiaya besar. Dari aspek lingkungan,<br>metode Portugis lebih berkelanjutan dengan jejak karbon rendah, sementara metode Maduris<br>memiliki risiko limbah geomembran dan konsumsi energi tinggi. Penelitian menyimpulkan<br>bahwa pendekatan hybrid Portugis–Maduris merupakan opsi paling optimal untuk<br>menyeimbangkan efisiensi ekonomi, produktivitas, dan keberlanjutan lingkungan.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5476Pemanfaan Citra LiDAR untuk Penyiapan Pembangunan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur2026-09-17T17:48:32+07:00Miftahul Huda[email protected]Bambang Kun Cahyono[email protected]<p>Indonesia belum mampu untuk memenuhi kebutuhan garam domestik. Kebutuhan garam untuk<br>keperluan garam konsumsi telah dapat dipenuhi, namun untuk garam industri masih belum<br>dapat dipenuhi dari produksi garam nasional. Program Kawasan Sentra Industri Garam<br>Nasional (K-SIGN) hadir untuk memenuhi gap kebutuhan tersebut melalui upaya<br>ekstensifikasi lahan garam. Selama beberapa dekade luas lahan garam stagnan bahkan<br>cenderung untuk turun dikarenakan alih fungsi lahan. Penelitian ini bertujuan untuk (1)<br>memanfaatkan teknologi penginderaan jauh untuk memetakan lahan tambak garam (2) melihat<br>aspek kesesuaian lahan tambak garam untuk dimanfaatkan sebagai program ekstensifikasi<br>lahan tambak garam. Teknologi yang digunakan adalah pemetaan penutupan lahan dengan<br>menggunakan foto udara dan pemetaan topografi permukaan dengan menggunakan citra<br>LiDAR. Wahana Pemotretan Udara menggunakan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dengan<br>Skala 1:1000. Hasil kajian menunjukkan bahwa salah satu aspek kesesuaian lahan yang<br>menjadi prasyarat kesesuaian lahan adalah kemiringan lereng, diperlukan kemiriangan antara<br>0-2% untuk dapat dimanfaatkan sebagai lahan tambak garam. Pemetaan dibagi menjadi 7 Blok.<br>Data Digital Surface Model (DSM) diperoleh dengan memanfaatkan seluruh point cloud hasil<br>akuisisi LiDAR, tanpa melalui proses penyaringan lebih lanjut, sehingga mampu<br>merepresentasikan kondisi permukaan aktual termasuk vegetasi, bangunan, dan objek lain<br>di atas tanah. Resolusi DSM yang dihasilkan adalah 0,25 meter, yang memberikan detail<br>cukup tinggi untuk kebutuhan analisis topografi maupun pemetaan pada skala 1:1000. Data<br>Digital Terrain Model (DTM) memanfaatkan point cloud hasil klasifikasi ground sehingga<br>model yang dihasilkan merepresentasikan kondisi permukaan tanah aktual, bebas dari vegetasi,<br>bangunan, maupun objek non-permanen lainnya. Resolusi yang digunakan adalah 0,5 meter.<br>Data DTM inilah yang digunakan sebagai basis utama dalam analisis topografi, pembuatan<br>kontur, serta perencanaan teknis yang memerlukan representasi akurat dari kondisi permukaan<br>tanah yang akan dimanfaatkan dalam pembuatan tambak garam.</p>2026-09-17T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5477ANALISIS KOMPARATIF KUALITAS PERTANYAAN MAHASISWA BERDASARKAN TAKSONOMI BLOOM DAN KETERAMPILAN PROSES SAINS2026-09-27T15:20:34+07:00Susanti Wulandari[email protected]Mia Widianti[email protected]Riska Yanawati[email protected]Faisal Akbar Rahmansyah[email protected]<p>Perbedaan pengalaman akademik mahasiswa berpotensi memengaruhi kualitas pertanyaan<br>sebagai salah satu indikator Keterampilan Proses Sains. Penelitian ini bertujuan untuk<br>menganalisis perbedaan kualitas pertanyaan antara mahasiswa semester 1 dan semester 5<br>Program Studi Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam. Penelitian menggunakan<br>pendekatan kuantitatif dengan metode komparatif. sampel penelitian terdiri atas 58 mahasiswa<br>semester 1 dan 55 mahasiswa semester 5. Data dikumpulkan melalui penugasan pertanyaan<br>selama tiga pertemuan. Hasil uji normalitas menunjukkan data berdistribusi normal dan uji<br>homogenitas menunjukkan data bersifat homogen. Oleh karena itu, uji hipotesis menggunakan<br>Independent Sample t-Test yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara<br>kualitas pertanyaan mahasiswa semester 1 dan semester 5 dengan taraf signifikansi <br>dimana H0 ditolak dan Ha diterima, dengan kualitas pertanyaan mahasiswa semester 5 lebih<br>tinggi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengalaman akademik berperan dalam<br>pengembangan Keterampilan Proses Sains, khususnya kemampuan mengajukan pertanyaan,<br>sehingga perlu dirancang strategi pembelajaran yang secara sistematis melatihkan keterampilan<br>tersebut sejak awal perkuliahan</p>2026-09-27T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 Proceeding Seminar Nasional IPAhttps://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5521INQUIRI BERBASIS QUANTUM LEARNING OLAH PH2R (PIKIR, HATI, RASA DAN RAGA) WUJUDKAN LULUSAN KREATIF DALAM BELAJAR KIMIA MAN TEMANGGUNG2026-09-23T14:06:12+07:00Sri Yani Widyaningsih[email protected]<p>Perbaikan pembelajaran dengan mengikuti alur PTK (Penelitian Tindakan Kelas)<br>bertujuan untuk mewujudkan lulusan kreatif dalam belajar kimia, dilakukan melalui pendekatan<br>mendalam menerapkan model inquiry berbasis quantum learning dengan prinsip pembelajaran<br>olah PH2R (Pikir, Hati, Rasa dan Raga) materi Elektrokimia kelas XII IPS 3 MAN<br>Temanggung. Dilakukan tahun pelajaran 2024/2025 dua siklus secara kesinambungan, subyek<br>36 siswa. Setiap siklus terdiri dari tiga kegiatan yaitu merencanakan, melaksanakan, dan<br>merefleksi. Tujuan perbaikan pembelajaran ini adalah tindaklanjut hasil analisis terhadap<br>assesmen materi yang telah diberikan, dengan menganalisa kekurangan diharapkan mampu<br>menghasilkan kualitas yang aktual serta pembelajaran yang lebih sempurna di masa mendatang.<br>Terdapat dua jenis data, yaitu: 1). data kualitatif, berupa: hasil observasi setiap siklus<br>pada lembar observasi, hasil wawancara langsung, hasil wawancara tertulis, 2). data kuantitatif,<br>berupa: nilai formatif akhir siklus I, II. Hasil analisis data kuantitatif masing-masing akhir siklus<br>diperoleh: 1) siklus I: nilai rata-rata 74,97 ketuntasan 58%, sebanyak 21 siswa mencapai<br>ketuntasan, 2). siklus II: nilai rata-rata 79,87 ketuntasan sebesar 94,44%, sebanyak 34 siswa<br>memperoleh ketuntasan. Sedangkan hasil analisis kualitatif penilaian terhadap prinsip<br>pembelajaran melalui olah Hati, Rasa dan Raga memberikan predikat baik di siklus I nilai ratarata 81,57, predikat baik siklus II 86,56. Hasil perbaikan pembelajaran yang dilakukan oleh<br>pengajar sekaligus peneliti disimpulkan bahwa pendekatan mendalam menerapkan model<br>inquiry berbasis quantum learning melalui olah PH2R (Pikir, Hati, Rasa dan Raga) memberikan<br>hasil yang signifikan dan memberikan pengalaman untuk motivasi pendidik untuk selalu<br>mengevaluasi dan merefleksi hasil pembelajaran dan melakukan perbaikan sepanjang hayat.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5522Pemanfaatan Canva Berbasis Project Based Learning untuk Meningkatkan Motivasi dan Pemahaman Konsep IPA SMP2026-09-23T14:10:35+07:00Aufiya Alkhikni Mufida[email protected]Talitha Belva Agustine[email protected]Nur Hidayati[email protected]<p>Perkembangan teknologi digital membuka peluang dalam meningkatkan kualitas<br>pembelajaran, khususnya melalui pemanfaatan media interaktif visual. Namun, pembelajaran<br>Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat SMP masih menghadapi permasalahan seperti<br>rendahnya motivasi belajar dan kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsep abstrak.<br>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan teknologi interaktif visual berbasis<br>Canva yang diintegrasikan dengan model Project Based Learning (PjBL) dalam meningkatkan<br>motivasi dan pemahaman konsep IPA siswa SMP. Metode yang digunakan adalah studi literatur<br>dengan menganalisis berbagai hasil penelitian relevan terkait penggunaan Canva dan<br>pembelajaran berbasis proyek. Hasil kajian menunjukkan bahwa Canva sebagai media<br>pembelajaran interaktif berbasis visual mampu meningkatkan motivasi belajar, keterlibatan<br>aktif, serta memfasilitasi pemahaman konsep abstrak melalui visualisasi yang lebih konkret.<br>Integrasi Canva dengan model PBL juga terbukti memperkuat proses konstruksi pengetahuan,<br>meningkatkan keterampilan berpikir kritis, serta menciptakan pembelajaran yang lebih<br>kontekstual dan bermakna. Penelitian ini juga menghasilkan kerangka konseptual integrasi<br>Canva berbasis Project Based Learning (PjBL) yang menjelaskan hubungan antara media visual<br>interaktif, motivasi belajar, dan pemahaman konsep IPA siswa. Dengan demikian, pemanfaatan<br>Canva berbasis PBL memiliki potensi sebagai inovasi pembelajaran yang efektif dalam<br>meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di tingkat SMP.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5523PERANCANGAN ULANG KURSI JAHIT ERGONOMIS BERDASARKAN ANTROPOMETRI PADA PENJAHIT2026-09-23T14:18:31+07:00Nanda Putra Nofaliza[email protected]Fachri Indra M[email protected]Siswiyanti[email protected]<p>Aktivitas menjahit dilakukan dalam posisi duduk dalam waktu yang lama sehingga memerlukan<br>fasilitas kerja yang ergonomis. Permasalahan yang ditemukan adalah kursi jahit yang<br>digunakan belum sesuai dengan dimensi tubuh pengguna sehingga menimbulkan postur kerja<br>yang kurang nyaman dan berpotensi menyebabkan keluhan fisik. Penelitian ini bertujuan<br>merancang ulang kursi jahit ergonomis berdasarkan data antropometri pengguna. Metode yang<br>digunakan adalah pendekatan antropometri dengan mengukur dimensi tubuh pekerja, seperti<br>tinggi popliteal, lebar pinggul, dan panjang bokong-popliteal, kemudian dianalisis<br>menggunakan persentil untuk menentukan ukuran kursi yang sesuai. Kedalaman kursi 400 mm,<br>Lebar sandaran duduk 380 mm, dan Tinggi sandaran Kursi 380 mm, serta tinggi sandaran<br>punggung 380 mm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi kursi sebelumnya belum<br>memenuhi prinsip ergonomi karena belum mampu menyesuaikan postur dan dimensi tubuh<br>pekerja, sedangkan kursi hasil rancangan telah disesuaikan dengan data antropometri pengguna<br>sehingga dapat memberikan posisi duduk yang lebih nyaman dan ergonomis. Desain kursi yang<br>diusulkan sudah lebih sesuai dengan pengguna dan diharapkan dapat meningkatkan<br>kenyamanan kerja serta mengurangi keluhan fisik saat menjahit.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5524Hubungan Pengetahuan K3 Dengan Perilaku Keselamatan Siswa Di Laboratorium Ipa2026-09-23T14:23:17+07:00Muchammad Syafiul Anam[email protected]<p>Laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan fasilitas esensial dalam pembelajaran<br>sains di Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun aktivitas di dalamnya menyimpan potensi<br>risiko yang memerlukan penerapan prosedur Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) secara<br>konsisten. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara pengetahuan K3 dengan<br>perilaku keselamatan siswa di laboratorium IPA SMP Negeri 23 Semarang. Pendekatan yang<br>digunakan adalah kuantitatif korelasional dengan teknik total sampling terhadap 36 siswa kelas<br>XI F. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan K3 (20 butir soal) dan angket<br>perilaku keselamatan berbasis skala Likert yang diadaptasi dari Caymaz (2021), kemudian<br>disebarkan melalui Google Forms. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial<br>menggunakan uji korelasi Spearman karena distribusi data tidak normal berdasarkan uji<br>Shapiro-Wilk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan<br>secara statistik antara pengetahuan K3 dan perilaku keselamatan siswa (r = −0,311; p = 0,065).<br>Arah korelasi negatif yang ditemukan dijelaskan melalui fenomena ceiling effect pada<br>instrumen pengetahuan (SD = 0,378) serta mekanisme psikologis berupa social desirability bias<br>dan Dunning-Kruger effect pada pengisian angket perilaku berbasis laporan diri. Temuan ini<br>mengindikasikan bahwa perilaku keselamatan siswa tidak semata-mata ditentukan oleh aspek<br>kognitif, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor pembiasaan, pengawasan guru, budaya<br>keselamatan, dan kualitas lingkungan laboratorium. Oleh karena itu, pendidikan K3 di sekolah<br>perlu diperkuat melalui pendekatan praktik langsung yang terintegrasi, bukan sekadar<br>pembekalan pengetahuan teoritis.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5525Story-Based Science Ecosystem Comic: Media untuk Mengatasi Rendahnya Literasi Sains melalui Berpikir Kritis Siswa2026-09-23T14:25:13+07:00Fadhilatun Nafilah[email protected]<p>Literasi sains menjadi kompetensi penting dalam pembelajaran abad ke-21 karena siswa perlu<br>memahami fenomena ilmiah, menilai informasi, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti.<br>Kemampuan literasi sains siswa masih menghadapi kendala pada aspek penerapan konsep,<br>penalaran ilmiah, dan berpikir kritis, sehingga pembelajaran memerlukan media yang lebih<br>kontekstual dan menarik. Artikel ini bertujuan menganalisis potensi Story-Based Science<br>Ecosystem Comic sebagai media untuk mengatasi rendahnya literasi sains siswa melalui<br>peningkatan berpikir kritis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis<br>penelitian konseptual melalui studi kepustakaan. Peneliti mengumpulkan data dari jurnal, buku,<br>dan sumber ilmiah lain yang relevan, kemudian peneliti menganalisis data melalui telaah isi,<br>pengelompokan tema, dan sintesis teori. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa media komik<br>berbasis cerita mampu mengintegrasikan konsep sains, narasi kontekstual, dan visual menarik<br>dalam satu pengalaman belajar yang utuh. Media tersebut membantu siswa memahami konsep<br>ekosistem, menjelaskan fenomena ilmiah, menganalisis masalah lingkungan, serta menyusun<br>solusi berbasis bukti. Media tersebut juga meningkatkan motivasi belajar, komunikasi,<br>kolaborasi, dan keterlibatan siswa selama pembelajaran. Artikel ini menyimpulkan bahwa<br>media komik berbasis cerita berpotensi menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan literasi<br>sains dan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam abad ke-21.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5526Kesadaran Lingkungan Siswa SMP Negeri 2 Bantarsari dalam Kehidupan Sehari-hari Berdasarkan Pendekatan Multidimensi2026-09-23T14:26:57+07:00Aulia Kusuma[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis kesadaran lingkungan siswa Sekolah Menengah Pertama<br>(SMP) dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan pendekatan multidimensi yang mencakup<br>aspek kognitif, afektif, konatif, dan perilaku. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif<br>deskriptif dengan subjek sebanyak 30 siswa SMP Negeri 2 Bantarsari yang dipilih melalui<br>teknik convenience sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang diadaptasi dari<br>instrumen pengukuran kesadaran lingkungan yang telah tervalidasi, kemudian disesuaikan<br>dengan karakteristik siswa SMP. Pengumpulan data dilakukan secara daring dan dianalisis<br>menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan seluruh dimensi<br>berada pada kategori sangat tinggi. Dimensi konatif memperoleh nilai rata-rata tertinggi sebesar<br>3,63 yang menunjukkan siswa memiliki niat kuat untuk menjaga lingkungan. Dimensi perilaku<br>memperoleh nilai 3,47 yang menunjukkan siswa telah menerapkan tindakan peduli lingkungan<br>dalam keseharian. Dimensi afektif memperoleh nilai 3,44 yang menunjukkan sikap peduli<br>lingkungan yang positif, sedangkan dimensi kognitif memperoleh nilai 3,38 yang menunjukkan<br>pengetahuan lingkungan siswa sudah memadai. Tidak ditemukan kesenjangan yang signifikan<br>antar dimensi sehingga pengetahuan, sikap, niat, dan perilaku siswa berkembang secara<br>konsisten. Kesadaran lingkungan siswa tidak hanya terbentuk pada aspek pengetahuan, tetapi<br>juga terwujud dalam sikap dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5527Analisis Perbandingan Keterampilan Manipulatif Laboratorium Siswa Kelas VIII Berdasarkan Self-Assessment di SMP Negeri 1 Leksono2026-09-23T14:28:30+07:00Muhammad Rosyid Hafidz[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan keterampilan manipulatif<br>laboratorium siswa kelas VIII berdasarkan self-assessment di SMP Negeri 1 Leksono.<br>Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan komparatif. Subjek<br>penelitian terdiri atas 72 siswa, yang berasal dari 3 kelas berbeda. Pengumpulan data dilakukan<br>menggunakan instrumen self-assessment keterampilan manipulatif laboratorium yang<br>diadaptasi dari penelitian The Development of a Resource Guide in Assessing Students’<br>Science Manipulative Skills at Secondary Schools. Instrumen terdiri atas 51 pernyataan dengan<br>skala Likert empat tingkat. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif berupa<br>nilai rata-rata, minimum, dan maksimum pada setiap kelas. Hasil penelitian menunjukkan<br>bahwa rata-rata keterampilan manipulatif laboratorium siswa kelas B sebesar 163,48, kelas C<br>sebesar 161,61, dan kelas A sebesar 152,81. Nilai maksimum tertinggi mencapai 200,<br>sedangkan nilai minimum terendah sebesar 113. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat<br>perbedaan rata-rata keterampilan manipulatif laboratorium pada setiap kelas berdasarkan hasil<br>self-assessment. Penggunaan self-assessment dapat membantu memberikan gambaran<br>mengenai keterampilan laboratorium siswa secara lebih praktis dan efisien.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5528Profil Kesadaran Lingkungan Siswa SMP Negeri 1 Mrebet dalam Konteks Sekolah Adiwiyata2026-09-23T14:30:36+07:00Agni Dafani[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis profil kesadaran lingkungan<br>siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Mrebet dalam konteks pelaksanaan Program Adiwiyata.<br>Permasalahan yang dikaji adalah bagaimana tingkat kesadaran lingkungan siswa yang meliputi<br>aspek pengetahuan, sikap, dan tindakan dalam mendukung budaya peduli lingkungan di<br>sekolah. Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif kuantitatif dengan subjek<br>sebanyak 56 siswa yang dipilih secara purposive. Data dikumpulkan melalui kuesioner digital<br>berbasis Google Forms dengan skala Likert empat poin, kemudian dianalisis menggunakan<br>statistik deskriptif untuk memperoleh nilai rata-rata, standar deviasi, dan persentase tingkat<br>kesadaran lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesadaran lingkungan<br>siswa berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase sebesar 92,19%, yang didukung<br>oleh homogenitas jawaban pada beberapa indikator utama seperti kebersihan, pengelolaan<br>sampah, dan konservasi energi. Namun demikian, masih ditemukan adanya perbedaan pada<br>aspek tindakan, khususnya dalam kegiatan perawatan tanaman, yang menunjukkan adanya<br>kesenjangan antara pengetahuan dan praktik nyata. Kesimpulan penelitian ini adalah Program<br>Adiwiyata berperan efektif dalam membentuk kesadaran lingkungan siswa, terutama pada<br>aspek pengetahuan dan sikap, namun masih diperlukan penguatan pada aspek tindakan agar<br>perilaku peduli lingkungan dapat berkembang secara lebih konsisten dan mandiri. Implikasi<br>penelitian ini menunjukkan bahwa sekolah perlu meningkatkan program pembiasaan dan<br>keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan peduli lingkungan agar kesadaran lingkungan tidak<br>hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga diterapkan secara nyata dalam kehidupan seharihari.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5529Profil Sikap Siswa SMP Hidayatullah Semarang Dalam Upaya Pelestarian Lingkungan2026-09-23T14:32:53+07:00Azzahra Salsabila Faizun[email protected]<p>Pendidikan lingkungan hidup di sekolah memiliki peran krusial dalam membentuk karakter<br>peduli lingkungan siswa sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil sikap<br>siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Hidayatullah Semarang dalam upaya pelestarian<br>lingkungan serta mengidentifikasi adanya kesenjangan antara pemahaman teoritis dengan aksi<br>nyata. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif terhadap<br>35 siswa kelas 7E yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui<br>kuesioner digital yang terdiri atas 15 butir instrumen, mencakup praktik daur ulang, transportasi<br>ramah lingkungan, konservasi energi, dan konsumsi berkelanjutan. Hasil analisis statistik<br>deskriptif menunjukkan bahwa tingkat kesadaran lingkungan siswa secara keseluruhan berada<br>pada kategori "Baik" dengan rata-rata skor 48,83. Temuan saintifik mengungkapkan adanya<br>fenomena Value-Action Gap (kesenjangan nilai dan tindakan), di mana dukungan terhadap<br>teknologi hijau sangat tinggi, namun kesadaran cenderung menurun ketika dihadapkan pada<br>pengorbanan kenyamanan fisik pribadi, seperti pemilihan ventilasi alami dibandingkan<br>pendingin ruangan. Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa internalisasi nilai ekologis<br>telah terbentuk kuat pada ranah kognitif dan afektif siswa, namun implementasinya masih<br>bersifat kondisional. Diperlukan penguatan program habituasi atau pembiasaan aksi nyata<br>dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk menjembatani celah antara<br>pengetahuan dan tindakan praktis siswa.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5530Profil Keterampilan Proses Sains Siswa SMP dalam Penggunaan Mikroskop Berbasis Self-Assessment2026-09-23T14:34:57+07:00Siti Sri Utami[email protected]<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya Keterampilan Proses Sains (KPS) dalam<br>pembelajaran biologi, khususnya pada penggunaan mikroskop yang seringkali terhambat oleh<br>kendala situasional seperti keterbatasan alat dan waktu. Permasalahan utama dalam kajian ini<br>adalah fluktuasi capaian indikator KPS siswa serta adanya kesenjangan antara keterampilan<br>teknis dan sikap pemeliharaan alat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil KPS<br>siswa melalui metode penilaian diri sendiri (self-assessment). Metode yang digunakan adalah<br>deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 32 siswa sebagai sampel. Data dikumpulkan<br>menggunakan instrumen penilaian diri yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil<br>temuan saintifik menunjukkan bahwa rata-rata capaian KPS siswa berada pada kategori baik<br>dengan persentase sebesar 66,35%. Namun, terdapat disparitas signifikan antar indikator, di<br>mana keterampilan mencari fokus objek mencapai skor tertinggi, sementara aspek<br>pemeliharaan instrumen menunjukkan skor terendah. Hal ini mengindikasikan kemungkinan<br>adanya pengaruh beban kognitif dan kelelahan mental di akhir sesi praktikum. Kesimpulannya,<br>metode penilaian diri efektif dalam memotret profil metakognitif siswa, namun diperlukan<br>strategi instruksional yang lebih adaptif untuk meningkatkan aspek tanggung jawab terhadap<br>instrumen laboratorium.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5531MODEL PENGUATAN KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN MELALUI INTEGRASI ESD DAN PJBL DI SMP2026-09-23T14:36:41+07:00Elok Faiqoh[email protected]<p>Karakter peduli lingkungan merupakan nilai penting dalam pendidikan yang perlu ditanamkan<br>sejak dini. Namun, implementasinya di tingkat SMP masih menghadapi berbagai kendala,<br>seperti keterbatasan integrasi muatan lingkungan dalam Kurikulum Merdeka serta lemahnya<br>keterkaitan antara pengetahuan dan perilaku siswa. Kondisi ini menunjukkan perlunya model<br>penguatan karakter yang lebih komprehensif dan kontekstual. Artikel ini bertujuan<br>mengembangkan model penguatan karakter peduli lingkungan melalui integrasi Education for<br>Sustainable Development (ESD) dan Project Based Learning (PjBL). Metode yang digunakan<br>adalah sintesis konseptual terhadap berbagai literatur terkait pendidikan lingkungan, teori<br>strukturasi, nilai religius, serta pendekatan pembelajaran berbasis proyek. Hasil kajian<br>menunjukkan bahwa karakter peduli lingkungan terbentuk melalui interaksi antara faktor<br>agensi dan struktur, dengan nilai religius sebagai fondasi motivasional. Model yang diusulkan<br>mengintegrasikan ESD sebagai kerangka konseptual yang mencakup aspek lingkungan, sosial,<br>dan ekonomi dengan PjBL sebagai strategi implementatif melalui proyek kontekstual, seperti<br>pengelolaan sampah, pembuatan kompos, dan ecobrick. Model ini mengintegrasikan faktor<br>agensi, pembelajaran berbasis pengalaman, serta dukungan sekolah dan komunitas, dengan<br>sintaks pembelajaran yang terdiri dari lima tahap. Target capaian model adalah penguatan<br>karakter peduli lingkungan dalam dimensi pengetahuan, sikap, dan perilaku secara simultan.<br>Artikel ini berkontribusi dalam menyediakan kerangka konseptual yang dapat menjadi acuan<br>pengembangan pembelajaran lingkungan di SMP.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5532VILCO (Virtual Laboratory-Confirmation Inquiry): Integrasi Virtual Laboratory dalam Model Inkuiri Terkonfirmasi untuk Mengoptimalkan Keterampilan Proses Sains Siswa2026-09-23T14:38:24+07:00Alda Aulia Sabita[email protected]<p>Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) menuntut pengembangan keterampilan proses<br>sains sebagai bagian dari pembentukan kemampuan berpikir ilmiah peserta didik, namun<br>implementasi praktikum di sekolah masih menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan<br>sarana dan prasarana, keterbatasan waktu, serta kecenderungan pembelajaran yang bersifat<br>prosedural sehingga kurang mampu mengembangkan keterampilan proses sains secara optimal.<br>Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran VILCO (Virtual<br>Laboratory–Confirmation Inquiry) sebagai alternatif inovatif dalam mengoptimalkan<br>keterampilan proses sains peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian konseptual dengan<br>pendekatan studi literatur (literature review), di mana data dikumpulkan melalui kajian<br>berbagai sumber pustaka berupa jurnal ilmiah, buku, dan prosiding yang relevan dengan topik<br>keterampilan proses sains, virtual laboratory, dan inkuiri terkonfirmasi, kemudian dianalisis<br>secara deskriptif kualitatif melalui tahapan identifikasi konsep, pengelompokan temuan, serta<br>sintesis untuk merumuskan model pembelajaran yang diusulkan. Hasil kajian menunjukkan<br>bahwa virtual laboratory memiliki keunggulan dalam memfasilitasi eksplorasi konsep secara<br>interaktif, sedangkan inkuiri terkonfirmasi efektif dalam memvalidasi konsep melalui<br>eksperimen nyata, sehingga keduanya memiliki potensi untuk diintegrasikan dalam satu desain<br>pembelajaran yang komprehensif. Berdasarkan sintesis tersebut, dikembangkan model<br>pembelajaran VILCO yang terdiri atas tahapan orientasi masalah, eksplorasi melalui virtual<br>laboratory, perumusan hipotesis, praktikum nyata berbasis inkuiri terkonfirmasi, analisis data,<br>serta penarikan kesimpulan dan komunikasi hasil. Model ini memungkinkan peserta didik<br>mengalami proses ilmiah secara utuh mulai dari eksplorasi hingga verifikasi konsep, sehingga<br>berpotensi meningkatkan keterampilan proses sains secara optimal. Model VILCO diharapkan<br>dapat menjadi alternatif inovatif dalam pembelajaran IPA yang relevan dengan perkembangan<br>teknologi dan kebutuhan pembelajaran abad ke-21.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5533Analisis Kompetensi Keselamatan Laboratorium pada Pelaksanaan Praktikum IPA di SMP Negeri 12 Semarang2026-09-23T14:40:20+07:00Amelia Rakhmadani[email protected]Amelia Agata Damasari[email protected]Rahmawati[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kompetensi keselamatan laboratorium pada<br>pelaksanaan praktikum IPA di SMP Negeri 12 Semarang. Penelitian menggunakan pendekatan<br>kuantitatif deskriptif dengan teknik purposive sampling. Responden terdiri atas 32 siswa kelas<br>VIII dan 3 guru IPA. Instrumen penelitian berupa angket pilihan jawaban “Ya” dan “Tidak”<br>yang diadaptasi dari Akpullukcu dan Cavas (2017). Data dianalisis menggunakan statistik<br>deskriptif dalam bentuk persentase dan diperkuat melalui hasil observasi. Hasil penelitian<br>menunjukkan bahwa rata-rata kompetensi keselamatan laboratorium siswa sebesar 52,04%<br>dengan kategori sedang. Aspek Penanganan Kedaruratan dan Kebersihan memperoleh<br>capaian tertinggi sebesar 58,59%, sedangkan aspek APAR, Evakuasi, APD, dan Standar<br>Laboratorium memperoleh capaian terendah sebesar 43,75%. Indikator terendah terdapat pada<br>penggunaan APAR sebesar 18,75%, yang menunjukkan bahwa keterampilan keselamatan<br>teknis siswa masih rendah. Hasil observasi menunjukkan bahwa simulasi penggunaan alat<br>keselamatan belum dilakukan secara rutin. Sementara itu, kompetensi guru IPA tergolong<br>sangat baik dengan capaian 100% pada aspek Pengelolaan Laboratorium dan Kesiapsiagaan<br>Darurat, serta 75% pada aspek Pengelolaan Bahan dan Peralatan dan Standar Keselamatan<br>Laboratorium. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran keselamatan laboratorium yang lebih<br>aplikatif melalui simulasi dan pembiasaan dalam kegiatan praktikum.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5534Pemanfaatan ChatGPT Study Mode untuk Penguatan Literasi Sains dan Literasi AI dalam Pembelajaran IPA2026-09-23T14:42:32+07:00Erina Fadhilah[email protected]<p>Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pendidikan membuka<br>peluang baru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA),<br>khususnya dalam penguatan literasi sains dan literasi AI siswa. Namun, pemanfaatan ChatGPT<br>di sekolah masih cenderung digunakan sebagai alat pemberi jawaban instan sehingga proses<br>berpikir ilmiah dan evaluasi kritis belum berkembang optimal. Selain itu, belum tersedia<br>kerangka pedagogis yang mengintegrasikan literasi sains dan literasi AI secara sistematis dalam<br>pembelajaran IPA. Artikel konseptual ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan ChatGPT<br>Study Mode sebagai strategi pembelajaran serta menyusun kerangka konseptual model<br>pembelajaran yang mampu memperkuat literasi sains dan literasi AI siswa. Metode yang<br>digunakan adalah kajian literatur terhadap penelitian terkait penggunaan AI dalam pendidikan,<br>literasi sains, dan literasi AI. Berdasarkan analisis tersebut, dikembangkan kerangka konseptual<br>Model SAINS–AI Reflective Cycle berbasis proyek yang terdiri atas enam tahap, yaitu<br>Scientific Questioning, AI Guided Inquiry, AI Output Evaluation, Concept Reformulation,<br>Reflective AI Literacy, dan AI-Based Science Project. Model ini menekankan proses inkuiri<br>ilmiah, evaluasi kritis terhadap output AI, serta pengembangan proyek sebagai produk<br>pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi penggunaan ChatGPT Study Mode<br>melalui sintaks tersebut berpotensi memperkuat kemampuan berpikir ilmiah, meningkatkan<br>literasi AI, dan mendorong pembelajaran IPA yang lebih reflektif dan bermakna. Implikasi dari<br>kajian ini adalah tersedianya kerangka konseptual yang dapat digunakan sebagai panduan bagi<br>guru dalam mengintegrasikan AI secara pedagogis untuk penguatan literasi ganda siswa.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5535ANALISIS PENGARUH KETERAMPILAN DASAR LABORATORIUM TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MAHASISWA DALAM PEMBELAJARAN IPA2026-09-23T14:44:15+07:00Aisyah Bunga Zahra[email protected]Arvania Maulida Nastiti[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh keterampilan dasar laboratorium terhadap<br>kemampuan berpikir kritis mahasiswa dalam pembelajaran IPA, serta mengidentifikasi<br>kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan praktik mandiri di laboratorium. Penelitian<br>menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian adalah<br>mahasiswa semester dua Program Studi Pendidikan IPA Universitas Negeri Semarang.<br>Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terbuka dan wawancara dengan asisten<br>laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki pemahaman teoretis<br>yang baik mengenai keterampilan laboratorium dan berpikir kritis, namun masih terdapat<br>kesenjangan signifikan antara pengetahuan dan penerapan praktik mandiri. Aspek berpikir<br>kritis yang paling berkembang adalah kesadaran keselamatan kerja dan kemampuan<br>menganalisis perbedaan data, sementara aspek keterbukaan terhadap ide alternatif serta<br>kemampuan menyusun kesimpulan berbasis bukti empiris masih lemah. Penelitian ini<br>menegaskan bahwa keterampilan dasar laboratorium berpengaruh terhadap kemampuan<br>berpikir kritis mahasiswa, namun pengaruh tersebut tidak bersifat otomatis dan memerlukan<br>latihan mandiri serta umpan balik berkelanjutan. Dengan demikian, pembelajaran laboratorium<br>perlu dirancang secara lebih berorientasi pada pengembangan kemandirian dan refleksi kritis.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5536Efikasi Guru dalam Mengelola Pembelajaran bagi Siswa Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri Sragen2026-09-23T14:47:29+07:00Aisyahla Daffa Wiyadi[email protected]Rika Yunita Sari[email protected]Anindya Salsabilla[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendalami pengalaman serta pemahaman guru SLB<br>tentang efikasi diri mereka dalam mengatur proses belajar mengajar bagi siswa berkebutuhan<br>khusus dengan pendekatan kualitatif. Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana<br>kemampuan guru dalam menyesuaikan strategi pembelajaran, mengelola perilaku siswa, serta<br>menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam konteks pembelajaran bagi siswa<br>berkebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi<br>kasus. Subjek penelitian adalah seorang guru SLB di Kabupaten Sragen yang dipilih secara<br>purposive sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam<br>dengan pedoman wawancara yang disusun berdasarkan dimensi Teacher Efficacy for Inclusive<br>Practice (TEIP) yang dikembangkan oleh Sharma, Loreman, dan Forlin (2011), yang dalam<br>penelitian ini digunakan sebagai kerangka konseptual untuk menggali efikasi guru. Analisis data<br>dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa efikasi guru tergolong baik, yang ditandai dengan kemampuan<br>guru dalam menyesuaikan pembelajaran sesuai kebutuhan individu siswa, mengelola perilaku<br>secara efektif melalui pendekatan yang konsisten dan preventif, serta menjalin kolaborasi yang<br>positif dengan orang tua, rekan guru, dan tenaga profesional. Kesimpulannya, efikasi guru<br>tercermin dalam praktik pembelajaran yang adaptif dan responsif terhadap karakteristik siswa<br>berkebutuhan khusus, sehingga mendukung terciptanya proses pembelajaran yang efektif di<br>SLB.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5537Analisis Perbedaan Persepsi Keterampilan Manipulatif Laboratorium antara Siswa Kelas VII B dan VIII B di MTs Al Wasilah2026-09-23T14:49:59+07:00Kalila Wulan Nazlya[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan persepsi keterampilan manipulatif antara<br>siswa kelas VII B dan VIII B di MTs Al Wasilah. Keterampilan manipulatif merupakan<br>kemampuan siswa dalam menggunakan alat, mengikuti prosedur kerja, dan melakukan kegiatan<br>praktikum sederhana pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Penelitian ini<br>menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif non-eksperimen. Sampel<br>penelitian terdiri atas 23 siswa kelas VII B dan 23 siswa kelas VIII B yang dipilih menggunakan<br>teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner selfassessment berbasis skala Likert empat poin yang disebarkan melalui Google Form. Data<br>dianalisis menggunakan analisis deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan Independent<br>Sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor persepsi keterampilan<br>manipulatif siswa kelas VII B sebesar 147,30, sedangkan siswa kelas VIII B sebesar 142,65.<br>Hasil uji Independent Sample t-test menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,583 (p > 0,05),<br>sehingga tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi keterampilan manipulatif<br>siswa kelas VII B dan VIII B di MTs Al Wasilah. Tidak adanya perbedaan signifikan diduga<br>dipengaruhi oleh pengalaman pembelajaran IPA yang relatif serupa pada kedua kelas serta<br>keterbatasan fasilitas laboratorium di sekolah.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5538Pengembangan Model Pembelajaran Inkuiri Berbasis AR-VR untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran IPA di SMP2026-09-23T14:52:04+07:00Nur Hidayati[email protected]Lista Allmas Nurullayly Putri[email protected]Talitha Belva Agustine[email protected]<p>Perkembangan teknologi digital membuka peluang baru dalam pengembangan inovasi<br>pembelajaran, termasuk dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat Sekolah<br>Menengah Pertama (SMP). Salah satu permasalahan yang sering muncul dalam pembelajaran<br>IPA adalah kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsep yang bersifat abstrak, seperti<br>struktur dan fungsi sel. Teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) memiliki<br>potensi untuk menghadirkan visualisasi konsep secara lebih konkret, interaktif, dan imersif<br>sehingga dapat membantu siswa memahami fenomena ilmiah yang sulit diamati secara<br>langsung. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemanfaatan AR maupun VR<br>secara terpisah mampu meningkatkan pemahaman konsep, hasil belajar, serta keterlibatan<br>siswa dalam pembelajaran sains. Namun demikian, kajian yang secara konseptual<br>mengintegrasikan teknologi AR dan VR dengan model pembelajaran inkuiri secara sistematis<br>dalam pembelajaran IPA di SMP masih terbatas. Oleh karena itu, artikel konseptual ini<br>bertujuan untuk merumuskan kerangka pengembangan model pembelajaran inkuiri berbasis<br>AR–VR untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SMP. Penelitian ini menggunakan<br>metode literature review dengan menganalisis berbagai hasil penelitian yang relevan mengenai<br>penggunaan AR, VR, serta model pembelajaran inkuiri dalam pendidikan sains. Hasil kajian<br>menunjukkan bahwa integrasi teknologi AR–VR dalam sintaks pembelajaran inkuiri berpotensi<br>mendukung proses observasi, eksplorasi, analisis, dan konstruksi konsep secara lebih<br>mendalam melalui pengalaman belajar yang lebih interaktif dan kontekstual. Kerangka<br>pembelajaran yang diusulkan diharapkan dapat menjadi alternatif inovasi pembelajaran IPA<br>sekaligus menjadi dasar bagi penelitian empiris selanjutnya terkait implementasi model<br>pembelajaran inkuiri berbasis AR–VR di SMP.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5539KERANGKA KONSEPTUAL BERPIKIR KRITIS DALAM PEMBELAJARAN IPA UNTUK MENINGKATKAN EVALUASI INFORMASI ILMIAH PESERTA DIDIK2026-09-23T14:55:05+07:00Zulfa Alfia Rohmah[email protected]<p>Perkembangan teknologi digital membuat peserta didik lebih mudah mendapatkan berbagai<br>informasi ilmu pengetahuan, tetapi mereka belum memiliki kemampuan yang cukup untuk<br>mengevaluasi informasi tersebut. Kondisi ini membutuhkan penguatan kemampuan berpikir<br>kritis dalam belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Artikel ini bertujuan menciptakan kerangka<br>berpikir kritis dalam pembelajaran IPA agar kemampuan siswa dalam mengevaluasi informasi<br>ilmiah bisa meningkat. Penelitian ini menggunakan pendekatan konseptual dengan<br>menganalisis berbagai sumber ilmiah yang relevan, terutama mengenai berpikir kritis,<br>pembelajaran sains, dan cara mengevaluasi informasi. Penelitian menunjukkan bahwa berpikir<br>kritis berperan penting dalam membantu siswa menganalisis, mengevaluasi, dan membuat<br>keputusan terhadap informasi ilmiah secara logis dan wajar. Berdasarkan hasil pembahasan dari<br>berbagai sumber, dibuat sebuah kerangka konseptual yang terdiri dari lima tahapan, yakni<br>mengidentifikasi informasi, mengevaluasi sumber, menganalisis bukti, melakukan interpretasi,<br>dan membuat keputusan. Kerangka ini menjelaskan secara rapi bagaimana proses berpikir kritis<br>bisa diaplikasikan dalam pembelajaran sains. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa<br>penggunaan kerangka konseptual tersebut dapat membantu meningkatkan kualitas<br>pembelajaran IPA, terutama dalam mengembangkan kemampuan berpikir yang lebih tinggi.<br>Sehingga, kerangka yang telah dibuat bisa menjadi pedoman bagi para pendidik dalam<br>merancang proses belajar yang lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat di<br>abad ke-21.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5540ENVIRONMENTAL-BASED LEARNING: STRATEGI PEMBELAJARAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER PEDULI LINGKUNGAN PADA SISWA2026-09-23T14:57:14+07:00Rahmawati[email protected]Amelia Agata Damasari[email protected]Amelia Rakhmadani[email protected]<p>Dunia pendidikan dipaksa untuk mengadopsi pendekatan pembelajaran yang dapat<br>menanamkan kepedulian lingkungan sejak dini sebagai akibat dari krisis lingkungan yang<br>semakin serius. Tujuan dari artikel konseptual ini adalah untuk mempelajari konsep dasar<br>Environmental-Based Learning (EBL), landasan teoritisnya, model implementasi, dan faktorfaktor yang memengaruhi keberhasilan EBL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa EBL yang<br>menggabungkan permainan edukasi berbasis lingkungan, pendekatan gamifikasi, dan<br>pengalaman langsung dengan alam dapat meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan perilaku<br>siswa yang pro-lingkungan (pro-environmental behavior/PEB). Temuan eksperimental<br>menunjukkan bahwa intervensi edutainment lingkungan secara signifikan meningkatkan<br>kemungkinan siswa berperilaku pro-lingkungan, terutama pada siswa laki-laki dan siswa dari<br>latar belakang sosial-ekonomi rendah. EBL juga membantu reverse socialization, yaitu ketika<br>sikap dan perilaku anak yang pro-lingkungan mempengaruhi orang tua dan keluarga mereka.<br>Model EBL yang mencakup empat komponen (Kognitif, Afektif, Behavioral, dan Sosial)<br>diberikan di sini, bersama dengan saran kebijakan untuk pengembangan pendidikan lingkungan<br>di Indonesia.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5541Analisis Literasi Lingkungan Siswa Kelas VIII di SMP Negeri 3 Ulujami2026-09-23T15:00:57+07:00Shafira Putri Equita[email protected]<p>Fenomena meningkatnya permasalahan lingkungan menjadikan pendidikan sebagai salah satu<br>cara penting untuk menumbuhkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sejak dini. Penelitian<br>ini berfokus pada gambaran literasi lingkungan siswa kelas VIII H SMP Negeri 3 Ulujami yang<br>mencakup pengetahuan, sikap, dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 32<br>siswa dilibatkan sebagai responden dengan pengumpulan data menggunakan angket yang berisi<br>34 pernyataan terkait ketiga aspek tersebut. Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan<br>capaian pada tiap aspek. Perilaku peduli lingkungan menjadi aspek yang paling menonjol<br>dengan rata-rata 3,38 dan berada pada kategori sangat baik. Adapun aspek pengetahuan<br>memperoleh rata-rata 3,17, sedangkan sikap berada pada angka 3,05, yang keduanya termasuk<br>kategori baik. Data ini menggambarkan bahwa tindakan nyata siswa dalam menjaga lingkungan<br>cenderung lebih berkembang dibandingkan pemahaman dan sikapnya. Kondisi tersebut<br>mengindikasikan bahwa pengalaman langsung dan kebiasaan di lingkungan sekolah maupun<br>sosial memiliki pengaruh dalam membentuk perilaku peduli lingkungan siswa. Oleh karena itu,<br>pembelajaran yang lebih kontekstual serta aktivitas yang melibatkan siswa secara aktif dalam<br>menjaga lingkungan masih perlu terus ditingkatkan.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5542ANALISIS KESADARAN LINGKUNGAN SISWA SMP TERHADAP LIMBAH PLASTIK DAN MIKROPLASTIK2026-09-23T15:04:50+07:00Hamidatul Afidah[email protected]<p>Limbah plastik telah menjadi ancaman lingkungan global karena sifatnya yang sulit terurai dan<br>kemampuannya terfragmentasi menjadi mikroplastik yang mencemari ekosistem serta masuk<br>ke dalam rantai makanan manusia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat<br>kesadaran lingkungan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) terhadap bahaya limbah<br>plastik dan polusi mikroplastik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif<br>dengan pengumpulan data melalui kuesioner digital berbasis Google Forms kepada 40<br>responden siswa SMP. Instrumen penelitian mencakup tiga indikator utama, yaitu pengetahuan<br>dampak lingkungan, kesadaran dampak kesehatan, serta perilaku pencegahan. Hasil analisis<br>menunjukkan bahwa seluruh responden (100%) berada pada kategori sangat baik dengan rerata<br>skor total 27,93 dari skor maksimum 30 (93,1%). Indikator perilaku pencegahan mencatat<br>persentase tertinggi sebesar 99,0%, diikuti kesadaran dampak kesehatan (89,4%) dan<br>pengetahuan dampak lingkungan (88,9%). Meskipun pemahaman umum mengenai<br>pencemaran plastik sudah sangat kuat, masih terdapat celah pengetahuan pada butir mekanisme<br>masuknya mikroplastik ke tubuh manusia melalui konsumsi makanan (P3: 83,3%) dan aspek<br>bioakumulasi (P4: 85,8%). Aspek perilaku menunjukkan kesiapan tinggi siswa untuk beralih<br>ke barang ramah lingkungan sebagai langkah preventif. Simpulan dari penelitian ini adalah<br>perlunya penguatan literasi lingkungan yang lebih spesifik mengenai mikroplastik dalam<br>kurikulum sekolah menengah guna memperkuat perilaku berkelanjutan berbasis pemahaman<br>ilmiah.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5543Pendidikan Lingkungan SMP Berbasis Literasi Sains, Argumentasi Ilmiah, dan Aksi Nyata Melawan Misinformasi untuk Mendukung ESD: Kajian Konseptual2026-09-23T15:06:53+07:00Anisaul Kirom Kalimatun Nafis[email protected]<p>Misinformasi sains terkait isu lingkungan, khususnya perubahan iklim, menjadi tantangan<br>serius dalam pendidikan di era digital. Siswa SMP sebagai kelompok yang aktif mengakses<br>media sosial sangat rentan terhadap paparan informasi yang tidak terverifikasi, sehingga<br>berpotensi membentuk pemahaman yang keliru terhadap konsep ilmiah. Kondisi ini<br>menunjukkan bahwa pembelajaran tidak lagi cukup hanya berfokus pada penguasaan konsep,<br>tetapi juga perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, evaluasi informasi, serta<br>keterlibatan siswa dalam tindakan nyata. Berbagai pendekatan pembelajaran telah<br>dikembangkan untuk meningkatkan literasi sains dan kesadaran lingkungan siswa, seperti<br>Education for Sustainable Development (ESD), Argument-Driven Inquiry (ADI), dan<br>pembelajaran berbasis aksi (action-based learning). Pendekatan-pendekatan tersebut terbukti<br>efektif dalam mengembangkan aspek kognitif dan afektif siswa, namun dalam implementasinya<br>masih cenderung dilakukan secara terpisah dan belum secara spesifik diarahkan untuk<br>menghadapi tantangan misinformasi lingkungan. Berdasarkan berbagai kajian sebelumnya,<br>integrasi pendekatan-pendekatan tersebut menunjukkan potensi dalam mengembangkan literasi<br>sains, argumentasi ilmiah, serta keterlibatan siswa dalam aksi nyata. Secara konseptual,<br>integrasi ini dapat dipahami sebagai suatu kerangka pembelajaran yang mencakup tiga tahapan<br>utama, yaitu verifikasi informasi, penguatan argumentasi ilmiah, dan implementasi aksi nyata.<br>Pendekatan ini diharapkan dapat mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis serta<br>ketahanan siswa terhadap misinformasi.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5544Strategi Pembelajaran Berbasis Smartboard Interaktif dengan Pendekatan Visual-Based Learning untuk mengoptimalkan Pemahaman Konsep Wujud Zat pada Siswa Tunarungu2026-09-23T15:08:41+07:00Ine Lisia Dewanti[email protected]<p>Pembelajaran dalam konteks pendidikan inklusif menuntut adanya strategi yang mampu menyesuaikan<br>dengan keragaman karakteristik peserta didik, termasuk siswa tunarungu yang cenderung mengandalkan<br>aspek visual dalam memahami materi. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara konseptual penerapan<br>strategi pembelajaran berbasis smartboard interaktif dengan pendekatan visual-based learning dalam<br>mengoptimalkan pemahaman konsep wujud zat pada siswa tunarungu. Penelitian menggunakan<br>pendekatan kualitatif dengan jenis conceptual paper melalui kajian literatur dari berbagai sumber ilmiah<br>yang relevan. Kajian dilakukan dengan menelaah serta mengaitkan berbagai hasil penelitian terdahulu<br>untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan<br>pendekatan visual yang dipadukan dengan penggunaan smartboard interaktif mampu menghadirkan<br>materi secara lebih konkret, menarik, dan mudah dipahami, sehingga dapat meningkatkan keterlibatan<br>siswa dalam proses pembelajaran. Strategi yang disusun melalui tahapan penyajian visual, aktivitas<br>interaktif, dan penguatan konsep dinilai efektif dalam membantu siswa tunarungu memahami konsep<br>abstrak, khususnya pada materi perubahan wujud zat. Meskipun demikian, keberhasilan penerapannya<br>sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam merancang dan memanfaatkan media pembelajaran<br>secara tepat. Dengan demikian, integrasi teknologi interaktif dan pendekatan visual dapat menjadi<br>alternatif solusi dalam mewujudkan pembelajaran sains yang lebih inklusif, efektif, dan bermakna.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5545DARI POLUSI MENUJU PENCEGAHAN: MENGGAGAS KERANGKA KONSEPTUAL EDUKASI EKOLOGI SEBAGAI INTERVENSI KESEHATAN PUBLIK2026-09-23T15:10:43+07:00Amalia Fauziah Rahmah[email protected]<p>Degradasi lingkungan yang terus meningkat, mencakup polusi udara, air, dan tanah, telah menjadi<br>ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global. Namun, respons kebijakan kesehatan publik masih<br>didominasi pendekatan kuratif, bukan pencegahan berbasis kesadaran ekologis. Artikel konseptual ini<br>berargumen bahwa edukasi ekologi memiliki potensi besar untuk diposisikan sebagai intervensi<br>kesehatan publik yang sistemik dan berkelanjutan. Melalui sintesis literatur dari artikel terpilih,<br>teridentifikasi empat pola konseptual kunci: keterkaitan polusi dengan penyakit, kesenjangan<br>pengetahuan dan perilaku (knowledge–behavior gap), peran mediasi ecological self-efficacy, dan<br>kerentanan spesifik negara berkembang. Berdasarkan pola tersebut, artikel ini mengusulkan Kerangka<br>Intervensi Ekologi-Kesehatan (Eco-Health Intervention Framework/EHIF) yang menghubungkan<br>Edukasi Ekologi Berorientasi Kesehatan (EEBK) dengan luaran kesehatan masyarakat melalui jalur<br>perubahan perilaku individual dan kolektif. Tiga proposisi konseptual dirumuskan sebagai fondasi<br>penelitian empiris lanjutan. Kerangka ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan kebijakan<br>pendidikan dan kesehatan yang lebih terintegrasi, khususnya di negara-negara berkembang.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5546Kesenjangan Sikap Lingkungan Siswa pada Dimensi Afektif, Kognitif, Konatif, dan Perilaku di SMP Negeri 4 Jiken2026-09-23T15:12:45+07:00Deka Anggi Octaviani[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan mengkaji kesenjangan sikap lingkungan siswa Sekolah Menengah<br>Pertama (SMP) pada dimensi afektif, kognitif, konatif, dan perilaku dalam konteks<br>pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif<br>deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak 37 siswa di SMP Negeri 4 Jiken. Data<br>dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan skala Likert empat tingkat. Analisis data<br>dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan analisis selisih (Δ) antar dimensi. Hasil<br>penelitian menunjukkan seluruh dimensi berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai ratarata afektif 3,36, kognitif 3,38, konatif 3,59, dan perilaku 3,59. Ditemukan kecenderungan<br>kesenjangan sistematis antara dimensi afektif–kognitif dan konatif–perilaku dengan selisih<br>sebesar 0,21–0,23. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa keterlibatan emosional dan<br>pemahaman konseptual siswa belum sepenuhnya sejalan dengan kecenderungan niat dan<br>tindakan pro-lingkungan yang mereka tunjukkan. Temuan ini menegaskan bahwa sikap<br>lingkungan merupakan konstruk multidimensi yang tidak selalu berkembang secara seimbang.<br>Pembelajaran IPA perlu dirancang secara lebih komprehensif dengan mengintegrasikan<br>penguatan aspek kognitif, afektif, dan pengalaman belajar kontekstual guna meminimalkan<br>kesenjangan antar dimensi.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5547ANALISIS HAMBATAN DAN SOLUSI PEMBELAJARAN IPA BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS: STUDI KASUS DI SLB NEGERI UNGARAN2026-09-23T15:14:52+07:00Ailsya Ade Kusumaningtyas[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hambatan yang dialami oleh anak<br>berkebutuhan khusus dalam memahami pembelajaran IPA serta strategi yang diterapkan oleh<br>guru untuk mengatasi hambatan tersebut di SLB Negeri Ungaran. Penelitian ini menggunakan<br>pendekatan kualitatif dengan metode observasi langsung untuk memperoleh gambaran nyata<br>mengenai proses pembelajaran IPA di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan<br>utama yang dialami siswa berkebutuhan khusus meliputi kesulitan memahami konsep-konsep<br>abstrak, perbedaan kemampuan belajar antar siswa, keterbatasan konsentrasi, serta faktor<br>lingkungan belajar yang mempengaruhi proses pembelajaran. Untuk mengatasi hambatan<br>tersebut, guru menerapkan berbagai strategi pembelajaran seperti penyederhanaan materi,<br>pengulangan pembelajaran, pendampingan individual, pendekatan bertahap (scaffolding),<br>diferensiasi strategi pembelajaran, serta pengelolaan kelas yang kondusif. Penerapan strategi<br>tersebut terbukti mampu meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi IPA serta<br>mendorong keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran<br>IPA bagi anak berkebutuhan khusus memerlukan pendekatan yang fleksibel, adaptif, dan<br>berpusat pada kebutuhan siswa agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan<br>bermakna.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5548Pengaruh Kesadaran Lingkungan, Perilaku Pro-Lingkungan, dan Kepedulian Lingkungan terhadap Intensi Investasi Energi Terbarukan pada Siswa SMP Negeri 5 Semarang2026-09-23T15:20:48+07:00Cahya Suci Rahayu[email protected]Putin Sakti Ramadhani[email protected]Fitri Hanifah Helmi[email protected]<p>Peningkatan penggunaan energi fosil secara terus-menerus menyebabkan peningkatan emisi<br>karbon dan kerusakan lingkungan sehingga mendorong perlunya peralihan menuju energi<br>terbarukan. Peralihan menuju energi terbarukan tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kebijakan<br>dan teknologi, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor individu, seperti kesadaran lingkungan,<br>perilaku pro-lingkungan dan kepedulian lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk<br>menganalisis pengaruh kesadaran lingkungan perilaku pro-lingkungan, dan kepedulian<br>lingkungan terhadap intensi investasi energi terbarukan pada siswa kelas IX SMP Negeri 5<br>Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif<br>korelasional. Penelitian ini melibatkan 46 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive<br>sampling. Penelitian ini mengumpulkan data melalui kuesioner Google Form yang terdiri atas<br>24 butir pernyataan dengan skala Guttman. Penelitian ini menganalisis data menggunakan<br>statistik deskriptif, korelasi Pearson, dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan<br>bahwa kesadaran lingkungan memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap intensi<br>investasi energi terbarukan. Sementara itu, perilaku pro-lingkungan dan kepedulian lingkugan<br>menunjukkan hubungan positif, tetapi tidak signifikan secara parsial. Namun, ketiga variabel<br>secara simultan berpengaruh signifikan terhadap intensi investasi energi terbarukan dengan<br>kontribusi sebesar 50,8%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesadaran lingkungan menjadi<br>faktor dominan dalam membentuk intensi investasi energi terbarukan pada siswa. Oleh karena<br>itu, sekolah perlu memperkuat pendidikan lingkungan untuk membangun generasi yang<br>memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan energi di masa depan.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5549MEMBANGUN GENERASI BERKELANJUTAN: DARI KESADARAN LINGKUNGAN KE PERILAKU PRO-LINGKUNGAN DAN NIAT INVESTASI ENERGI TERBARUKAN PADA SISWA SMP KESATRIAN 2 SEMARANG2026-09-23T15:23:39+07:00Fitri Hanifah Helmi[email protected]Putin Sakti Ramadhani[email protected]Cahya Suci Rahayu[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara kesadaran lingkungan, perilaku<br>pro-lingkungan, dan kepedulian lingkungan dalam membentuk niat investasi energi terbarukan<br>pada siswa Sekolah Menengah Pertama di SMP Kesatrian 2 Semarang. Penelitian ini<br>menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Data dikumpulkan melalui angket<br>skala dikotomis yang diberikan kepada 45 siswa, kemudian dianalisis menggunakan statistik<br>deskriptif, uji reliabilitas, dan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa memiliki<br>tingkat kesadaran dan kepedulian lingkungan yang tinggi sebagai dasar dalam membentuk<br>orientasi keberlanjutan. Namun demikian, perilaku pro-lingkungan belum sepenuhnya sejalan<br>dengan tingkat kesadaran yang dimiliki, sehingga menunjukkan adanya kesenjangan antara<br>pengetahuan dan tindakan. Selain itu, seluruh variabel menunjukkan hubungan yang positif dan<br>signifikan, dengan kepedulian lingkungan sebagai faktor yang paling berperan dalam<br>membentuk niat investasi energi terbarukan. Temuan ini menunjukkan bahwa pembentukan<br>generasi berkelanjutan tidak hanya bergantung pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga<br>memerlukan penguatan aspek emosional dan pembiasaan perilaku. Oleh karena itu, pendidikan<br>lingkungan perlu dirancang secara kontekstual dan aplikatif agar siswa tidak hanya memahami,<br>tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.</p>2026-09-23T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5550Pemetaan Perkembangan Riset Virtual Laboratory pada Pembelajaran Sains: Systematic Literature Review2026-09-24T12:06:34+07:00Aldila Wahyu Imam Efendi[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk memetakan perkembangan riset virtual laboratory dalam science<br>education serta mengkaji kecenderungan hasil penelitian yang telah dilakukan. Latar belakang<br>penelitian ini didasarkan pada pesatnya perkembangan teknologi digital yang mendorong<br>inovasi dalam pembelajaran sains, khususnya melalui pemanfaatan laboratorium virtual sebagai<br>alternatif praktikum yang lebih fleksibel dan interaktif. Metode yang digunakan adalah<br>systematic literature review yang dikombinasikan dengan analisis bibliometrik. Data diperoleh<br>dari basis data Scopus dengan rentang tahun 2021–2026 dan dianalisis menggunakan<br>VOSviewer untuk memetakan keterkaitan topik serta Biblioshiny untuk mengidentifikasi tren<br>publikasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa penelitian terkait virtual laboratory mengalami<br>peningkatan dan memiliki keterkaitan erat dengan pembelajaran berbasis teknologi seperti elearning dan pembelajaran jarak jauh. Selain itu, hasil kajian literatur menunjukkan bahwa<br>virtual laboratory efektif dalam meningkatkan hasil belajar, pemahaman konsep, dan literasi<br>sains peserta didik, meskipun efektivitasnya dipengaruhi oleh metode pembelajaran dan<br>kesiapan teknologi. Dengan demikian, virtual laboratory memiliki potensi besar dalam<br>mendukung pembelajaran sains, namun masih memerlukan pengembangan lebih lanjut agar<br>dapat diimplementasikan secara optimal dalam berbagai konteks pendidikan.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5551Integrasi Isu Sosio-Ilmiah pada Topik Variasi Genetik dalam Pembelajaran IPA SMP untuk Penguatan Dimensi Profil Lulusan2026-09-24T12:09:09+07:00Khadijah Fatihatul Jannah[email protected]<p>Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)<br>masih cenderung berfokus pada penguasaan konsep tanpa mengaitkannya dengan konteks<br>sosial, sehingga kurang optimal dalam mengembangkan dimensi profil lulusan sesuai<br>Kurikulum Merdeka. Artikel konseptual ini bertujuan mengkaji integrasi isu sosio-ilmiah (SSI),<br>yaitu isu yang menghubungkan konsep sains dengan aspek sosial dan etika, melalui topik<br>variasi genetik rambut manusia dalam desain materi pembelajaran IPA. Metode yang<br>digunakan adalah kajian literatur (literature review) terhadap berbagai sumber ilmiah terkait<br>genetika rambut, pembelajaran berbasis SSI, dan penguatan profil pelajar. Hasil kajian<br>menunjukkan bahwa variasi rambut manusia yang dipengaruhi oleh faktor genetik, seperti gen<br>MC1R, EDAR, dan TCHH, serta pigmen melanin, dapat dikontekstualisasikan sebagai isu<br>sosio-ilmiah yang berkaitan dengan identitas, stereotip, dan diskriminasi sosial. Integrasi SSI<br>dalam desain pembelajaran dilakukan melalui tahapan orientasi isu, eksplorasi konsep ilmiah,<br>analisis isu sosial, argumentasi, dan refleksi. Desain ini berpotensi memperkuat dimensi profil<br>lulusan, khususnya berkebinekaan global, bernalar kritis, dan berakhlak mulia, melalui<br>pengembangan kemampuan argumentasi ilmiah, kesadaran multikultural, dan sikap empati.<br>Dengan demikian, integrasi isu sosio-ilmiah berbasis variasi genetik rambut manusia dapat<br>menjadi strategi efektif untuk menghubungkan konsep sains dengan realitas sosial serta<br>membentuk karakter peserta didik secara holistik.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5552MEDIA PEMBELAJARAN GAME 3D SIMULATOR UNTUK MENDORONG MINAT BELAJAR SISWA SMP PADA MATERI LINGKUNGAN2026-09-24T12:10:52+07:00Aditian Aqfitra Prabowo[email protected]Ridho Alfath Nur Qolbi[email protected]Frisda Afriani Arkadewi[email protected]<p>Rendahnya minat belajar siswa pada materi lingkungan akibat metode pembelajaran yang<br>bersifat teoritis dan kurang kontekstual menjadi tantangan utama dalam materi lingkungan.<br>Artikel ini bertujuan untuk mengkaji integrasi game 3D simulator sebagai media pembelajaran<br>dalam materi lingkungan guna mendorong minat belajar siswa SMP. Hasil pembahasan<br>menunjukkan bahwa game 3D simulator memiliki sifat yang imersif, interaktif, dan<br>menawarkan visualisasi ruang yang dapat membuat konsep-konsep lingkungan yang abstrak<br>terlihat lebih nyata. Pemanfaatan game ini mendorong ketertarikan siswa dalam belajar melalui<br>tiga mekanisme utama, yaitu menciptakan perasaan senang melalui pengalaman belajar seperti<br>bermain, mempertahankan perhatian penuh atau fokus karena setiap keputusan berdampak<br>langsung pada lingkungan virtual, serta menggerakkan partisipasi aktif karena siswa harus<br>mengambil keputusan dan menanggung konsekuensinya. Ketiga mekanisme ini menciptakan<br>siklus umpan balik positif yang saling mendukung, sehingga ketertarikan siswa tidak hanya<br>meningkat untuk sementara tetapi juga dapat bertahan dan tumbuh dari waktu ke waktu.<br>Kesimpulan dari artikel ini adalah penerapan game 3D simulator sebagai media pembelajaran<br>efektif secara konseptual dalam mendorong minat belajar siswa SMP pada materi lingkungan.<br>Sebagai rekomendasi, perlu dilakukan penelitian empiris lanjutan berupa uji coba lapangan<br>untuk mengukur efektivitas media ini secara kuantitatif.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5553ANALISIS SIKAP PEDULI LINGKUNGAN SISWA SMP N 21 SEMARANG DITINJAU PADA MATERI PEMANASAN GLOBAL2026-09-24T12:13:16+07:00Arvania Maulida Nastiti[email protected]Aisyah Bunga Zahra[email protected]<p>Pemanasan global menjadi salah satu isu lingkungan yang sangat penting dan perlu dimasukkan<br>dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan<br>di kalangan siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sikap peduli lingkungan siswa<br>berdasarkan pembelajaran pemanasan global di SMP Negeri 21 Semarang. Metode yang<br>digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif, yang dilaksanakan pada<br>tanggal 11 Maret 2026. Pengumpulan data dilakukan melalui dua cara: wawancara semi<br>terstruktur dengan seorang guru IPA dan observasi langsung terhadap kondisi fisik lingkungan<br>sekolah untuk mendokumentasikan situasi nyata di lapangan. Instrumen wawancara terdiri dari<br>enam indikator sikap peduli lingkungan, yakni partisipasi dalam konservasi lingkungan,<br>pengurangan jejak karbon, penggunaan energi terbarukan, advokasi dan pendidikan<br>lingkungan, partisipasi dalam kebijakan lingkungan, serta penelitian dan pemantauan<br>lingkungan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan<br>penarikan kesimpulan secara deskriptif kualitatif. Hasil wawancara menunjukkan bahwa sikap<br>peduli lingkungan siswa dibentuk melalui tiga elemen utama yang saling mendukung, yaitu<br>pembelajaran berbasis lingkungan yang kontekstual, program sekolah yang terorganisir di<br>bidang konservasi dan hemat energi, serta budaya sekolah yang secara konsisten<br>menginternalisasi nilai peduli lingkungan melalui kegiatan sehari-hari dan proyek terintegrasi<br>lintas mata pelajaran. Sementara itu, hasil observasi mengonfirmasi adanya infrastruktur<br>pendukung, berupa tempat sampah terpilah, bank sampah, taman hayati, dan informasi visual<br>edukatif, yang bersama-sama menciptakan ekosistem sekolah yang mendukung pembentukan<br>sikap peduli lingkungan siswa secara menyeluruh, mencakup aspek kognitif, afektif, dan<br>psikomotorik.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5554KESADARAN LINGKUNGAN SISWA SMP NEGERI 3 UNGARAN DITINJAU DARI ASPEK PENGETAHUAN, EMOSIONAL, DAN PERILAKU2026-09-24T12:47:38+07:00Atikah Nur Amalina Zahrah[email protected]<p>Kesadaran lingkungan merupakan aspek penting dalam membentuk perilaku peduli lingkungan<br>pada siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesadaran lingkungan siswa<br>kelas VIII D SMP Negeri 3 Ungaran berdasarkan aspek pengetahuan, emosional, dan perilaku.<br>Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian<br>berjumlah 32 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan<br>melalui angket tertulis berisi 17 pernyataan dengan skala Likert, kemudian dianalisis secara<br>deskriptif dengan perhitungan persentase dan rata-rata skor. Hasil penelitian menunjukkan<br>bahwa tingkat kesadaran lingkungan siswa secara keseluruhan berada pada kategori tinggi<br>dengan rata-rata persentase sebesar 80,14% dan nilai mean 3,20. Berdasarkan tiap aspek, aspek<br>emosional memperoleh nilai tertinggi dengan mean 3,29 dan persentase 82,32% sehingga<br>termasuk kategori tinggi. Aspek pengetahuan berada pada kategori tinggi dengan mean 3,26<br>dan persentase 81,64%. Aspek perilaku memperoleh mean 3,06 dengan persentase 76,56% dan<br>berada pada kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa telah memiliki pemahaman,<br>kepedulian emosional, serta perilaku yang baik terhadap lingkungan. Oleh karena itu, sekolah<br>perlu mempertahankan dan memperkuat pendidikan lingkungan melalui pembiasaan,<br>keteladanan, serta kegiatan berbasis lingkungan, seperti pembiasaan hemat energi, pemilahan<br>sampah, kerja bakti, dan evaluasi rutin agar kesadaran lingkungan siswa dapat berkembang<br>secara berkelanjutan.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5555MODEL INTEGRATIF STRATEGI PEMBELAJARAN INOVATIF UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA SMP: KAJIAN LITERATUR2026-09-24T12:49:41+07:00Djihan Hartania Septy[email protected]<p>Tuntutan pendidikan pada era modern mendorong adanya pembaruan dalam proses<br>pembelajaran, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik.<br>Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tidak hanya berfokus pada penguasaan materi,<br>tetapi juga diarahkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah,<br>serta keterlibatan aktif peserta didik dalam proses belajar. Namun, pelaksanaan pembelajaran<br>IPA di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) masih menghadapi sejumlah kendala, antara<br>lain penggunaan strategi pembelajaran yang kurang beragam dan belum terintegrasi secara<br>optimal. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya hasil belajar serta pemahaman konsep<br>yang belum mendalam. Berbagai strategi pembelajaran inovatif, seperti pembelajaran berbasis<br>masalah (Problem-Based Learning), pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning),<br>serta pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), telah banyak<br>diterapkan dan menunjukkan potensi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Akan tetapi,<br>penerapan strategi tersebut umumnya masih dilakukan secara terpisah sehingga keunggulan<br>masing-masing belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan<br>untuk merumuskan model integratif strategi pembelajaran inovatif melalui studi literatur. Hasil<br>kajian menunjukkan bahwa penggabungan berbagai strategi pembelajaran tersebut mampu<br>menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, meningkatkan partisipasi peserta didik, serta<br>memperkuat pemahaman konsep secara lebih menyeluruh. Dengan demikian, model integratif<br>yang dikembangkan berpotensi menjadi alternatif dalam meningkatkan hasil belajar IPA siswa<br>SMP secara lebih efektif.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5556PENGEMBANGAN MODEL COOPERATIVE LEARNING KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR IPA SISWA SLOW LEARNER SMP2026-09-24T12:51:15+07:00Elva Dina Maulida[email protected]<p>Pendidikan inklusif menuntut adanya strategi pembelajaran yang mampu menyesuaiakan<br>keberagaman karakteristik peserta didik, termasuk siswa slow learner. Mereka memiliki<br>kemampuan kecepatan belajar yang lebih lambat, kesulitan memahami konsep – konsep yang<br>abstrak, serta cakupan perhatian yang pendek. Kondisi ini sering menyebabkan motivasi belajar<br>mereka rendah, terutama dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP yang<br>sering dengan konsep-konsep abstrak. Berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk<br>menjawab tantangan tersebut, salah satunya adalah dengan model pembelajaran kooperatif<br>yang menekankan interaksi sosial dan kolaborasi teman sebaya, serta pendekatan kontekstual<br>yang mengaitkan materi dengan pengalaman sehari – hari peserta didik. Integrasi antara<br>keduanya melahirkan model Cooperative Learning Kontekstual yang disusun untuk<br>meningkatkan motivasi belajar siswa slow learner. Model ini memiliki enam fase<br>pembelajaran, yaitu orientasi kontekstual, pembentukan kelompok, penyelidikan terbimbing,<br>presentasi, evaluasi, dan pemberian penghargaan. Keenam fase tersebut secara berurutan<br>mampu membangun perhatian melalui pengalaman konkret, menumbuhkan rasa relevan<br>melalui keterkaitan dengan lingkungan sekitar, menguatkan kepercayaan diri melalui<br>keberhasilan bertahap, serta memberikan kepuasan melalui apresiasi terhadap proses belajar.<br>Penerapan model pada materi IPA Klasifikasi Makhluk Hidup menunjukkan bahwa pendekatan<br>ini dapat menjawab kebutuhan belajar siswa slow learner secara lebih manusiawi. Dengan<br>demikian, model Cooperative Learning Kontekstual menjadi alternatif pedagogis dalam upaya<br>meningkatkan motivasi belajar IPA siswa slow learner di SMP.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5557Persepsi Siswa Terhadap Penggunaan Youtube Sebagai Sumber Belajar Mandiri Dalam Pembelajaran IPA2026-09-24T12:53:49+07:00Hilma Arafani[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan persepsi siswa SMP terhadap<br>penggunaan YouTube sebagai sumber belajar mandiri dalam pembelajaran IPA. Pendekatan<br>yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Sampel penelitian<br>berjumlah 32 siswa kelas VIII dan IX di Kabupaten Wonosobo yang dipilih menggunakan<br>teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui angket tertutup dengan skala Likert<br>empat tingkat yang mencakup sepuluh butir pernyataan pada lima indikator: pemahaman<br>materi, kemandirian belajar, relevansi konten, kemudahan akses, serta fleksibilitas dan daya<br>tarik. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata persentase skor persepsi siswa sebesar<br>76,80% dengan nilai rata-rata 3,07 dari skor maksimum 4, sehingga berada dalam kategori<br>Setuju. Indikator fleksibilitas dan daya tarik memperoleh nilai tertinggi (81,3%), sedangkan<br>indikator relevansi konten memperoleh nilai terendah (72,8%). Sebanyak 68,75% siswa berada<br>dalam kategori Setuju, 28,13% Sangat Setuju, dan hanya 3,13% Tidak Setuju. Temuan ini<br>menunjukkan bahwa siswa SMP memiliki persepsi positif terhadap penggunaan YouTube<br>sebagai sumber belajar mandiri dalam pembelajaran IPA, meskipun relevansi konten dengan<br>kurikulum masih perlu mendapat perhatian.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5558SmaLFil: Media Pembelajaran Smart Gamified Learning Adaptif untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep IPA pada Siswa Tunagrahita2026-09-24T12:55:24+07:00Inayatul Risqi[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pembelajaran adaptif berbasis<br>gamifikasi, yaitu SmaLFil (Smart Gamified Learning for Intellectual Disability) dalam<br>pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) bagi siswa tunagrahita. Latar belakang penelitian<br>ini didasarkan pada keterbatasan siswa tunagrahita dalam memahami konsep abstrak akibat<br>rendahnya kapasitas memori serta kemampuan generalisasi. Pendekatan pembelajaran<br>konvensional yang seragam dinilai kurang mampu mengakomodasi kebutuhan individual<br>siswa. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan integrasi media animasi interaktif dan mini<br>games digital adaptif sebagai solusi untuk mengonkretkan konsep IPA serta meningkatkan<br>keterlibatan belajar siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis<br>penelitian konseptual melalui studi literatur terhadap berbagai sumber ilmiah relevan. Hasil<br>kajian menunjukkan bahwa model SmaLFil (Smart Gamified Learning for Intellectual<br>Disability) terdiri atas tiga komponen utama, yaitu input (profil kognitif siswa), proses<br>(gamifikasi adaptif), dan output (pemahaman konsep dan kemampuan sebab-akibat). Model ini<br>mengintegrasikan prinsip Cognitive Load Theory, UDL (Universal Design for Learning), dan<br>konstruktivisme untuk menciptakan pembelajaran yang adaptif, bertahap, dan personal.<br>Implementasi model ini terbukti berpotensi meningkatkan pemahaman konseptual, mengurangi<br>beban kognitif, serta meningkatkan motivasi dan keterlibatan belajar siswa tunagrahita dalam<br>pembelajaran IPA.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5559PERSEPSI SISWA SMP NEGERI 21 SEMARANG TERHADAP KESELAMATAN KERJA PRAKTIKUM DI LABORATORIUM IPA2026-09-24T12:57:08+07:00Ivin Visakamah[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi siswa terhadap keselamatan kerja<br>praktikum di laboratorium IPA SMP Negeri 21 Semarang menggunakan metode deskriptif<br>kuantitatif, dengan sampel sebanyak 30 siswa kelas VIII yang dipilih melalui teknik<br>convenience sampling berdasarkan kemudahan akses dan kesediaan responden untuk<br>berpartisipasi, serta instrumen berupa angket 15 butir pernyataan berskala Likert empat pilihan<br>yang disusun mengacu pada kerangka Caymaz, telah diadaptasi dan divalidasi melalui expert<br>judgment, kemudian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk persentase berdasarkan kriteria<br>interpretasi Riduwan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa secara keseluruhan<br>berada pada kategori Sangat Baik dengan rentang skor 82,5% hingga 95,0%, di mana skor<br>tertinggi diraih oleh indikator tidak bercanda atau berkelahi di laboratorium (95,0%) dan<br>mendengarkan instruksi guru (94,2%), sementara dua indikator terendah adalah tidak<br>menyentuh atau mencium bahan kimia secara langsung (82,5%) dan tidak panik ketika terjadi<br>kecelakaan (82,5%), yang mengindikasikan bahwa aspek kesiapsiagaan darurat dan kehatihatian teknis dalam penanganan bahan kimia masih perlu mendapat perhatian lebih, sehingga<br>penelitian ini merekomendasikan penyelenggaraan simulasi kecelakaan laboratorium secara<br>berkala dan pelatihan penanganan bahan kimia yang terstruktur sebagai langkah konkret untuk<br>memperkuat kesiapsiagaan siswa, sekaligus menyarankan penelitian lanjutan yang melengkapi<br>data persepsi dengan observasi langsung terhadap perilaku aktual siswa selama praktikum guna<br>memperoleh gambaran keselamatan kerja yang lebih komprehensif dan valid.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5560Strategi Pembelajaran IPA Berbasis Laboratorium dalam Meningkatkan Keterampilan Kerja Ilmiah Siswa SMP2026-09-24T12:58:57+07:00Maya Aprilia Wulandari[email protected]<p>Rendahnya penguasaan keterampilan kerja ilmiah siswa di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP)<br>merupakan permasalahan yang memerlukan perhatian serius, mengingat masih terbatasnya pengalaman<br>belajar berbasis laboratorium yang diterapkan secara terencana dan berbasis inkuiri. Penelitian ini<br>bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis implementasi strategi pembelajaran IPA berbasis<br>laboratorium dalam mengembangkan keterampilan kerja ilmiah siswa SMP, sekaligus mengidentifikasi<br>faktor-faktor pendukung dan penghambat yang memengaruhi efektivitasnya. Penelitian dilaksanakan<br>dengan pendekatan kuantitatif deskriptif menggunakan instrumen kuesioner terstruktur berisi 15 butir<br>pernyataan yang terbagi dalam dua variabel: (1) strategi pembelajaran IPA berbasis laboratorium,<br>mencakup aspek perencanaan, pelaksanaan, dan ketersediaan fasilitas; serta (2) keterampilan kerja<br>ilmiah, yang meliputi keterampilan dasar (observasi, klasifikasi, komunikasi), keterampilan proses<br>(prediksi, hipotesis, interpretasi data), dan keterampilan lanjutan (perancangan percobaan dan penerapan<br>konsep). Responden berjumlah 30 siswa SMP Negeri 11 Semarang kelas VII–IX yang dipilih melalui<br>teknik purposive sampling. Data diolah menggunakan perangkat lunak SPSS dengan analisis statistik<br>deskriptif. Uji reliabilitas instrumen menunjukkan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,821 (reliabel), dan<br>uji normalitas Shapiro-Wilk menghasilkan nilai signifikansi p = 0,212 (p > 0,05, data berdistribusi<br>normal). Hasil analisis menunjukkan bahwa keterlibatan aktif siswa dalam praktikum sudah cukup baik<br>(83,3%), namun penggunaan panduan berbasis inkuiri terbimbing masih sangat rendah (40,0%). Profil<br>keterampilan kerja ilmiah siswa menurun secara konsisten seiring meningkatnya jenjang: dari<br>keterampilan dasar (60,0%–73,3%) hingga keterampilan lanjutan (36,7%–50,0%). Hambatan utama<br>berupa keterbatasan fasilitas laboratorium (70,0%) dan minimnya panduan berbasis inkuiri. Temuan ini<br>menegaskan bahwa kualitas desain pedagogis berbasis inkuiri lebih berdampak signifikan terhadap<br>pengembangan keterampilan kerja ilmiah dibandingkan kelengkapan infrastruktur semata.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5561EVALUASI KESIAPAN DAN IMPLEMENTASI KETERAMPILAN ABAD 21 (4C) PADA SISWA2026-09-24T13:06:21+07:00Moh. Adhika[email protected]<p>Keterampilan abad ke-21 menjadi salah satu kemampuan yang perlu dimiliki siswa dalam<br>proses pembelajaran. Keterampilan tersebut dikenal dengan istilah 4C yang meliputi critical<br>thinking, communication, collaboration, dan creativity. Namun, pada pelaksanaannya di<br>sekolah, kemampuan setiap siswa dalam aspek 4C masih berbeda-beda. Masih terdapat siswa<br>yang kurang aktif menyampaikan pendapat, belum terbiasa berpikir kreatif, serta mengalami<br>kesulitan saat bekerja dalam situasi pemecahan masalah. Oleh karena itu, penelitian ini<br>dilakukan untuk mengetahui tingkat kesiapan dan implementasi keterampilan 4C pada siswa.<br>Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik survei. Subjek penelitian<br>terdiri atas 31 siswa yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui<br>angket skala Likert 1–4 berdasarkan indikator keterampilan 4C. Data kemudian dianalisis<br>menggunakan statistik deskriptif untuk mengetahui rata-rata skor pada setiap aspek<br>keterampilan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan 4C siswa berada pada kategori<br>sangat baik dengan rata-rata keseluruhan sebesar 3,48. Aspek collaboration memperoleh skor<br>tertinggi sebesar 3,63, diikuti critical thinking sebesar 3,61, communication sebesar 3,40, dan<br>creativity sebesar 3,26. Meskipun seluruh aspek termasuk kategori sangat baik, kemampuan<br>komunikasi dan kreativitas siswa masih perlu ditingkatkan, terutama dalam menyampaikan ide<br>dan menghasilkan gagasan baru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang<br>lebih aktif dan memberi ruang diskusi dapat membantu pengembangan keterampilan abad ke-<br>21 pada siswa.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5562ANALISIS PERSEPSI SISWA SMP TERHADAP PEMANFAATAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE SEBAGAI ASISTEN BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN2026-09-24T13:09:41+07:00Nashihatud Diniyyah[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi siswa terhadap pemanfaatan Artificial<br>Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan sebagai asisten belajar dalam pembelajaran Ilmu<br>Pengetahuan Alam (IPA). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif<br>dengan subjek penelitian sebanyak 30 siswa kelas VIII SMP Islam Hidayatullah Semarang<br>yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan<br>kuesioner dengan skala Likert lima tingkat yang mencakup aspek persepsi manfaat, motivasi<br>dan kepercayaan diri, persepsi risiko, serta sikap terhadap penggunaan AI. Data yang<br>diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif melalui perhitungan nilai rata-rata dan<br>persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap penggunaan AI<br>dalam pembelajaran IPA berada pada kategori cukup hingga baik. Aspek manfaat<br>memperoleh nilai tertinggi yang menunjukkan bahwa AI membantu siswa dalam memahami<br>materi dan konsep yang sulit, sedangkan aspek sikap memperoleh nilai terendah yang<br>menunjukkan bahwa penerimaan siswa terhadap penggunaan AI masih berada pada tahap<br>adaptasi. Selain itu, siswa menunjukkan kesadaran terhadap potensi ketergantungan dalam<br>penggunaan AI, meskipun pemahaman terhadap dampaknya terhadap kemampuan berpikir<br>kritis masih terbatas. Dengan demikian, pemanfaatan AI dalam pembelajaran IPA memiliki<br>potensi yang besar, namun perlu diarahkan secara tepat agar tetap mendukung kemandirian<br>dan kemampuan berpikir kritis siswa.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5563Socioscientific Issues Education: Reorientasi Pembelajaran IPA dalam Mengembangkan Argumentation Skills dan Scientific Literacy Siswa2026-09-24T13:11:31+07:00Putin Sakti Ramadhani[email protected]Fitri Hanifah Helmi[email protected]Cahya Suci Rahayu[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk meneliti peran pendekatan Masalah Sosiolistik (SSI) dalam<br>pengajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) guna meningkatkan kemampuan berargumen<br>dan literasi sains siswa. Latar belakang penelitian ini adalah pembelajaran IPA yang<br>masih dominan mengutamakan hafalan konsep, sehingga tidak cukup mendukung<br>kemampuan berpikir kritis dan berargumentasi secara ilmiah. Metode yang digunakan<br>dalam penelitian ini adalah tinjauan pustaka dengan menganalisis berbagai penelitian<br>yang relevan. Temuan dari kajian ini menunjukkan bahwa penerapan SSI dapat<br>memperbaiki kualitas argumentasi siswa melalui penyusunan klaim, penerapan bukti, dan<br>penalaran yang logis, serta meningkatkan literasi sains dalam memahami hubungan<br>antara sains, teknologi, dan masyarakat. Dengan demikian, SSI menjadi pendekatan<br>pengajaran yang efisien dalam mendukung keterampilan yang diperlukan di abad ke-21.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5564Hubungan Intensitas Penggunaan TikTok Non-Pembelajaran dengan Literasi Digital dan Sains Siswa SMP2026-09-24T13:20:26+07:00Rafid Nafi Kholili[email protected]<p>Penggunaan media sosial TikTok di kalangan siswa SMP cenderung didominasi oleh aktivitas<br>non-pembelajaran yang berpotensi memengaruhi kemampuan literasi siswa. Penelitian ini<br>bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan TikTok non-pembelajaran dengan<br>literasi digital dan literasi sains siswa SMP. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif<br>dengan metode survei. Subjek penelitian berjumlah 30 siswa SMP Islam Hidayatullah Kota<br>Semarang yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan<br>menggunakan angket skala Likert yang terdiri atas 30 butir pernyataan. Analisis data dilakukan<br>menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan<br>bahwa penggunaan TikTok non-pembelajaran berada pada kategori sedang, sedangkan literasi<br>digital dan literasi sains berada pada kategori tinggi. Hasil uji korelasi menunjukkan hubungan<br>positif sangat rendah antara penggunaan TikTok non-pembelajaran dengan literasi digital (ρ =<br>0,231) serta hubungan positif sangat rendah antara penggunaan TikTok non-pembelajaran<br>dengan literasi sains (ρ = 0,041). Kedua hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik<br>karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan<br>TikTok non-pembelajaran bukan menjadi faktor utama yang memengaruhi kemampuan literasi<br>digital dan literasi sains siswa.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5565PROFIL KETERAMPILAN ABAD 21 SISWA KELAS IX SMP KESATRIAN 2 SEMARANG2026-09-24T13:22:19+07:00Rika Yunita Sari[email protected]Aisyahla Daffa Wiyadi[email protected]Fitri Hanifah Helmi[email protected]<p>Penelitian ini dilakukan guna mendeskripsikan profil keterampilan abad ke-21 siswa SMP<br>Kesatrian 2 Semarang yang meliputi aspek learning and innovation skills, information, media,<br>and technology skills, serta life and career skills. Metode yang digunakan dalam penelitian ini<br>adalah deskriptif kuantitatif dengan populasi semua siswa kelas IX SMP Kesatrian 2 Semarang<br>dengan jumlah 37 siswa. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan total<br>sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket keterampilan abad ke-21<br>yang terdiri atas 39 butir pernyataan menggunakan skala Likert. Teknik analisis data yang<br>digunakan adalah deskriptif kuantitatif melalui perhitungan Tingkat Capaian Responden<br>(TCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan abad ke-21 siswa secara keseluruhan<br>memperoleh rata-rata TCR sebesar 80,5% dengan kategori baik. Aspek information, media, and<br>technology skills memperoleh nilai tertinggi sebesar 81,4%, diikuti aspek learning and<br>innovation skills sebesar 80,8% dan life and career skills sebesar 78,7%, yang seluruhnya<br>berada pada kategori baik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik telah memiliki<br>keterampilan abad ke-21 yang baik dalam mendukung proses pembelajaran di era digital,<br>meskipun kemampuan adaptabilitas, kepemimpinan, dan tanggung jawab masih perlu<br>dikembangkan.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5566BEBAN KERJA DAN KELUHAN SISTEM MUSCULOSKELETAL PADA AKTIVITAS PENGELASAN DI UD SAMIASIH2026-09-24T13:25:22+07:00Olivia Suci Fajriati[email protected]Oktafia Nur Ramadhani[email protected]Faiq Nauval Aziz[email protected]Ahmad Saeful Aziz[email protected]Siswiyanti[email protected]<p>Pekerjaan pengelasan yang dilakukan dalam posisi jongkok untuk waktu yang lama<br>dapat memicu masalah musculoskeletal, kelelahan kerja, dan penurunan tingkat produktivitas<br>pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak perbaikan sikap kerja dari posisi<br>jongkok ke posisi duduk di atas dingklik terhadap pengurangan masalah musculoskeletal , kelelahan kerja, dan peningkatan produktivitas pada aktivitas pengelasan. Metode penelitian<br>yang dipakai adalah eksperimen dengan desain subjek yang sama, di mana subjek yang berfungsi sebagai kontrol juga menjadi bagian dari subjek yang diujikan. Penelitian ini melibatkan 10 tukang las dengan menganalisis kondisi kerja sebelum dan setelah perbaikan sikap. Analisa pengukuran yang digunakan untuk pengukuran musculoskeletal menggunakan kuesioner<br>Nordic Body Map, pengukuran kelelahan menggunakan 30 Item Self Rating Questionnaire Industrial Fatigue Research Committee dari Japan Association Of Industrial Health dan untuk<br>pengukuran produktivitas menggunakan rasio denyut yang dihasilkan dibagi dengan jumlah<br>outut selama pengukuran. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan sikap kerja<br>dari jongkok menjadi duduk di dingklik dapat mengurangi keluhan muskuloskeletal dan kelelahan kerja, serta mendongkrak produktivitas. Rata-rata keluhan muskuloskeletal turun sebesar 35,88%, kelelahan kerja menurun hingga 37,99%, dan produktivitas meningkat sekitar 15,38%. Perbaikan cara kerja menggunakan dingklik terbukti lebih ergonomis, sehingga mampu meminimalkan keluhan musculoskeletal, menurunkan tingkat kelelahan kerja,<br>dan meningkatkan produktivitas pekerja.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5567ANALISIS RISIKO EROGONOMI LINGKUNGAN KERJA HAKIM DI KANTOR PENGADILAN NEGERI SAMPANG MENGGUNAKAN METODE ROSA2026-09-24T13:31:37+07:00Siswiyanti[email protected]Kukuh Ary Setiawan[email protected]Mila Mutiara Labibah[email protected]<p>Pekerjaan Hakim di lingkungan peradilan modern ini sebagian besar dilakukan dengan duduk<br>dalam jangka waktu yang cukup lama, dan Hakim dalam posisi kerjanya tidak terlepas dari<br>penggunaan komputer yang intensif. Kondisi ini berpotensi menimbulkan risiko ergonomis jika<br>lingkungan kerja dan fasilitas kerja tidak dirancang sesuai dengan prinsip-prinsip ergonomis.<br>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko ergonomis lingkungan kerja Hakim di Kantor<br>Pengadilan Negeri Sampang menggunakan metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA).<br>Penelitian ini merupakan Penelitian Kuantitatif dengan menggunakan survei deskriptif. Subjek<br>penelitian ini adalah seluruh 8 (delapan) Hakim yang bekerja di Kantor Pengadilan Negeri<br>Sampang, dengan teknik pengambilan sampel total. Pengumpulan data dilakukan melalui<br>observasi langsung terhadap tempat kerja Hakim menggunakan lembar penilaian ROSA yang<br>meliputi penilaian kursi kerja, monitor, keyboard, mouse, dan durasi kerja duduk. Data<br>dianalisis dengan mengelompokkan skor ROSA ke dalam kategori risiko ergonomis. Hasil<br>menunjukkan bahwa semua tempat kerja Hakim memiliki skor ROSA akhir ≥5, dengan rentang<br>skor 6–8, yang termasuk dalam kategori berisiko dan memerlukan tindakan korektif. Faktor<br>utama yang berkontribusi terhadap risiko ergonomis adalah desain kursi kerja yang tidak<br>ergonomis, posisi monitor yang tidak sejajar dengan garis pandang mata, dan duduk dalam<br>waktu lama tanpa ketegangan. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan kerja Hakim di Kantor<br>Pengadilan Negeri Sampang masih memiliki risiko ergonomis yang signifikan, sehingga<br>diperlukan perbaikan fasilitas kerja dan peningkatan pemahaman tentang ergonomi untuk<br>mencegah gangguan muskuloskeletal.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5568ANALISIS RISIKO ERGONOMI PENGANGKUTAN BAWANG MERAH MENGGUNAKAN METODE REBA DI CV BINTANG MUDA2026-09-24T13:34:10+07:00Dhea Citra Ramadhani[email protected]Nandika Valen F[email protected]Chairil Abasa[email protected]Siswiyanti[email protected]Agih F[email protected]<p>Aktivitas pengangkutan bawang merah secara manual di CV Bintang Muda<br>memiliki risiko ergonomi yang dapat menyebabkan gangguan muskuloskeletal pada<br>pekerja. Proses kerja dilakukan dengan posisi tubuh membungkuk, leher menunduk,<br>dan pengangkatan beban secara berulang. Kondisi tersebut meningkatkan risiko<br>kelelahan otot serta cedera kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat risiko<br>ergonomi pekerja menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA).<br>Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan dokumentasi postur<br>kerja pekerja saat proses pengangkutan bawang merah. Penilaian dilakukan dengan<br>menghitung skor grup A, grup B, beban kerja, dan aktivitas otot. Hasil penelitian<br>menunjukkan skor akhir REBA sebesar 7. Nilai tersebut termasuk kategori risiko<br>sedang dan memerlukan tindakan perbaikan kerja. Postur kerja membungkuk serta<br>aktivitas pengangkatan manual menjadi faktor utama peningkatan risiko gangguan<br>muskuloskeletal pada bagian punggung, bahu, dan lengan. Berdasarkan hasil<br>penelitian, aktivitas pengangkutan bawang merah di CV Bintang Muda belum<br>memenuhi prinsip ergonomi kerja yang baik. Perbaikan postur kerja, penggunaan<br>alat bantu material handling, serta pengaturan waktu kerja dan istirahat diperlukan<br>untuk mengurangi risiko cedera kerja dan meningkatkan kenyamanan pekerja.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5569EVALUASI RISIKO GANGGUAN MUSKULOSKELETAL PADA PENJAHIT RUMAHAN MENGGUNAKAN METODE RULA2026-09-24T13:40:08+07:00Faizal Abdul Ghofur[email protected]Eka Linda Setyowati[email protected]M. Basyit Ilmawan[email protected]Kholid Alang Jafar[email protected]Siswiyanti[email protected]<p>Aktivitas menjahit pada industri rumahan memiliki potensi tinggi menimbulkan<br>gangguan muskuloskeletal (Musculoskeletal Disorders/MSDs) karena pekerjaan dilakukan<br>dengan posisi duduk statis, gerakan berulang, serta durasi kerja yang cukup lama. Penelitian ini<br>bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko gangguan muskuloskeletal pada penjahit rumahan<br>menggunakan metode Rapid Upper Limb Assessment (RULA) dan memberikan rekomendasi<br>perbaikan postur kerja yang lebih ergonomis. Penelitian dilaksanakan pada seorang penjahit<br>rumahan di Desa Limbangan, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang yang telah bekerja<br>lebih dari dua tahun. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan dokumentasi<br>foto saat proses menjahit menggunakan mesin jahit manual. Hasil analisis menunjukkan bahwa<br>skor akhir RULA pada penggunaan kursi rendah maupun kursi tinggi memperoleh nilai 4 yang<br>termasuk dalam kategori risiko sedang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa postur kerja yang<br>digunakan belum sesuai dengan prinsip ergonomi sehingga berpotensi menyebabkan keluhan<br>muskuloskeletal apabila dilakukan secara terus-menerus. Bagian tubuh yang paling berisiko<br>mengalami keluhan meliputi leher, punggung, lengan atas, dan pergelangan tangan akibat posisi<br>kerja membungkuk dan aktivitas repetitif. Usulan perbaikan yang diberikan berupa penggunaan<br>kursi ergonomis dengan sandaran punggung, penyesuaian tinggi meja kerja, perbaikan posisi<br>duduk, serta pemberian waktu istirahat secara berkala. Berdasarkan hasil penelitian, metode<br>RULA dinilai efektif untuk mengidentifikasi tingkat risiko postur kerja pada penjahit rumahan<br>sebagai dasar perbaikan ergonomi kerja.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5570Persepsi Siswa SMP terhadap Penggunaan Media Pembelajaran Digital dalam Pembelajaran IPA2026-09-24T13:43:24+07:00Felita Rihhadatul Aisy Malik[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa SMP terhadap penggunaan<br>media pembelajaran digital dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).<br>Perkembangan teknologi digital mendorong penggunaan berbagai media pembelajaran<br>berbasis digital yang diharapkan dapat meningkatkan minat dan pemahaman siswa.<br>Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan teknik<br>pengumpulan data berupa angket. Subjek penelitian adalah siswa SMP yang<br>menggunakan media pembelajaran digital dalam proses belajar IPA. Data dianalisis<br>menggunakan teknik analisis deskriptif dengan menghitung persentase dan rata-rata<br>skor. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah gambaran mengenai persepsi<br>siswa terhadap efektivitas, kemudahan penggunaan, serta daya tarik media<br>pembelajaran digital dalam pembelajaran IPA.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5571Integrasi Learning Management System dalam Mendukung Pembelajaran IPA Mendalam: Kajian Literatur2026-09-24T13:45:03+07:00Ridho Alfath Nur Qolbi[email protected]<p>Perkembangan teknologi digital telah mendorong pemanfaatan Learning Management System<br>(LMS) dalam pembelajaran, termasuk pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang<br>menuntut pemahaman mendalam. Namun, kajian mengenai bagaimana LMS secara spesifik<br>mendukung pembelajaran mendalam (deep learning) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan<br>untuk mengkaji dan mensintesis berbagai hasil penelitian terkait pemanfaatan LMS dalam<br>mendukung pembelajaran IPA yang berorientasi pada deep learning. Penelitian ini<br>menggunakan pendekatan systematic literature review dengan mengacu pada alur PRISMA.<br>Data dikumpulkan melalui basis data Google Scholar menggunakan aplikasi Publish or Perish<br>dengan rentang publikasi tahun 2019 sampai 2025. Dari 200 artikel yang teridentifikasi,<br>diperoleh 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara mendalam. Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa LMS berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman konsep,<br>keterlibatan siswa, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Selain itu, LMS<br>mendukung pembelajaran mendalam melalui proses interaksi, kolaborasi, dan refleksi yang<br>difasilitasi oleh fitur-fitur digital. Namun, efektivitas LMS sangat bergantung pada desain<br>pembelajaran, kompetensi guru, serta dukungan infrastruktur dan literasi digital. Penelitian ini<br>menghasilkan kontribusi baru berupa model konseptual integrasi LMS dalam pembelajaran IPA<br>yang mencakup komponen input, proses, output, dan faktor moderator. Model ini memberikan<br>kerangka sistematis dalam mengoptimalkan LMS sebagai ekosistem pembelajaran yang<br>mendukung deep learning.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5572AJIAN KONSEPTUAL PEMANFAATAN LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR IPA DALAM PENGUATAN LITERASI SAINS2026-09-24T13:49:57+07:00Talitha Belva Agustine[email protected]Aufiya Alkhikni Mufida[email protected]Lista Allmas Nurullayly Putri[email protected]<p>Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di jenjang sekolah menengah pertama masih<br>menghadapi tantangan berupa rendahnya literasi sains siswa akibat penyampaian materi yang<br>abstrak dan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Literasi sains mencakup kemampuan<br>menjelaskan fenomena ilmiah, melakukan inkuiri, dan menginterpretasikan data saintifik.<br>Kajian ini bertujuan untuk menyusun kerangka konseptual pemanfaatan lingkungan sekitar<br>sebagai sumber belajar dalam penguatan literasi sains siswa.Metode yang digunakan adalah<br>studi pustaka melalui penelusuran sistematis terhadap artikel ilmiah pada database Google<br>Scholar, Sinta, Neliti, Garuda, dan Scopus periode 2018–2025. Dari 100 artikel yang<br>teridentifikasi, dipilih 10 artikel utama berdasarkan relevansi terhadap indikator literasi sains.<br>Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan sintesis<br>teoritis.Hasil kajian menunjukkan bahwa lingkungan sekitar berperan sebagai laboratorium<br>alam yang membantu siswa memahami fenomena ilmiah secara kontekstual, melatih<br>keterampilan inkuiri melalui observasi langsung, serta meningkatkan kemampuan interpretasi<br>data saintifik melalui integrasi kearifan lokal. Berdasarkan sintesis literatur tersebut,<br>dirumuskan model konseptual “Eksplorasi Kontekstual” yang mencakup fase sinkronisasi<br>fenomena, eksplorasi terbimbing, diskursus saintifik, dan aksi-refleksi.Kesimpulan penelitian<br>menunjukkan bahwa pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar IPA berpotensi<br>mendukung penguatan literasi sains siswa melalui pengalaman belajar yang lebih kontekstual<br>dan bermakna. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menguji model ini secara eksperimental<br>dengan integrasi teknologi digital dalam pembelajaran IPA.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5573Analisis Kemampuan Literasi Digital Peserta Didik SMP Hidayatullah Semarang Dalam Mendukung Keterampilan Abad ke-212026-09-24T13:52:27+07:00Lista Allmas Nurullayly Putri[email protected]Nur Hidayati[email protected]Aufiya Alkhikni Mufida[email protected]<p>Kemampuan literasi digital merupakan salah satu kompetensi penting dalam mendukung<br>keterampilan abad ke-21 yang harus dimiliki oleh peserta didik SMP seiring dengan pesatnya<br>perkembangan teknologi dan transformasi pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk<br>menganalisis kemampuan literasi digital siswa sebagai pendukung keterampilan abad ke-21 di<br>SMP Hidayatullah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan<br>metode survei. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket berbasis Google Form<br>yang terdiri atas 20 butir pernyataan. Sampel penelitian berjumlah 30 peserta didik yang<br>ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan dengan<br>menghitung nilai rata-rata pada setiap aspek dengan bantuan SPSS, kemudian dikategorikan<br>berdasarkan kriteria penilaian yang telah ditetapkan sesuai interval kemudian dikonversi dalam<br>bentuk presentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan literasi digital Peserta<br>didik berada pada kategori sangat tinggi dengan nilai rata-rata keseluruhan sebesar 3,35 dan<br>jika di konversi ke presentase menjadi 83,75% yang dikategorikan sebagai nilai sangat tinggi.<br>Aspek keamanan dan etika digital memperoleh nilai tertinggi, sedangkan aspek komunikasi dan<br>kreasi konten menunjukkan nilai yang relatif lebih rendah dibandingkan aspek lainnya. Temuan<br>ini mengindikasikan bahwa peserta didik telah memiliki kemampuan literasi digital yang baik<br>sebagai penunjang keterampilan abad ke-21, namun masih diperlukan peningkatan dalam<br>pemanfaatan teknologi untuk komunikasi dan pengembangan konten digital.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5574MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI: STRATEGI MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA SMP2026-09-24T13:55:03+07:00Deva Bagas Putra Sulistyo[email protected]<p>Pembelajaran IPA sangat penting dalam menghasilkan siswa yang berkualitas, terkait<br>dengan hakikat IPA (sains). Dalam proses pembelajaran, kita harus memandang IPA tidak<br>hanya sebagai produk seperti fakta, konsep, teori, atau hukum, tetapi juga sebagai keterampilan<br>dan sikap ilmiah. Penguasaan keterampilan proses sains (KPS) jauh lebih krusial<br>dibandingkan hanya menghafal, karena KPS memberi kesempatan bagi siswa untuk<br>menemukan dan mengembangkan fakta serta konsep, sambil membangun sikap dan nilai<br>melalui pengalaman yang mereka alami. KPS adalah kompetensi dasar yang menjadi<br>penggerak utama dalam mendukung penemuan, pengembangan, dan penguasaan konsep<br>sains oleh siswa. Namun pada kenyataannya, berdasarkan wawancara dengan guru, KPS<br>siswa kelas delapan masih tergolong rendah. guru telah menerapkan pembelajaran yang<br>berpusat pada siswa. guru sudah Menerapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang<br>sesuai dengan model pembelajaran Masalah ini menyebabkan siswa kesulitan dalam<br>mengembangkan keterampilan proses sains mereka, sehingga diperlukan solusi untuk<br>mengatasi hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji berbagai literatur mengenai<br>model inkuiri terbimbing sebagai solusi untuk meningkatkan keterampilan proses sains<br>siswa di salah satu SMP Negeri di Semarang. Metode yang digunakan adalah studi literatur,<br>dan berdasarkan hasilnya, diperlukan tindakan untuk mengatasi masalah ini dengan<br>menerapkan model pembelajaran inkuiri.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5575Identifikasi Miskonsepsi Siswa SMP Islam Hidayatullah pada Materi Zat dan Perubahannya Menggunakan Three-Tier Test2026-09-24T13:56:39+07:00Muhammad Adi Umar Sadid[email protected]<p>Penelitian ini didasari oleh tingginya miskonsepsi siswa yang dapat memengaruhi pemahaman<br>konsep IPA secara ilmiah. Materi zat dan perubahannya merupakan salah satu konsep dasar<br>IPA SMP yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, namun masih banyak<br>menimbulkan kesalahan pemahaman pada siswa, terutama terkait perubahan wujud zat, gerak<br>partikel, serta sifat gas. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis profil miskonsepsi siswa SMP<br>Islam Hidayatullah pada materi zat dan perubahannya menggunakan instrumen three-tier test.<br>Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan sampel sebanyak 30 siswa kelas<br>VII yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Instrumen penelitian berupa<br>three-tier test yang terdiri atas pertanyaan pilihan ganda, alasan jawaban, dan tingkat keyakinan<br>siswa. Data siswa diklasifikasikan ke dalam kategori paham konsep, tidak paham konsep, dan<br>miskonsepsi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kategori tidak paham konsep masih<br>mendominasi pada sebagian besar soal, sedangkan miskonsepsi tertinggi ditemukan pada<br>submateri perubahan fase cair–gas dengan persentase mencapai 40,0% pada salah satu soal.<br>Beberapa miskonsepsi yang ditemukan antara lain siswa menganggap partikel zat membesar<br>saat dipanaskan, gas tidak memiliki massa, penguapan hanya terjadi ketika mendidih, serta air<br>mendidih terurai menjadi hidrogen dan oksigen. Pola jawaban siswa menunjukkan bahwa<br>sebagian besar siswa masih memahami konsep berdasarkan pengalaman sehari-hari tanpa<br>mampu menjelaskan proses partikel secara ilmiah. Temuan penelitian ini menunjukkan<br>perlunya strategi pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan berbasis visualisasi untuk<br>membantu siswa memahami konsep zat dan perubahannya secara lebih tepat.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5576SELEKSI DAN KARAKTERISASI ENZIM SELULASE DAN MANANASE BAKTERI PROBIOTIK (Bacillus sp.)2026-09-24T13:58:19+07:00Sumardi[email protected]Vivin Stevani[email protected]Jeni Ayu Maulika[email protected]Salman Farisi[email protected]Kusuma Handayani[email protected]Gregorius Nugroho Susanto[email protected]<p>Bakteri probiotik adalah mikroba hidup yang bermanfaat. Bakteri probiotik dapat<br>menyeimbangkan jumlah mikroba dalam saluran pencernaan dan menekan jumlah patogen.<br>Probiotik dapat meningkatkan respon imun terhadap inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk<br>menyeleksi dan mengkarakterisasi enzim selulase dan mananase dari bakteri Bacillus sp. Hasil<br>penelitian ini menunjukkan bahwa Bacillus sp. dengan kode IBK 3 mampu menghasilkan<br>enzim selulase dan enzim mananase. Aktivitas enzim selulase dan enzim mananase secara<br>kuantitatif ditentukan dengan metode DNS. Aktivitas enzim selulase dan mananase diuji<br>dalam rentang suhu 30 oC, 40 oC, 50 oC dan 60 oC serta rentang pH 4, 5, 6, 7, 8, dan 9. Aktivitas<br>enzim selulase dan enzim mananase yang diproduksi oleh Bacillus sp. memiliki karakteristik<br>yang sama yaitu pada suhu 50 oC dan pH 5. Bakteri probiotik memiliki aktivitas enzim<br>selulase sebesar 0,028 U/ml dan enzim mananase sebesar 0,225 U/ml. Hal ini menandakan<br>bahwa setiap mL larutan enzim mampu mengubah 0,028 mikromol substrat per menit pada<br>enzim selulase dan 0.225 mikromol pada enzim mananase.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5577ANALISIS VALIDASI INSTRUMEN ASESMEN KETERAMPILAN PROBLEM SOLVING DALAM MODEL PEMBELAJARAN LAPS-HEURISTIK SISWA SMP2026-09-24T14:01:44+07:00Belva Alisha Hasna[email protected]Norma Eralita[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis validitas instrumen soal keterampilan problem<br>solving pada materi suhu dan kalor yang dikembangkan untuk model LAPS-Heuristik.<br>Instrumen yang divalidasi berupa 20 butir soal pilihan ganda yang dirancang untuk mengukur<br>empat indikator keterampilan problem solving, yaitu memahami masalah, merencanakan<br>pemecahan, melaksanakan rencana, dan memeriksa kembali hasil. Validasi dilakukan oleh tiga<br>validator yang terdiri atas ahli materi suhu dan kalor, praktisi pembelajaran IPA SMP, serta ahli<br>pengembangan instrumen asesmen. Data dianalisis menggunakan indeks Aiken V untuk<br>mengukur validitas setiap butir soal, dilanjutkan dengan analisis deskriptif terhadap saran<br>perbaikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh 20 butir soal memiliki indeks Aiken V<br>pada rentang 0,89 hingga 1,00 dengan kategori validitas tinggi. Rata-rata skor per aspek<br>penilaian berkisar antara 3,93 hingga 4,00 dari skala 4. Dua validator memberikan penilaian<br>umum "dapat digunakan dengan sedikit revisi", sedangkan satu validator menyatakan "dapat<br>digunakan tanpa revisi". Saran perbaikan yang diberikan validator meliputi penyempurnaan<br>label skala pada gambar termometer, penyederhanaan redaksi soal. Simpulan penelitian ini<br>adalah instrumen soal keterampilan problem solving pada materi suhu dan kalor untuk model<br>LAPS-Heuristik dinyatakan valid dan layak digunakan setelah dilakukan revisi minor sesuai<br>saran validator.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5578Identifikasi Potensi Akumulasi Air Menggunakan Topographic Wetness Index sebagai Informasi Pendukung Mitigasi Longsor di Desa Peron, Kendal2026-09-24T14:03:22+07:00Fauzi Helmi Romadhon[email protected]Fauzan Febriyanto[email protected]Deffa Maulidan[email protected]Halfidz Defrians Krisnanda[email protected]Akbar Rasya Pramudian[email protected]Abdul Jabbar[email protected]Trida Ridho Fariz[email protected]<p>Keberadaan air yang terakumulasi pada lereng merupakan salah satu faktor yang dapat<br>menurunkan kestabilan tanah dan meningkatkan potensi terjadinya longsor. Desa Peron,<br>Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal merupakan wilayah perbukitan yang memiliki<br>riwayat kejadian longsor, namun informasi mengenai indikasi potensi akumulasi air<br>berdasarkan karakteristik topografi di wilayah tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan<br>menganalisis distribusi spasial indikasi potensi akumulasi air menggunakan pendekatan<br>Topographic Wetness Index (TWI) berbasis Sistem Informasi Geografis sebagai informasi<br>awal dalam mendukung mitigasi longsor. Data yang digunakan berupa Digital Elevation<br>Model Nasional (DEMNAS) yang diolah menggunakan ArcGIS 10.8 melalui tahapan<br>perhitungan kemiringan lereng, arah aliran, akumulasi aliran, dan nilai TWI. Hasil analisis<br>menunjukkan bahwa nilai TWI di Desa Peron berada pada rentang -0,09975 hingga 20,7743<br>dengan enam kelas kelembapan topografis. Wilayah dengan nilai TWI tinggi menunjukkan<br>indikasi kecenderungan akumulasi air yang lebih besar berdasarkan kondisi topografi,<br>sedangkan nilai TWI rendah menunjukkan kecenderungan drainase yang lebih baik. Hasil<br>penelitian menunjukkan bahwa TWI dapat memberikan indikasi spasial mengenai<br>kecenderungan potensi akumulasi air, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai informasi<br>pendukung dalam mitigasi longsor. Hasil ini tidak menunjukkan kondisi akumulasi air aktual,<br>sehingga diperlukan validasi lapangan dan integrasi dengan faktor pengontrol longsor lainnya<br>untuk menghasilkan informasi yang lebih komprehensif.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5579ANALISIS VEGETASI POHON DALAM MENDUKUNG MITIGASI TANAH LONGSOR DI KAWASAN WISATA WATU SUMONG, DESA PERON2026-09-24T14:06:56+07:00Inayatul Isnaeni[email protected]Muhammad Umar Al Faruq[email protected]Fauzi Helmi Romadon[email protected]Arham Ade Ahmad[email protected]Sabrina Fatmawati[email protected]<p>Tanah longsor merupakan salah satu bencana geologi yang dipengaruhi oleh kondisi topografi,<br>curah hujan, dan karakteristik vegetasi penutup lahan. Penelitian ini bertujuan menganalisis<br>komposisi, struktur, dan keanekaragaman vegetasi pohon pada kawasan rawan longsor di<br>Wisata Watu Sumong, Desa Peron, Kabupaten Kendal, serta mengkaji potensinya dalam<br>mendukung upaya mitigasi tanah longsor. Penelitian menggunakan metode deskriptif<br>kuantitatif dengan pendekatan survei lapangan melalui metode jelajah pada tiga stasiun<br>pengamatan yang ditentukan secara purposive berdasarkan tingkat kerawanan longsor, kondisi<br>topografi, dan tutupan vegetasi. Data dianalisis menggunakan parameter kerapatan, frekuensi,<br>dominansi, Indeks Nilai Penting, Indeks Shannon-Wiener, Indeks Kemerataan, dan Indeks<br>Margalef. Hasil penelitian menginventarisasi 20 spesies pohon dengan total 83 individu.<br>Sengon (Falcataria moluccana) merupakan spesies dominan pada seluruh stasiun dengan<br>Indeks Nilai Penting sebesar 29.36% pada Stasiun 1, 62,56% pada Stasiun 2, dan 32,26% pada<br>Stasiun 3. Nilai Indeks Shannon-Wiener berturut-turut sebesar 2,318; 1,183; dan 1,766,<br>sedangkan secara gabungan kawasan memiliki nilai 2,26, Indeks Kemerataan sebesar 0,75, dan<br>Indeks Margalef sebesar 4,31. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kawasan penelitian memiliki<br>tingkat keanekaragaman sedang dengan kemerataan yang tinggi, namun Stasiun 2 mengalami<br>dominansi vegetasi yang tinggi dan keanekaragaman rendah sehingga berpotensi mengurangi<br>efektivitas fungsi vegetasi dalam mitigasi longsor. Oleh karena itu, pengayaan jenis pohon<br>dengan karakteristik perakaran yang beragam diperlukan untuk meningkatkan stabilitas lereng<br>dan memperkuat fungsi mitigasi bencana tanah longsor secara berkelanjutan.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5580TRANSFORMASI PENDIDIKAN IPA BERORIENTASI EDUCATION FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT (ESD) UNTUK PENGUATAN LITERASI KEBENCANAAN2026-09-24T14:10:18+07:00Muhamad Taufiq[email protected]<p>Perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan meningkatnya frekuensi bencana telah<br>menciptakan tantangan baru bagi sistem pendidikan, khususnya pendidikan IPA. Kondisi<br>Indonesia sebagai negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi menuntut<br>transformasi pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan konsep sains, tetapi<br>juga mampu membangun literasi kebencanaan peserta didik. Artikel konseptual ini bertujuan<br>mengkaji urgensi transformasi pendidikan IPA melalui pendekatan Education for Sustainable<br>Development (ESD) sebagai landasan penguatan literasi kebencanaan. Kajian dilakukan<br>melalui analisis konseptual terhadap isu perubahan iklim, kebencanaan, kompetensi abad ke-<br>21, prinsip-prinsip ESD, serta berbagai praktik pembelajaran IPA yang relevan. Hasil kajian<br>menunjukkan bahwa integrasi ESD dalam pendidikan IPA mampu mengembangkan<br>kompetensi berpikir sistemik, antisipatif, berpikir kritis, kolaborasi, literasi lingkungan, dan<br>literasi kebencanaan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan global. Implementasi dapat<br>diwujudkan melalui pembelajaran berbasis fenomena, socio-scientific issues, problem-based<br>learning, project-based learning, serta pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan artifisial<br>untuk simulasi, analisis data lingkungan, dan pembelajaran adaptif. Keberhasilan transformasi<br>tersebut memerlukan dukungan kolaborasi antara pemerintah, sekolah, perguruan tinggi,<br>industri, dan masyarakat. Dengan demikian, pendidikan IPA berorientasi ESD menjadi strategi<br>penting untuk membentuk generasi yang memiliki ketahanan terhadap bencana, berwawasan<br>lingkungan, dan mampu berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5581Kontribusi Self-Regulation dan Self-Efficacy terhadap Capaian Akademik IPA Peserta Didik SMP: Studi Empiris dengan Analisis Regresi2026-09-24T14:11:37+07:00Salsabila Nurlaila[email protected]Rizki Nor Amelia[email protected]<p>Rendahnya capaian akademik IPA pada jenjang SMP tidak hanya dipengaruhi oleh faktor<br>pembelajaran, tetapi juga oleh karakteristik psikologis peserta didik. Penelitian ini bertujuan<br>menganalisis kontribusi self-regulation dan self-efficacy terhadap capaian akademik siswa<br>pada materi Ekologi dan Keanekaragaman Hayati. Penelitian menggunakan pendekatan<br>kuantitatif dengan desain non-eksperimental cross-sectional, melibatkan 165 siswa kelas VII<br>yang dipilih melalui cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan tes<br>yang telah valid dan reliabel. Hasil analisis menggunakan Multiple Linear Regression<br>menunjukkan bahwa self-regulation berkontribusi sebesar 3,6%, self-efficacy 4,7%, dan<br>secara simultan 5,4% terhadap capaian akademik (p<0,05). Meskipun signifikan, kontribusi<br>tersebut relatif kecil sehingga capaian akademik lebih dipengaruhi oleh faktor lain di luar<br>model. Implikasi penelitian menekankan penguatan regulasi diri berbasis metakognitif dan<br>pengembangan self-efficacy melalui pengalaman belajar terstruktur. Penelitian selanjutnya<br>perlu memasukkan variabel kognitif dan kontekstual agar model lebih mampu menjelaskan<br>variasi capaian akademik.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5582Tingkat Pengetahuan Awal Masyarakat tentang Mitigasi Bencana Tanah Longsor di Desa Peron, Kabupaten Kendal2026-09-24T14:14:41+07:00Nadhifah Kultsum Khairunnisa[email protected]Rameyza Elya Achmad[email protected]Anindita Nasywa Prasyanti[email protected]Akbar Rasya Pramudian[email protected]<p>Tanah longsor merupakan salah satu bencana yang paling sering terjadi di wilayah<br>pegunungan Indonesia, termasuk di Desa Peron, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal,<br>yang terletak di lereng Gunung Ungaran dan memiliki riwayat kejadian longsor berulang.<br>Pengetahuan masyarakat tentang mitigasi bencana tanah longsor menjadi faktor penting dalam<br>upaya pengurangan risiko bencana, namun data mengenai kondisi pengetahuan awal<br>masyarakat di wilayah ini masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui<br>gambaran tingkat pengetahuan awal masyarakat Desa Peron tentang mitigasi bencana tanah<br>longsor sebagai data dasar (baseline) sebelum pelaksanaan program mitigasi bencana berbasis<br>masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan sampel<br>sebanyak 120 responden yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling pada kegiatan<br>pembukaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM<br>FMIPA Universitas Negeri Semarang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pretest<br>berupa 10 soal pilihan ganda yang telah diuji reliabilitasnya (Cronbach's Alpha = 0,809) dan<br>dianalisis secara deskriptif menggunakan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan<br>bahwa lebih dari separuh responden (55,0%) memiliki tingkat pengetahuan pada kategori<br>kurang, sedangkan 30,8% berada pada kategori baik dan 14,2% pada kategori cukup, dengan<br>rata-rata skor pengetahuan sebesar 60,17 (skala 0–100). Proporsi jawaban benar pada seluruh<br>butir soal relatif merata (57,0%–65,0%). Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat<br>pengetahuan awal masyarakat Desa Peron tentang mitigasi bencana tanah longsor masih<br>tergolong rendah, sehingga diperlukan program edukasi yang komprehensif dan berkelanjutan<br>sebagai tindak lanjut dari hasil pemetaan ini.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5583Pengembangan Instrumen Literasi Lingkungan untuk Pendidikan Pengelolaan Sampah di Sekolah Polisi Negara (SPN)2026-09-24T14:17:23+07:00Mujais Apling[email protected]<p>Literasi lingkungan merupakan kompetensi kunci dalam mendukung perilaku berkelanjutan,<br>khususnya di lembaga pendidikan kepolisian yang menekankan disiplin, tanggung jawab, dan<br>ketertiban sosial. Namun, instrumen literasi lingkungan yang tersedia umumnya bersifat umum<br>dan belum dikembangkan secara kontekstual untuk pendidikan pengelolaan sampah di lembaga<br>pendidikan kepolisian. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan dan memvalidasi instrumen<br>literasi lingkungan yang relevan dengan karakteristik pendidikan dan pengembangan di<br>lembaga kepolisian. Studi ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan dengan<br>mengadaptasi model Borg dan Gall, yang meliputi studi pendahuluan, perencanaan,<br>pengembangan produk, validasi ahli, uji coba lapangan pendahuluan dan utama, serta revisi<br>produk. Subjek penelitian adalah mahasiswa di lembaga pendidikan kepolisian yang dipilih<br>menggunakan pengambilan sampel acak bert stratified proporsional. Instrumen dikembangkan<br>berdasarkan empat dimensi literasi lingkungan: pengetahuan dan kesadaran lingkungan, sikap<br>dan sensitivitas lingkungan, keterampilan dan tindakan kognitif, dan perilaku pro-lingkungan.<br>Hasil analisis menunjukkan bahwa semua indikator memiliki validitas isi dan validitas<br>konstruk yang kuat, serta reliabilitas yang sangat tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa<br>instrumen yang dikembangkan valid, reliabel, dan kontekstual, sehingga cocok digunakan<br>sebagai alat untuk mengevaluasi dan mengembangkan program pengelolaan sampah dan<br>pendidikan lingkungan berkelanjutan di lembaga pendidikan kepolisian.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5584Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Fisika: Systematic Literature Review2026-09-24T14:19:30+07:00Adinda Rosi Felicia[email protected]Achmad Nur Rochim[email protected]Putri Bunga Aisyah Pohan[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran<br>fisika serta kontribusinya terhadap pengembangan keterampilan abad ke-21 peserta didik.<br>Penelitian menggunakan metode tinjauan literatur sistematis terhadap berbagai artikel ilmiah<br>dan laporan penelitian yang membahas implementasi Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran<br>fisika di berbagai jenjang pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka<br>memberikan peluang penguatan keterampilan proses sains dan keterampilan abad ke-21<br>(berpikir kritis, kreatif, kolaborasi, dan komunikasi) melalui pembelajaran berbasis proyek,<br>pembelajaran kolaboratif, serta integrasi pendekatan inovatif seperti Project Based<br>Learning, Problem Based Learning, pembelajaran berbasis pengalaman, dan STEAM. Namun<br>demikian, implementasi di lapangan belum sepenuhnya optimal. Banyak guru fisika masih<br>mengalami kesulitan dalam menyusun perangkat ajar yang selaras dengan capaian<br>pembelajaran, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, serta merancang dan memanfaatkan<br>asesmen diagnostik dan formatif secara efektif, diperparah oleh keterbatasan sarana dan<br>dukungan pembelajaran. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan kompetensi guru dan<br>penyediaan sumber daya pendukung, serta kajian lanjutan yang lebih komprehensif untuk<br>memetakan praktik implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran fisika dan<br>dampaknya terhadap pengembangan kompetensi abad ke-21 peserta didik.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5585POTENSI MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF NEARPOD PADA PEMBELAJARAN SAINS: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW2026-09-24T14:21:46+07:00Ulfah Aini[email protected]<p>Kajian ini bertujuan menganalisis potensi media pembelajaran interaktif Nearpod dalam<br>pembelajaran IPA di jenjang SMP melalui tinjauan literatur sistematis. Metode penelitian<br>mengikuti diagram PRISMA dengan pencarian literatur melalui database Google Scholar, Open<br>Alex, Semantic, Crossref, dan PubMed. Analisis dilakukan terhadap 12 artikel relevan terbitan<br>tahun 2020-2025 yang memenuhi kriteria inklusi. Temuan menunjukkan bahwa Nearpod<br>efektif meningkatkan keterampilan abad 21 peserta didik, khususnya dalam kemampuan<br>berpikir kritis (29% penelitian), pemahaman konsep (14%), hasil belajar kognitif (22%), dan<br>keterampilan proses sains (14%). Studi ini mengidentifikasi bahwa fitur-fitur interaktif<br>Nearpod, seperti umpan balik real-time dan alat kolaboratif, secara sistematis mendukung<br>keterampilan berpikir tingkat tinggi. Namun, masih terdapat kesenjangan penelitian dalam<br>mengeksplorasi kompetensi abad 21 lainnya seperti kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas.<br>Tinjauan ini memberikan rekomendasi berbasis bukti untuk optimalisasi implementasi Nearpod<br>dalam pembelajaran IPA serta arahan penelitian lanjutan untuk pengembangan kompetensi<br>yang lebih komprehensif.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5586KIMIA DALAM KULINER KHAS CIREBON: REKONSTRUKSI PENGETAHUAN LOKAL MENJADI KONSEP KIMIA SEBAGAI PEMBELAJRAN KONTEKSTUAL2026-09-24T14:23:23+07:00Fatimah Khoirunisa[email protected]Woro Sumarni[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan merekonstruksi etnokimia pada kuliner khas<br>Cirebon sebagai sumber pembelajaran kimia kontekstual. Kuliner yang dikaji meliputi nasi<br>jamblang, empal gentong, tahu gejrot, dan tape ketan. Penelitian menggunakan pendekatan<br>deskriptif kualitatif dengan desain etnografi melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan<br>studi literatur. Data yang diperoleh dianalisis dan direkonstruksi menjadi konsep ilmiah kimia.<br>Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pengolahan kuliner khas Cirebon mengandung<br>berbagai konsep kimia, seperti gelatinisasi pati, denaturasi protein, sistem koloid, reaksi<br>oksidasi-reduksi, fermentasi, laju reaksi, termokimia, koagulasi protein, dan reaksi Maillard.<br>Integrasi konsep-konsep tersebut ke dalam pembelajaran kimia dapat meningkatkan<br>pemahaman peserta didik karena bersifat kontekstual dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.<br>Penelitian ini memberikan alternatif sumber belajar berbasis kearifan lokal yang mendukung<br>implementasi Kurikulum Merdeka.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026 https://proceeding.unnes.ac.id/snipa/article/view/5587Apakah Validitas Desain Berimplikasi Pada Kepraktisan Dan Keefektifan? Bukti Dari Model Pembelajaran Berorientasi ESD dalam Pendidikan IPA2026-09-24T14:25:20+07:00Fery Hermanto[email protected]Hartono[email protected]Sutikno[email protected]Arif Widiyatmoko[email protected]<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi validitas desain terhadap kepraktisan dan<br>keefektifan model pembelajaran IPA yang berorientasi pada Education for Sustainable Development<br>(ESD). Menggunakan pendekatan design and development research (DDR) dengan desain metode<br>campuran (mixed methods), penelitian ini mengevaluasi kualitas model melalui validasi ahli, analisis<br>implementasi, dan penilaian dampak. Hasil validasi mengkategorikan validitas desain sebagai "Sangat<br>Tinggi", memberikan landasan yang kuat untuk sintaks instruksionalnya. Analisis kepraktisan<br>mengungkapkan bahwa keterlaksanaan proses pembelajaran, aktivitas guru dan siswa, serta respon guru<br>seluruhnya berada dalam kategori "Sangat Baik", yang mengindikasikan tingginya keterterimaan dan<br>kemudahan adopsi dalam setting kelas nyata. Lebih lanjut, keefektifan model dibuktikan oleh<br>peningkatan signifikan pada skor literasi lingkungan siswa (p < 0,05), dengan perolehan N-gain<br>berkategori sedang-ke-tinggi dan ukuran efek (effect size) yang besar (Cohen’s d = 0,91). Analisis<br>fenomenologis melengkapi temuan kuantitatif ini dengan mengungkap adanya "transisi epistemologis"<br>yang mendalam pada diri siswa, yang mewujud dalam transformasi pemahaman ekologis, peningkatan<br>kesadaran lingkungan, penguatan kapasitas reflektif, serta perbaikan keterampilan pengambilan<br>keputusan yang berkelanjutan. Integrasi dari temuan-temuan ini menunjukkan bahwa meskipun validitas<br>desain tidak secara langsung menjamin keefektifan pembelajaran, validitas berfungsi sebagai katalis<br>penting melalui mediasi implementasi yang praktis dan partisipatif. Pada akhirnya, penelitian ini<br>memperkuat keterkaitan konseptual antara validitas, kepraktisan, dan keefektifan dalam lanskap<br>penelitian pengembangan pendidikan yang berorientasi pada keberlanjutan.</p>2026-09-24T00:00:00+07:00Copyright (c) 2026